Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mongkrang, Bukit Populer yang Menyimpan Diam dan Tanda Tanya

by Anisa
Januari 31, 2026
in Deep
A A
Home Deep

Tabooo.id: Deep – Kabut turun pelan di lereng Gunung Lawu. Pagi itu, Bukit Mongkrang tampak biasa saja. Di jalur tanah, embun masih menempel, sementara ilalang bergoyang ringan tertiup angin. Namun demikian, di balik ketenangan itu, sesuatu terasa tertahan seperti napas yang belum sepenuhnya dilepaskan.

“Anak itu belum ditemukan,” ucap seorang warga lirih.

Nama Yazid Ahmad Firdaus, 26 tahun, pendaki asal Colomadu, Karanganyar, menggantung di udara hampir dua pekan lamanya. Sejak itu, tim SAR terus naik-turun menyusuri jalur. Media pun datang silih berganti. Meski aktivitas manusia terus bergerak, bukit ini tetap berdiri diam, seolah menyimpan sesuatu yang tak semua orang sanggup lihat.

Pada titik inilah Mongkrang memperlihatkan wajah aslinya. Ia bukan sekadar jalur pendakian, melainkan ruang yang memaksa manusia berhenti merasa paling berkuasa.


Bukit Populer, Risiko yang Ikut Membesar

Secara geografis, Bukit Mongkrang berada di Dusun Tlogodringo, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya melesat cepat. Jalurnya singkat, medannya terbuka, dan Gunung Lawu berdiri gagah sebagai latar yang menggoda kamera.

Ini Belum Selesai

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggeledahan Ponpes, Ini Kronologi Lengkapnya

Kenduri Dawet: Etika Masyarakat Jatinom dalam Merawat Alam

Karena itu, setiap akhir pekan, hingga 1.500 orang naik dan turun dalam sehari. Sebagian datang tanpa rencana matang. Ada yang berangkat pagi lalu pulang sore. Ada pula yang mengejar matahari terbit, sementara lainnya sekadar berburu konten.

Namun, ketika wisata alam bergerak cepat, sistem justru tertinggal. Pendataan pendaki masih minim. Edukasi keselamatan tak selalu sampai. Pada saat yang sama, nilai budaya perlahan tersisih dari percakapan.

Akibatnya, ketika satu orang hilang, Mongkrang mendadak berubah. Ia tak lagi sekadar destinasi, melainkan cermin yang memantulkan banyak kelalaian manusia.


Antara Jalur Pendakian dan Jalur Keyakinan

Bagi masyarakat setempat, Mongkrang bukan ruang kosong.

Amran Guaning Marzuki, Kepala Dusun Tlogodringo, menyebut nama Mongkrang telah hidup lama dalam cerita turun-temurun. Di benak warga, bukit ini dipercaya sebagai tempat singgah para dewa ruang sakral yang sejak dahulu diperlakukan dengan kehati-hatian.

“Cerita itu sudah ada sejak orang tua dulu,” kata Amran.

Lebih jauh, legenda Mongkrang juga terhubung dengan Sunan Lawu, pengawal Brawijaya V dalam kisah Jawa. Warga meyakini prajurit penjaga kawasan ini masih “hadir” secara simbolik. Mereka menjaga keseimbangan, bukan mengganggu.

Selain itu, di sekitar bukit, warga mengenal Candi I dan Candi II, Kiai Gadung Awuk, serta Tapak Nogo jejak naga yang melambangkan perlindungan alam. Seluruh kisah ini membentuk satu cara pandang: membaca alam dengan rasa hormat, bukan sekadar menaklukkannya.


Manusia Datang dengan Langkah Cepat

Sementara itu, pendaki modern datang dengan sepatu mahal dan ponsel di tangan. Mereka menapaki jalur yang sama, tetapi membawa cara pandang berbeda.

Sebagian berbicara keras. Yang lain bercanda berlebihan. Ada yang menganggap Mongkrang hanya bukit kecil. Tak sedikit pula yang lupa memberi salam, bahkan kepada alam.

Hingga kini, tak ada ritual pembuka. Tak pernah ada doa bersama. Momen meminta izin secara budaya pun nyaris tak dikenal.

“Secara adat, memang belum pernah ada,” ujar Amran.

Bukit terus dimanfaatkan. Jalur dibuka. Tiket dijual. Namun, dialog dengan nilai lokal nyaris tak terjadi. Oleh karena itu, ketika Yazid hilang, pertanyaan pun muncul: salah jalur, atau salah sikap?


Ketegangan di Tengah Pencarian

Pencarian Yazid melampaui operasi teknis semata. Ia berubah menjadi drama sunyi yang menguras emosi banyak pihak.

Keluarga menunggu kabar dengan cemas. Relawan menyusuri semak tanpa lelah. Di sisi lain, warga memandang bukit dengan rasa khawatir lama yang kembali bangkit.

Setiap langkah terasa berat. Bukan hanya karena medan, melainkan juga karena perasaan ganjil yang sulit dijelaskan. Di warung-warung kecil, warga memilih berbicara pelan. Mereka tak ingin menyalahkan siapa pun, tetapi tetap merasa ada yang terlewat.

Bukan alat.
Bukan tenaga.
Melainkan rasa hormat.


Apa yang Disembunyikan Sistem?

Di titik ini, Tabooo berhenti sejenak.

Selama ini, kita kerap menyederhanakan tragedi alam sebagai kelalaian individu. Padahal, sistem bekerja diam-diam di baliknya. Wisata alam terus didorong sebagai komoditas. Pendakian dipromosikan sebagai gaya hidup. Sementara itu, nilai lokal kerap dipinggirkan karena dianggap tak relevan atau terlalu tradisional.

Padahal, nilai itu bukan penghalang. Justru di sanalah pagar berdiri.

Ritual bukan soal klenik. Ia berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menanamkan kehati-hatian. Doa bersama bukan sekadar simbol, melainkan pengingat bahwa manusia hanyalah tamu.

Ketika sistem hanya sibuk menghitung angka kunjungan dan unggahan media sosial, siapa yang masih mengingatkan manusia untuk menundukkan kepala?


Alam Tidak Pernah Benar-Benar Diam

Karena itulah, Amran mendorong satu langkah sederhana: ritual tahunan. Warga duduk bersama, memilih hari baik, lalu berdoa dan menghormati.

Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menjaga keseimbangan.

“Alam itu bukan hanya milik manusia,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di tengah zaman serba cepat, ia justru terasa radikal.

Pelan-pelan, Bukit Mongkrang mengajarkan satu hal: keindahan tanpa rasa hormat hanya melahirkan kesombongan.


Pertanyaan yang Tertinggal

Yazid mungkin akan ditemukan cepat atau lambat, dengan jawaban atau tanpa.

Namun setelah itu, apa yang benar-benar berubah?

Apakah Mongkrang hanya akan kembali menjadi latar foto semata?
Ataukah manusia mulai belajar mendengar cerita yang lebih tua dari peta digital?

Bukit itu masih di sana.
Sunyi, tegak, menunggu.

Kini pertanyaannya tinggal satu:
apakah manusia siap belajar berjalan lebih pelan?

Tabooo.id DEEP/red.

Tags: gunungGunung LawuJawa TengahKaranganyarMisteripendakipendakian

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Gunung Lawu Tembus 490 Hektare, Medan Curam Hambat Pemadaman

Karhutla Gunung Lawu Tembus 490 Hektare, Medan Curam Hambat Pemadaman

by dimas
Oktober 24, 2026

Karhutla Gunung Lawu mencapai 490 hektare. Medan terjal, kabut asap, dan angin tak menentu menghambat petugas menjangkau titik api dan...

Karhutla Gunung Sumbing Meluas, Api Mengancam Hutan dan Permukiman

Karhutla Gunung Sumbing Meluas, Api Mengancam Hutan dan Permukiman

by dimas
Oktober 21, 2026

Karhutla Gunung Sumbing meluas hingga 306 hektare. Petugas terus memadamkan api yang mengancam hutan pinus, lahan pertanian, dan permukiman warga...

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

by dimas
Oktober 16, 2026

De Tjolomadoe di Karanganyar bertransformasi dari pabrik gula bersejarah menjadi ruang wisata, museum, dan pelestarian jejak kejayaan industri gula Mangkunegaran....

Next Post
Jokowi di Rakernas PSI: Saya Akan Bekerja Mati-matian untuk PSI

Rakernas PSI: Jokowi Tekankan Mesin Partai Harus Besar dan Hidup

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id