Tabooo.id: Global – Brimob Polda Aceh diguncang. Brigadir Dua Muhammad Rio, anggota elite yang seharusnya menjaga keamanan dalam negeri, kabur dan bergabung sebagai tentara bayaran di Donbass, Rusia. Ia meninggalkan tugas sejak 8 Desember 2025 untuk mengejar gaji ratusan juta rupiah sekaligus menodai reputasi Polri.
Desersi dan Jejak Perjalanan
Kepala Bidang Humas Polda Aceh, Kombes Joko Krisdiyanto, menyatakan Rio mengirim pesan WhatsApp ke anggota Provos dan atasannya pada 7 Januari 2026. Dalam pesan itu, ia merinci proses pendaftaran sebagai tentara bayaran Rusia, termasuk bonus awal 2 juta rubel (sekitar Rp 420 juta) dan gaji bulanan 210 ribu rubel (Rp 42 juta).
Rio terbang dari Bandara Soekarno-Hatta ke Shanghai pada 18 Desember 2025, kemudian melanjutkan penerbangan ke Haikou keesokan harinya. Meskipun Polda Aceh sudah memanggilnya dua kali, Rio mengabaikannya. Polisi juga mencatat paspor dan tiket perjalanan sebagai bukti keberangkatan.
Sanksi Kode Etik dan PTDH
Sebelum kabur, Polda memutasikan Rio dan menempatkannya di Pelayanan Markas (Yanma) Brimob akibat kasus perselingkuhan dan nikah siri. Setelah ia desersi, Polda Aceh langsung menggelar sidang KKEP secara in absentia pada 8–9 Januari 2026 dan menjatuhkan hukuman pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).
Rio melanggar beberapa pasal dalam PP No. 1 Tahun 2003 dan Perpol No. 7 Tahun 2022, termasuk kode etik profesi Polri. Negara menegaskan melalui keputusan ini bahwa aparat yang melakukan desersi dan mengkhianati loyalitasnya tidak boleh ditoleransi.
Kasus ini jelas menguntungkan Rio. Rio mendapatkan gaji jauh lebih tinggi daripada saat ia bertugas sebagai anggota Brimob di Indonesia. Namun, masyarakat Aceh dan seluruh Indonesia menanggung kerugian. Aparat yang seharusnya menjaga keamanan lokal menghilang, meninggalkan tugas, dan memunculkan pertanyaan serius tentang disiplin, integritas, serta pengawasan internal Polri.
Sindiran Tabooo
Rio mengejar rubel di Donbass, tetapi meninggalkan rupiah dan amanah rakyat. Polisi seharusnya melindungi negeri, bukan menjadi tentara bayaran di medan perang asing. Jika patriotisme bisa dibeli, jangan kaget bila suatu hari nanti keamanan lokal pun dilelang ke penawar tertinggi. (red)





