Tabooo.id: Vibes – Di tangan seorang pemimpin, benda sederhana sering berubah menjadi simbol. Tongkat, misalnya, pada awalnya hanya alat bantu. Namun, dalam foto-foto lama Soekarno, tongkat itu berdiri sejajar dengan tubuhnya, tegak dan percaya diri, seolah menyatu dengan sikap politik sang presiden.
Karena itu, publik tidak melihat tongkat Bung Karno sebagai kayu biasa. Soekarno memilih pucang kalak, kayu yang perlahan membangun reputasi simbolik. Seiring waktu, tongkat tersebut melampaui fungsi praktisnya dan menjelma lambang wibawa kekuasaan.
Kini, di era media sosial, pucang kalak kembali muncul. Banyak unggahan menarasikannya sebagai benda sakti. Di sisi lain, sebagian orang mengaitkannya dengan keberuntungan. Padahal, di balik narasi viral itu, tersimpan sejarah dan budaya yang jauh lebih kompleks.
Dari Pegunungan Sunyi di Ujung Pacitan
Pucang kalak tumbuh di Pegunungan Kalak, Desa Kalak, Donorojo, Pacitan. Wilayah ini jauh dari pusat kota. Alam bergerak pelan, sementara waktu terasa berjalan tanpa tergesa.
Di kawasan tersebut, masyarakat menghormati makam Mbah Kalak, tokoh spiritual setempat. Tepat di atas makam itu, pohon pucang berusia ratusan tahun terus tumbuh dan terjaga. Warga sekitar tidak memisahkannya dari cerita leluhur, sebab pohon ini hidup berdampingan dengan keyakinan kolektif.
Oleh karena itu, pucang kalak selalu hadir bersama makna. Kayu ini tidak pernah berdiri sendirian tanpa cerita.
Warna Merah Tua dan Imajinasi Magis
Secara visual, pucang kalak mudah dikenali. Serat kayunya berwarna merah tua. Ketika seseorang merendamnya ke dalam air, bentuknya tampak menyerupai ular yang bergerak pelan.
Dari sini, imajinasi publik mulai bekerja. Banyak orang kemudian mengaitkan bentuk itu dengan kekuatan magis. Dalam tradisi Jawa, alam tidak hanya menjadi latar. Sebaliknya, alam sering berperan aktif sebagai pelindung, penanda, atau sumber kewibawaan.
Akibatnya, cerita tentang kesaktian pucang kalak terus beredar dan bertahan lintas generasi.
Ketika Pucang Kalak Masuk Sejarah Nasional
Sejarah membawa pucang kalak keluar dari ruang lokal ketika Soekarno memilihnya sebagai tongkat komando. Sejak momen itu, kayu dari Pacitan ikut berjalan di panggung republik.
Soekarno kerap membawa tongkat tersebut dalam upacara kenegaraan dan momen penting negara. Saat ini, Museum Nasional menyimpannya sebagai artefak sejarah. Namun, museum hanya memamerkannya pada waktu tertentu. Karena jarang tampil, tongkat itu justru semakin simbolik, seperti ingatan kolektif yang muncul sesekali.
Dengan demikian, pucang kalak berubah dari kayu lokal menjadi bagian dari sejarah nasional.
Mitos, Ancaman, dan Cerita yang Terus Bergerak
Seiring berjalannya waktu, publik menambahkan lapisan cerita baru. Kisah percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno ikut menyeret nama tongkat komando. Banyak cerita menyebut peluru yang meleset atau granat yang gagal mengenai sasaran.
Dalam imajinasi kolektif, tongkat itu lalu berfungsi sebagai tameng gaib. Ia tidak lagi dipahami sebagai kayu, melainkan penjaga revolusi. Cerita-cerita ini bertahan bukan karena bukti ilmiah, melainkan karena manusia membutuhkan narasi perlindungan di tengah masa politik yang penuh ketegangan.
Bung Karno Membalik Arah Simbol
Namun demikian, Soekarno sendiri justru meruntuhkan mitos itu. Ia menegaskan bahwa tongkat komandonya tidak memiliki daya sakti. Kayunya biasa saja. Fungsinya pun sederhana.
Bahkan, dalam satu percakapan dengan Presiden Kuba Fidel Castro, Bung Karno memilih bercanda. Ketika Castro bertanya soal kesaktian tongkat tersebut, Soekarno menjawab ringan: tongkatnya tidak sakti, tetapi dirinya yang sakti.
Dengan pernyataan itu, Bung Karno memindahkan makna simbol. Ia menegaskan bahwa manusia memberi arti pada benda, bukan sebaliknya.
Simbol Lama di Tengah Budaya Digital
Hari ini, pucang kalak hidup di ruang baru. Sebagian orang memburunya sebagai jimat. Sementara itu, sebagian lain menjadikannya aksesori atau komoditas dengan klaim manfaat kesehatan dan keberuntungan.
Di titik ini, tradisi bertemu pasar. Sejarah bertemu algoritma. Media sosial mempercepat proses tersebut. Masa lalu dipotong, dikemas ulang, lalu dijual sesuai selera zaman.
Refleksi Tabooo: Mengapa Simbol Terus Dicari
Tabooo memandang pucang kalak bukan sebagai benda sakral yang wajib dipercaya. Kayu ini lebih tepat dibaca sebagai cermin budaya. Dari pucang kalak, kita melihat kecenderungan lama: bangsa ini kerap mencari simbol untuk memahami kekuasaan dan keberanian.
Tongkat tidak membuat Bung Karno besar. Sebaliknya, kebesaran Bung Karno-lah yang memberi arti pada tongkat itu. Simbol hidup karena kepercayaan kolektif, bukan karena materialnya.
Penutup: Kayu, Cerita, dan Ingatan Bangsa
Kini, pucang kalak berdiri di antara dua dunia. Ia hadir sebagai warisan budaya, sekaligus objek tren masa kini. Ia menyimpan masa lalu, namun terus ditarik ke masa sekarang.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kayu ini sakti. Pertanyaan yang lebih penting justru ini bagaimana kita memilih mempercayai cerita di sekitarnya?
Karena kayu akan tetap menjadi kayu.
Namun cerita selama manusia terus merawatnya akan hidup jauh lebih lama daripada usia pohon mana pun. @dimas





