Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sextortion Tak Pernah Sepi: Ketika Kejahatan Digital Selalu Selangkah di Depan

by teguh
April 14, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di balik layar ponsel yang tampak tenang, percakapan bisa berubah jadi ancaman. Awalnya terasa ringan sekadar chat, sedikit kepercayaan, lalu keterbukaan. Tapi pelan-pelan, situasi itu berubah arah dan menekan korban tanpa ampun.

Sextortion bukan cerita baru. Jumlah korban terus naik. Lalu muncul pertanyaan yang sulit dihindari kenapa ini terus terjadi?

Lonjakan yang Tak Pernah Benar-Benar Turun

Pemerintah mulai bergerak. Komdigi menggandeng kepolisian untuk memperketat pengawasan ruang digital. Mereka menargetkan sextortion, penipuan online, dan judi digital.

Namun data menunjukkan tren yang berbeda.

“Kita mencatat kenaikan penipuan digital yang cukup tinggi. Kami juga menerima banyak keluhan mengenai, sebagai contoh pemerasan berbasis seksual atau sextortion,” ujar Menkomdigi Meutya Hafid di Jakarta, Senin (13/04/2026).

Ini Belum Selesai

Hari Kesembilan, Tim SAR Persempit Pencarian Jurnalis Hilang

Dari Teguran ke Tiga Pukulan: Kronologi Kematian Serda Ahmad

Meski aparat berhasil menekan judi online hingga 50 persen menurut PPATK, pelaku kejahatan digital terus mencari celah baru. Mereka bergerak cepat, bahkan sering lebih cepat dari sistem.

Masalahnya bukan sekadar jumlah kasus. Pelaku terus beradaptasi, sementara sistem baru mulai mengejar.

Kenapa Sextortion Terus Bertambah?

Masalah ini tidak sesederhana kelalaian pengguna. Ada lapisan yang lebih dalam.

Digitalisasi Tanpa Literasi Emosional

Semua orang terkoneksi. Tapi tidak semua orang siap.

Banyak korban memahami risiko digital. Namun pelaku tidak datang sebagai ancaman. Mereka membangun kedekatan, menciptakan rasa aman, lalu memanfaatkan kepercayaan itu.

Begitu korban lengah, pelaku langsung mengambil kendali. Di sini, manusia menjadi titik lemah bukan teknologinya.

Budaya Malu yang Jadi Senjata

Pelaku memanfaatkan rasa malu sebagai alat utama. Korban sering memilih diam karena takut dihakimi. Mereka khawatir lingkungan akan menyalahkan mereka, bukan pelaku.

Situasi ini memberi keuntungan besar bagi pelaku. Mereka tidak perlu bersembunyi terlalu jauh korban justru menutup diri.

Selama korban diam, kejahatan ini terus hidup.

Sistem yang Masih Reaktif

Negara memang bergerak. Tapi sistem sering merespons setelah kejadian terjadi.

Komdigi dan Polri menandatangani MoU untuk memangkas birokrasi. Mereka juga berencana mengintegrasikan sistem pengaduan.

“Kami ingin 110 dan 112 digabungkan karena pada prinsipnya command center harus lebih efisien,” kata Meutya, Senin (13/04/2026).

Langkah ini mempercepat respons. Tapi pencegahan tetap jadi tantangan. Sementara sistem memperbaiki diri, pelaku sudah melangkah lebih dulu.

Siapa yang Paling Rentan?

Risiko tidak tersebar merata. Beberapa kelompok lebih rentan.

Generasi Aktif Digital

Gen Z dan milenial hidup di ruang digital. Mereka membangun relasi, berbagi cerita, dan mencari koneksi.

Namun kebiasaan ini membuka peluang bagi pelaku. Mereka memanfaatkan kecepatan interaksi untuk membangun kepercayaan.

Korban Tidak Terbatas Gender

Perempuan sering menjadi target. Tapi laki-laki juga menghadapi risiko. Pelaku menyesuaikan pendekatan.

Mereka menekan perempuan lewat reputasi. Mereka menyerang laki-laki lewat ego dan citra diri. Semua orang bisa jadi target.

Kesendirian Jadi Celah

Korban yang merasa sendirian lebih mudah terjebak. Kurangnya edukasi, minimnya dukungan, dan tidak adanya ruang aman membuat korban kesulitan mencari bantuan.

Di situ, pelaku masuk dan menguasai situasi.

Negara vs Kejahatan Digital: Siapa Selalu Terlambat?

Kapolri Listyo Sigit Prabowo menegaskan pentingnya respons cepat.

“Maraknya penipuan online, judi online, dan berbagai bentuk scam harus direspons dengan langkah yang lebih optimal. Kami ingin mencegah munculnya korban baru,” ujarnya, Senin (13/04/2026).

Polri dan Komdigi juga menyiapkan satgas bersama untuk mempercepat penanganan.

“Untuk menghindari terjadinya korban yang lebih besar tentunya kita memerlukan satgas bersama,” tambahnya.

Langkah ini menunjukkan keseriusan. Tapi pertanyaan tetap muncul.

Bisakah negara bergerak lebih cepat dari pelaku? Atau akan terus tertinggal satu langkah?

Masalah yang Lebih Besar dari Sekadar Teknologi

Banyak orang mencari solusi di teknologi. Mereka berharap sistem keamanan bisa menyelesaikan masalah. Padahal akar persoalan ada pada manusia dan budaya.

Masalah ini muncul karena:

  • Relasi digital yang rapuh
  • Budaya yang masih menyalahkan korban
  • Sistem yang belum cukup adaptif

Selama faktor ini tetap ada, pelaku akan terus menemukan cara baru.

Refleksi: Siapa yang Harus Berubah?

Negara memperbaiki sistem. Aparat memperkuat koordinasi. Platform meningkatkan keamanan. Tapi perubahan juga harus datang dari pengguna.

Apakah kita cukup sadar risiko? Apakah kita berani bicara saat jadi korban? Atau kita masih memilih diam?

Di dunia yang serba terkoneksi, ancaman tidak selalu datang dari luar.

Kadang, satu percakapan sederhana bisa berubah jadi jebakan ketika kepercayaan jatuh ke tangan yang salah. @teguh

Tags: digitalisasiEdukasiJudi OnlinekorbanMenkomdigiOnlinePenipuan OnlinePolriPPATKRuang DigitalSeksual

Kamu Melewatkan Ini

Polisi Bakal Razia Kendaraan ke Rumah? Ini Faktanya

Polisi Bakal Razia Kendaraan ke Rumah? Ini Faktanya

by eko
September 15, 2026

Klaim polisi bakal razia kendaraan ke rumah mulai akhir September 2026 beredar di Facebook. Faktanya, klaim itu hoaks. Tabooo.id: -...

Operator vs Konsumen: Siapa Sebenarnya Penguasa Kuota Internet?

Operator vs Konsumen: Siapa Sebenarnya Penguasa Kuota Internet?

by teguh
Agustus 30, 2026

Pagi hari, layar ponsel masih menunjukkan sisa 10 GB. Beberapa jam kemudian, masa aktif paket berakhir. Sisa data ikut lenyap...

Kuota Internet Tak Boleh Hangus Lagi, Operator Wajib Beri Pilihan

Kuota Internet Tak Boleh Hangus Lagi, Operator Wajib Beri Pilihan

by teguh
Agustus 29, 2026

Pernah beli kuota internet, belum habis, lalu kuotanya lenyap saat masa aktif berakhir? Pemerintah kini mengubah aturan mainnya. Tabooo.id: Jakarta...

Next Post
Ini Bukan Sekadar Susu Murah. Ini Sistem yang Sengaja Kita Abaikan

Susu Murni Nasional Dulu Dicari, Sekarang Ditinggal, Kenapa?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id