Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dinamika Keluarga Kraton Surakarta, Pemerintah Klaim Sudah Membuka Pintu

by sigit
Januari 18, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Pemerintah menyatakan niat membantu. Namun, sebagian keluarga keraton justru merasa bahwa pihak lain menyingkirkan mereka. Di tengah janji pelestarian budaya, konflik lama kembali muncul ke permukaan. Publik pun mulai bertanya: siapa sebenarnya yang berhak mengurus warisan sejarah ini?

Pemerintah Mengaku Sudah Membuka Pintu

Menteri Kebudayaan Fadli Zon akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan pemerintah telah berulang kali mengundang kubu Pakubuwono (PB) XIV Purboyo untuk membahas pengembangan Keraton Surakarta. Namun, menurutnya, kubu PB XIV tidak pernah merespons undangan tersebut.

“Selalu kita undang. Tapi waktu diundang tidak datang,” ujar Fadli di Keraton Surakarta, Minggu (18/1/2026).

Dengan pernyataannya itu, Fadli ingin menegaskan satu hal: pemerintah tidak menutup diri. Sebaliknya, pemerintah mengklaim telah berupaya bersikap kooperatif sejak awal.

Dana Negara Butuh Penanggung Jawab

Fadli menjelaskan bahwa pengembangan keraton bukan sekadar urusan simbol budaya. Masalah ini juga menyangkut penggunaan anggaran negara. Karena itu, pemerintah harus memastikan APBD maupun APBN tersalurkan kepada pihak yang sah dan bertanggung jawab.

Ini Belum Selesai

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Menurut Fadli, negara tidak bisa menyerahkan uang rakyat kepada individu tanpa struktur hukum yang jelas. Untuk itu, Kementerian Kebudayaan menunjuk Panembahan Agung Tedjowulan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan Keraton Surakarta sebagai cagar budaya nasional.

Melalui penunjukan itu, pemerintah ingin menciptakan satu pintu tanggung jawab. Tujuannya jelas: menghindari tarik-menarik kewenangan yang justru menghambat pelestarian.

Keluarga Keraton Merasa Disingkirkan

Namun, keputusan itu justru memicu reaksi keras dari kubu lain. Pangageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, GKR Panembahan Timoer, menilai pemerintah mengabaikan keluarga besar PB XIII dan PB XII. Ia mengatakan mereka tidak menerima undangan maupun pemberitahuan terkait penyerahan SK.

“Keraton ini ada tuan rumahnya. Kami tidak diundang, tidak diorangkan,” tegasnya.

Merasa diperlakukan tidak adil, pihaknya langsung mengirim surat keberatan. Mereka tidak hanya menujukan surat itu kepada Kementerian Kebudayaan, tetapi juga menyampaikan tembusannya langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Negara Mundur Selangkah dari Konflik Internal

Menanggapi hal itu, Fadli kembali menegaskan posisi pemerintah. Ia bersedia memfasilitasi dialog bila diperlukan. Namun, ia juga menarik garis tegas: pemerintah tidak akan ikut campur dalam konflik internal keluarga keraton.

Menurutnya, keluarga besar keraton harus lebih dulu bermusyawarah dan mencapai kesepakatan internal sebelum meminta negara turun tangan lebih jauh.

Penutup

Polemik ini penting bagi publik karena Keraton Surakarta bukan sekadar simbol budaya, melainkan juga aset sejarah yang menggunakan dana rakyat. Jika elite keraton terus berseteru, mereka bukan hanya merugikan keluarga bangsawan, tetapi juga menghambat upaya pelestarian budaya.

Negara sudah membuka pintu. Kini, pertanyaannya sederhana: siapa yang benar-benar siap melangkah masuk dan duduk bersama? (red)

Tags: Fadli ZonKeraton SurakartakratonKraton Surakartarespati ardiSolo

Kamu Melewatkan Ini

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

by jeje
Mei 1, 2026

Kita selalu percaya pengalaman adalah kunci. Tapi di sini, tidak ada yang bertanya kamu sudah sejauh apa belajar. Sistem hanya...

Ikuti Aturan atau Ikut Ego: Kamu di Kubu Mana?

Ikuti Aturan atau Ikut Ego: Kamu di Kubu Mana?

by jeje
Mei 1, 2026

Kita sering bilang dunia kerja butuh orang pintar. Tapi kalau kamu diminta diam tanpa alasan, kamu masih mau ikut? Atau...

Dunia Kerja Baru: Skill Penting, Tapi Kejujuran dan Kejernihan Menentukan

Dunia Kerja Baru: Skill Penting, Tapi Kejujuran dan Kejernihan Menentukan

by jeje
April 30, 2026

Kamu belajar bertahun-tahun untuk jadi pintar. Tapi saat kesempatan datang, sistem tidak bertanya apa yang kamu tahu. Sistem hanya ingin...

Next Post
Gunung Gede Pangrango & Gelang Pintar: Safety Gadget atau Overtracking?

Gunung Gede Pangrango & Gelang Pintar: Safety Gadget atau Overtracking?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id