Tabooo.id: Deep – Di balik layar ponsel yang tampak tenang, percakapan bisa berubah jadi ancaman. Awalnya terasa ringan sekadar chat, sedikit kepercayaan, lalu keterbukaan. Tapi pelan-pelan, situasi itu berubah arah dan menekan korban tanpa ampun.
Sextortion bukan cerita baru. Jumlah korban terus naik. Lalu muncul pertanyaan yang sulit dihindari kenapa ini terus terjadi?
Lonjakan yang Tak Pernah Benar-Benar Turun
Pemerintah mulai bergerak. Komdigi menggandeng kepolisian untuk memperketat pengawasan ruang digital. Mereka menargetkan sextortion, penipuan online, dan judi digital.
Namun data menunjukkan tren yang berbeda.
“Kita mencatat kenaikan penipuan digital yang cukup tinggi. Kami juga menerima banyak keluhan mengenai, sebagai contoh pemerasan berbasis seksual atau sextortion,” ujar Menkomdigi Meutya Hafid di Jakarta, Senin (13/04/2026).
Meski aparat berhasil menekan judi online hingga 50 persen menurut PPATK, pelaku kejahatan digital terus mencari celah baru. Mereka bergerak cepat, bahkan sering lebih cepat dari sistem.
Masalahnya bukan sekadar jumlah kasus. Pelaku terus beradaptasi, sementara sistem baru mulai mengejar.
Kenapa Sextortion Terus Bertambah?
Masalah ini tidak sesederhana kelalaian pengguna. Ada lapisan yang lebih dalam.
Digitalisasi Tanpa Literasi Emosional
Semua orang terkoneksi. Tapi tidak semua orang siap.
Banyak korban memahami risiko digital. Namun pelaku tidak datang sebagai ancaman. Mereka membangun kedekatan, menciptakan rasa aman, lalu memanfaatkan kepercayaan itu.
Begitu korban lengah, pelaku langsung mengambil kendali. Di sini, manusia menjadi titik lemah bukan teknologinya.
Budaya Malu yang Jadi Senjata
Pelaku memanfaatkan rasa malu sebagai alat utama. Korban sering memilih diam karena takut dihakimi. Mereka khawatir lingkungan akan menyalahkan mereka, bukan pelaku.
Situasi ini memberi keuntungan besar bagi pelaku. Mereka tidak perlu bersembunyi terlalu jauh korban justru menutup diri.
Selama korban diam, kejahatan ini terus hidup.
Sistem yang Masih Reaktif
Negara memang bergerak. Tapi sistem sering merespons setelah kejadian terjadi.
Komdigi dan Polri menandatangani MoU untuk memangkas birokrasi. Mereka juga berencana mengintegrasikan sistem pengaduan.
“Kami ingin 110 dan 112 digabungkan karena pada prinsipnya command center harus lebih efisien,” kata Meutya, Senin (13/04/2026).
Langkah ini mempercepat respons. Tapi pencegahan tetap jadi tantangan. Sementara sistem memperbaiki diri, pelaku sudah melangkah lebih dulu.
Siapa yang Paling Rentan?
Risiko tidak tersebar merata. Beberapa kelompok lebih rentan.
Generasi Aktif Digital
Gen Z dan milenial hidup di ruang digital. Mereka membangun relasi, berbagi cerita, dan mencari koneksi.
Namun kebiasaan ini membuka peluang bagi pelaku. Mereka memanfaatkan kecepatan interaksi untuk membangun kepercayaan.
Korban Tidak Terbatas Gender
Perempuan sering menjadi target. Tapi laki-laki juga menghadapi risiko. Pelaku menyesuaikan pendekatan.
Mereka menekan perempuan lewat reputasi. Mereka menyerang laki-laki lewat ego dan citra diri. Semua orang bisa jadi target.
Kesendirian Jadi Celah
Korban yang merasa sendirian lebih mudah terjebak. Kurangnya edukasi, minimnya dukungan, dan tidak adanya ruang aman membuat korban kesulitan mencari bantuan.
Di situ, pelaku masuk dan menguasai situasi.
Negara vs Kejahatan Digital: Siapa Selalu Terlambat?
Kapolri Listyo Sigit Prabowo menegaskan pentingnya respons cepat.
“Maraknya penipuan online, judi online, dan berbagai bentuk scam harus direspons dengan langkah yang lebih optimal. Kami ingin mencegah munculnya korban baru,” ujarnya, Senin (13/04/2026).
Polri dan Komdigi juga menyiapkan satgas bersama untuk mempercepat penanganan.
“Untuk menghindari terjadinya korban yang lebih besar tentunya kita memerlukan satgas bersama,” tambahnya.
Langkah ini menunjukkan keseriusan. Tapi pertanyaan tetap muncul.
Bisakah negara bergerak lebih cepat dari pelaku? Atau akan terus tertinggal satu langkah?
Masalah yang Lebih Besar dari Sekadar Teknologi
Banyak orang mencari solusi di teknologi. Mereka berharap sistem keamanan bisa menyelesaikan masalah. Padahal akar persoalan ada pada manusia dan budaya.
Masalah ini muncul karena:
- Relasi digital yang rapuh
- Budaya yang masih menyalahkan korban
- Sistem yang belum cukup adaptif
Selama faktor ini tetap ada, pelaku akan terus menemukan cara baru.
Refleksi: Siapa yang Harus Berubah?
Negara memperbaiki sistem. Aparat memperkuat koordinasi. Platform meningkatkan keamanan. Tapi perubahan juga harus datang dari pengguna.
Apakah kita cukup sadar risiko? Apakah kita berani bicara saat jadi korban? Atau kita masih memilih diam?
Di dunia yang serba terkoneksi, ancaman tidak selalu datang dari luar.
Kadang, satu percakapan sederhana bisa berubah jadi jebakan ketika kepercayaan jatuh ke tangan yang salah. @teguh






