Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Horor yang Lebih Manusia di Balik Nama Besar Suzzanna

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Selama puluhan tahun, publik mengenal nama Suzzanna sebagai simbol horor.
Sundel bolong. Kuburan. Malam Jumat. Generasi 80–90an bahkan refleks menyalakan lampu kamar saat mendengar namanya.

Kini muncul pertanyaan baru.
Kalau Suzzanna kembali ke layar lebar tanpa jadi hantu, apa rasa takut itu masih ada?

Soraya Intercine Films menjawabnya dengan percaya diri: iya.
Bahkan, horornya bisa terasa lebih kuat.

Lewat film ketiga berjudul “Suzzanna: Santet, Dosa Di Atas Dosa”, Soraya mengambil langkah berani. Rumah produksi ini membalik mitos lama. Mereka tidak lagi menampilkan Suzzanna sebagai Suketi sang arwah penasaran. Film ini menghadirkan Suzzanna sebagai manusia seutuhnya. Seorang perempuan yang hidup, terluka, dan berhadapan langsung dengan kekuasaan yang sewenang-wenang.

Ini horor versi dewasa.
Tanpa bunyi pintu berderit yang dipaksakan.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

IP Legendaris Naik Kelas, Bukan Sekadar Nostalgia

Pendekatan ini langsung menuai apresiasi dari Reza Rahadian.

“Bayangkan, ini nama asli yang dipakai jadi sebuah IP besar, dan kita membawa ini ke level berikutnya,” kata Reza saat peluncuran trailer di Jakarta Selatan.

Reza menilai judul film ini tidak sekadar menjual nostalgia. Ia melihatnya sebagai upaya serius menjaga Suzzanna sebagai kekayaan intelektual film Indonesia. Soraya tidak memperlakukan Suzzanna hanya sebagai ikon poster horor yang terus diulang.

Tak heran Reza kembali bekerja sama dengan Soraya setelah 13 tahun. Terakhir kali mereka bertemu lewat Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013). Kali ini, Reza tertarik pada isu perlawanan terhadap kekuasaan. Tema lama itu justru terasa makin dekat dengan kondisi hari ini.

Karena, jujur saja, rasa takut sekarang tidak lagi datang dari hantu semata.

Suzzanna sebagai Manusia yang Terluka

Azhar Kinoi Lubis mengarahkan film ini dengan sudut pandang berbeda. Ia memotret Suzzanna sebagai manusia yang terluka. Bukan terkutuk.
Manusia, bukan mitos.

Kinoi membuka ruang diskusi kreatif bagi para aktor. Ia mendorong mereka memberi masukan agar setiap adegan terasa hidup. Film ini membangun horor lewat emosi, bukan hanya lewat efek kejut dan suara keras.

Pendekatan tersebut membuat cerita Santet (1988) tetap relevan. Film ini menjaga ruh aslinya, meski hadir dengan sudut pandang baru. Ceritanya lama, tapi tidak terasa usang.

Luna Maya, Totalitas Tanpa Jadi Hantu

Bagi Luna Maya, peran ini membawa tantangan baru.

Untuk pertama kalinya sejak Bernapas dalam Kubur (2018) dan Malam Jumat Kliwon (2023), Luna tidak memerankan sosok hantu. Ia memerankan Suzzanna asli, dari cara bicara hingga intonasi suara.

Tim produksi mendatangkan ahli rias prostetik dari Bali dan Belgia. Tim ini menjaga berat badan Luna secara ketat. Jika berat badannya berubah, mereka harus membuat ulang riasan dari awal. Proses ini menuntut disiplin tinggi.

Tim hanya menggunakan CGI untuk menyempurnakan detail wajah, seperti posisi alis. Teknologi ini berfungsi menghidupkan karakter, bukan menipu penonton.

Horor Lama, Produksi Serius

Soraya juga menaikkan standar produksi secara signifikan.

Tim produksi membangun rumah bergaya 1982 khusus di Pangandaran. Mereka benar-benar meledakkan empat mobil dan membakar rumah di lokasi. Mereka tidak mengandalkan trik instan.

Reza Rahadian mengaku terkejut saat ledakan terjadi langsung di lokasi. Adegan itu menciptakan ketegangan nyata, bukan sekadar reaksi akting.

Lewat pendekatan ini, Soraya menarik standar film Suzzanna era lama, lalu membawanya ke level yang lebih tinggi.

Saat Horor Bicara soal Dosa Manusia

Film ini menyampaikan pesan yang cukup jelas.
Horor terbesar tidak datang dari alam gaib, melainkan dari manusia dan kekuasaan yang lepas kendali.

Manusia menumpuk dosa. Mereka mewariskan luka. Mereka menciptakan penindasan.

Film ini dijadwalkan tayang pada Lebaran 2026, 18 Maret. Jadwal ini terasa ironis. Saat banyak orang bicara soal maaf, film ini justru mengajak penonton menatap dosa.

Jadi, siapkah kita merasa takut pada Suzzanna yang manusia?
Atau justru sosok itulah yang paling menakutkan sejak awal? @eko

Tags: EntertainmentFilmLuna Maya

Kamu Melewatkan Ini

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

by Naysa
Mei 12, 2026

Salridan-gil memperlihatkan bagaimana rasa takut bisa berubah menjadi budaya uji nyali baru di Korea. Setelah Salmokji: Whispering Water viral, anak...

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau sebuah film dapat nilai “lumayan” dari kritikus tapi dipuja fans sampai susah move on, siapa yang sebenarnya benar? Pertanyaan...

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau satu film seperti Mortal Kombat II bikin kritikus mengeluh tapi fans malah tepuk tangan, siapa yang sebenarnya paling benar...

Next Post
Kya-Kya Kembang Jepun: Jalan Pelan Menyusuri Rasa dan Ingatan Surabaya

Kya-Kya Kembang Jepun: Jalan Pelan Menyusuri Rasa dan Ingatan Surabaya

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id