Tabooo.id: Entertainment – Pernah kepikiran nggak, kenapa film horor Indonesia selalu kelihatan paling niat kalau sudah urusan tanggal keramat? Malam Jumat Kliwon, kuburan tua, rumah kosong dan tentu saja satu suro. Lewat Sengkolo Petaka Satu Suro, tanggal sakral itu tidak lagi sekadar tradisi. Ia berubah jadi alarm bahaya massal. Desa pesisir yang awalnya adem ayem mendadak terasa seperti antrean menuju petaka.
Rasa tenang hanya bertahan sebentar. Setelah itu, kekacauan datang bergiliran.
Desa Pesisir yang Pelan-Pelan Kehilangan Damai
Cerita dibuka dari kehidupan desa yang tampak biasa. Warganya saling kenal. Rutinitas berjalan normal. Laut berisik, angin asin, dan obrolan ringan jadi musik latar keseharian. Namun, menjelang malam satu Suro, gangguan supranatural mulai muncul tanpa permisi.
Awalnya cuma bisik-bisik aneh. Tak lama kemudian, penampakan ikut menyusul. Hingga akhirnya korban berjatuhan dan desa kehilangan rasa aman yang membuat situasi makin mencekam, sasaran teror ini bukan sembarang orang.
Rahim, Mitos, dan Teror yang Terus Berulang
Film ini secara terang-terangan menjadikan perempuan hamil sebagai pusat ancaman. Mereka bukan korban sampingan, melainkan target utama. Teror datang berulang, terstruktur, dan semakin agresif. Ketakutan pun menyebar seperti virus. Rasa waswas yang awalnya personal berubah menjadi kepanikan sosial. Perlahan, kecurigaan menggantikan solidaritas. Desa yang dulu kompak mulai saling menatap dengan rasa curiga. Di titik inilah Sengkolo berhenti sekadar menakuti dan mulai bicara soal tekanan sosial.
Rahayu, Bidan Desa di Antara Logika dan Kepercayaan
Di tengah kekacauan itu berdirilah Rahayu (Aulia Sarah), seorang bidan desa yang mendadak harus menghadapi hal-hal di luar logika medis.
Ia bukan dukun. Ia juga bukan tokoh sakti. Rahayu adalah simbol nalar yang dipaksa hidup berdampingan dengan mitos.
Aulia Sarah tampil solid sebagai perempuan rasional yang terjepit ketakutan kolektif. Perannya diperkuat oleh Agla Artalidia, Dimas Aditya, Cindy Nirmala, dan Sharon Jovian, yang membuat konflik terasa padat tanpa perlu banyak teriakan.
Horor Lokal yang Nggak Cuma Andalkan Jumpscare
Di bawah arahan sutradara Deni Saputra dan produksi MVP Pictures, Sengkolo: Petaka Satu Suro menancapkan kukunya sebagai horor bernuansa lokal.
Mitos Jawa hadir sebagai fondasi cerita, bukan sekadar tempelan estetika. Ritual, larangan, dan kepercayaan warga membangun atmosfer horor yang pelan tapi konsisten. Alih-alih mengandalkan kejutan instan, film ini memilih merayap dan menekan psikologis penonton.
Ketakutan Kolektif dan Kambing Hitam Sosial
Saat rasa takut menguasai, warga desa tidak otomatis bersatu. Justru sebaliknya. Kepanikan melahirkan kemarahan. Kemarahan mencari sasaran.
Perempuan lagi-lagi menjadi kelompok paling rentan. Film ini menyentil kenyataan pahit: dalam krisis, yang lemah sering kali menerima teror berlapis. Bukan hanya dari dunia gaib, tetapi juga dari lingkungan sosialnya sendiri.
Lebih Seram dari Setan: Cara Kita Bereaksi
Tayang di bioskop Indonesia sejak Kamis, 22 Januari 2026, Sengkolo: Petaka Satu Suro menawarkan horor lokal dengan muatan reflektif.
Cerita ini mengajak penonton bercermin, bahwa horor paling mengerikan sering kali lahir dari cara manusia merespons ketakutan bersama.
Ketika tradisi, kepercayaan, dan nyawa saling bertabrakan, pilihan menjadi tidak pernah sederhana.
Percaya sepenuhnya? Atau tetap berpikir jernih?
Mungkin di situlah letak petaka sesungguhnya dalam Sengkolo. Bukan pada malam satu Suro-nya, melainkan pada siapa kita saat rasa takut memegang kendali.





