Tabooo.id: Vibes – Ada tempat-tempat yang terasa seperti jeda waktu. Kamu berdiri di sana, lalu pikiranmu melompat ke abad lain. Sendang Kamal di Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menghadirkan sensasi itu. Kolam air yang tenang ini tidak hanya memantulkan langit dan pepohonan. Lebih dari itu, ia memantulkan sejarah berlapis, bertumpuk, dan saling menyapa lintas zaman.
Di satu sisi, air sendang yang jernih pernah menyambut tubuh para putri bangsawan Kesultanan Yogyakarta. Sementara itu, tak jauh dari tepinya, sebongkah batu bertulis aksara Jawa Kuno menegaskan jejak kejayaan Kerajaan Medang hampir seribu tahun silam. Dua dunia hadir berdampingan. Dua zaman bertemu dalam satu ruang. Seolah sejarah sengaja mengendap di titik ini.

Batu yang Pernah Mengatur Dunia
Prasasti Sendang Kamal yang juga dikenal sebagai Prasasti Kawambang Kulwan bukan sekadar peninggalan purbakala. Prasasti ini berfungsi sebagai dokumen resmi negara pada masanya. Pemahat kerajaan mengukirnya pada tahun 913 Saka atau 991 Masehi atas nama Sri Maharaja Isana Darmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa, penguasa besar Kerajaan Medang di akhir abad ke-10.
Melalui prasasti ini, kerajaan menetapkan wilayah Kawambang Kulwan sebagai tanah sima, yakni tanah bebas pajak untuk kepentingan suci. Penguasa saat itu mengarahkan tanah tersebut guna menopang pemeliharaan bangunan pemujaan Siwa serta ajaran Kitab Siwasasana. Dengan demikian, sejak awal kawasan Sendang Kamal masuk dalam lingkaran ruang sakral sekaligus strategis.
Empat bagian prasasti berhasil ditemukan. Saat ini, satu bagian tersimpan di Museum Nasional dengan kode D.37, sedangkan tiga bagian lainnya tetap berada di lokasi asal. Pemahat menorehkan aksara dan bahasa Jawa Kuno di seluruh sisi batu, lalu menghias bagian bawahnya dengan pahatan padma atau bunga teratai. Pada zamannya, prasasti ini tidak berfungsi sebagai simbol romantik masa lalu, melainkan sebagai alat legitimasi kekuasaan dan pengatur tata wilayah.
Dari Tanah Suci ke Ruang Intim Bangsawan
Waktu kemudian bergerak maju. Kerajaan Medang runtuh, peta politik Jawa berubah, dan Islam tumbuh sebagai kekuatan utama di Mataram. Meski begitu, Sendang Kamal tidak kehilangan perannya. Ia tetap hadir sebagai ruang penting, meskipun fungsinya bergeser.
Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, sendang ini beralih menjadi tempat pemandian para putri kedhaton Maospati. Wilayah tersebut berada di bawah kendali Adipati Wedana Ronggo Prawirodirjo III, penguasa Mancanegara Wetan yang bernaung di bawah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Catatan sejarah lokal menyebutkan bahwa R.P. Soeronegoro Adipati Madiun bersama adiknya, R.A. Nilowati, kembali mengenali keberadaan Sendang Kamal. Setelah itu, Kanjeng Raden Tumenggung Yudo Prawiro melanjutkan pemeliharaan sendang ketika menjabat sebagai Adipati Maospati, tak lama setelah Perang Jawa berakhir.
Air Sendang Kamal dikenal jernih dan berkilau. Nama “Kamal” sendiri dipercaya merujuk pada warna airnya yang putih kebiruan, menyerupai telur kamal atau telur asin. Selain itu, sebuah keluarga abdi bernama Kartowirjo menjaga sendang ini secara turun-temurun. Detail ini memperlihatkan bahwa situs tersebut hidup dalam praktik sosial sehari-hari, bukan hanya dalam narasi elite.
Jejak Kolonial di Ruang Ganti Putri
Bangunan yang kini masih berdiri di sekitar sendang tidak berasal dari masa Medang maupun Mataram Islam. Pada sekitar tahun 1921, pemerintah kolonial Belanda membangun fasilitas ruang ganti di area ini. Bangunan tersebut berupa dinding tanpa atap berukuran sekitar 15 x 8 meter dengan struktur tebal dan sederhana.
Keberadaan bangunan kolonial ini menunjukkan satu hal penting: Sendang Kamal tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Setiap rezim kerajaan, kesultanan, hingga kolonial datang dengan caranya sendiri untuk memanfaatkan ruang yang sama.
Air yang Sama, Zaman yang Berbeda
Keistimewaan Sendang Kamal terletak pada kesinambungan maknanya. Kawasan yang dianggap suci pada abad ke-10 tetap diperlakukan sebagai ruang istimewa berabad-abad kemudian. Tidak banyak lokasi di Jawa yang menyimpan kesinambungan sejarah secara fisik dan geografis seperti ini.
Di masa kini, ketika sejarah sering dipadatkan menjadi konten singkat atau sekadar latar swafoto, Sendang Kamal justru menawarkan pengalaman yang berlawanan. Ia tidak memaksa decak kagum. Ia hadir dengan tenang, diam, tetapi sarat cerita.
Refleksi Tabooo: Sejarah yang Tidak Pernah Tunggal
Sendang Kamal mengajarkan satu pelajaran penting sejarah tidak pernah lurus, apalagi tunggal. Ia berlapis, saling menumpuk, dan kerap hidup berdampingan tanpa perlu saling meniadakan. Di tempat ini, Medang dan Mataram Islam berbagi ruang, berbagi air, dan berbagi ingatan.
Di tengah perdebatan identitas dan klaim masa lalu yang kerap mengeras, Sendang Kamal justru menawarkan kisah yang lebih cair. Budaya, pada akhirnya, adalah mozaik. Satu tempat dapat menyimpan banyak cerita. Dan kita, hari ini, hanyalah lapisan berikutnya.
Pertanyaannya tinggal satu apakah kita akan merawat lapisan itu, atau membiarkannya terkikis perlahan seperti prasasti yang aus disentuh hujan dan waktu? @Sabrina Fidhi-Surabaya




