Tabooo.id: Talk – Mari kita mulai dari pertanyaan paling sederhana dan paling tidak nyaman.
Jika harga roti melonjak setiap minggu, internet diputus sewaktu-waktu, mimpi diawasi aparat, dan masa depan terasa menyempit, apa alasan seseorang masih harus percaya pada negara?
Di titik itulah Iran berdiri pada 2026.
Bukan di ambang perang nuklir. Bukan pula sekadar konflik geopolitik Timur versus Barat. Sebaliknya, Iran sedang menghadapi krisis yang jauh lebih senyap, tetapi jauh lebih mematikan bagi sebuah rezim rakyatnya berhenti percaya.
Dari Krisis Ekonomi ke Krisis Martabat
Awalnya, krisis Iran terlihat klasik. Inflasi melonjak tanpa ampun. Nilai rial jatuh bebas. Di pasar, antrean memanjang, sementara pengangguran kaum terdidik menumpuk. Namun, kondisi itu tidak berhenti sebagai masalah ekonomi semata.
Sebaliknya, krisis ini dengan cepat berubah menjadi krisis martabat.
Ketika ekonomi runtuh, sebagian rakyat masih mampu menahan diri. Akan tetapi, ketika negara ikut merampas harga diri, kesabaran pun runtuh. Karena itu, amarah tidak lagi bergerak secara sporadis; ia menjadi kolektif, terorganisasi, dan keras.
Di Iran, protes 2026 tidak lagi berbicara soal gas atau subsidi. Protes ini berbicara tentang hidup—tentang kebebasan, identitas, dan hak menentukan masa depan sendiri. Terutama bagi generasi muda dan perempuan, dua kelompok yang selama puluhan tahun terus diminta menunggu.
Ketika Generasi Z Bertabrakan dengan Negara Moralistik
Generasi muda Iran bukan generasi Revolusi 1979. Mereka tumbuh sebagai generasi digital generasi Netflix, VPN, diaspora, dan dunia tanpa pagar. Mereka terhubung dengan horizon global, tetapi hidup di negara yang ingin mengatur pakaian, iman, bahkan mimpi.
Di sinilah konflik berubah sifat.
Negara ingin mendisiplinkan moral. Sementara itu, anak muda ingin mengelola hidup mereka sendiri. Ketika dua logika ini bertabrakan, kompromi menjadi mustahil. Akibatnya, konflik menjelma eksistensial, bukan lagi sekadar politis.
Saat Roti Berubah Menjadi Slogan Politik
Dalam konteks ini, teori relative deprivation dari Ted Gurr terasa relevan. Jarak antara harapan dan kenyataan di Iran melebar drastis. Pendidikan tinggi tidak menjamin pekerjaan. Kepatuhan moral tidak menghadirkan kesejahteraan.
Karena itu, kekecewaan ekonomi dengan mudah bermetamorfosis menjadi perlawanan politik.
James C. Scott menyebut situasi ini sebagai moral economy. Ketika negara gagal memenuhi kebutuhan dasar dan rasa keadilan, rakyat merasa memperoleh legitimasi moral untuk melawan. Maka, tidak mengherankan jika tuntutan soal harga roti berubah menjadi seruan untuk mengakhiri sistem teokratis yang represif.
Sensor Gagal, Imajinasi Bergerak
Ironisnya, Iran adalah negeri para penyair dan seniman. Negara mungkin mengontrol media, tetapi ia gagal menguasai imajinasi.
Di Tehran, Shiraz, dan Isfahan, mural-mural bermunculan seperti bunga liar. Di kampus-kampus, mahasiswa terutama perempuan berdiri di garis depan. Ironi ini terasa pahit mereka yang paling diatur justru menjadi mereka yang paling berani menantang.
Pada saat yang sama, diaspora Iran bertindak sebagai pengeras suara global. Mereka memecah blokade informasi, menekan pemerintah asing, dan memaksa dunia melihat Iran bukan lewat rudal atau nuklir, melainkan lewat suara rakyatnya.
Revolusi atau Sekadar Protes Panjang?
Pertanyaan ini terus bergema. Apakah Iran sedang menuju revolusi?
Jawaban paling jujur belum ada yang tahu.
Namun satu hal pasti ini bukan siklus protes yang bisa diredam dengan subsidi atau ditunda dengan represi. Yang runtuh hari ini bukan sekadar stabilitas, melainkan modal moral rezim itu sendiri.
Max Weber sudah lama mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa legitimasi hanya melahirkan ketakutan, bukan kepatuhan. Aparat mungkin mampu memperpanjang umur sistem, tetapi mereka tidak pernah mampu menyembuhkannya.
Negara Berhadapan dengan Generasi Mudanya Sendiri
Sering kali, narasi tentang Iran terjebak pada hitam-putih: rakyat melawan, negara menindas. Padahal, realitasnya lebih rumit. Banyak aparat keamanan juga berasal dari kelas sosial yang sama dengan para demonstran.
Karena itu, konflik ini bukan perang antarbangsa. Ini adalah benturan dua visi tentang Iran masa depan.
Di satu sisi, ada visi yang percaya masa depan bisa dikendalikan dari mimbar religius dan ruang rapat tertutup. Di sisi lain, ada visi yang percaya masa depan lahir dari keterbukaan, kreativitas, dan penghormatan pada martabat individu.
Maka, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah rezim akan runtuh atau bertahan. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah mampukah Iran berdamai dengan generasi mudanya sendiri?
Cermin Retak bagi Dunia
Pada akhirnya, krisis Iran 2026 bukan hanya milik Iran. Ia menjadi cermin bagi dunia Muslim, Global South, bahkan negara-negara demokrasi yang mulai pincang.
Krisis ini mengingatkan kita pada kebenaran yang sering diabaikan negara tidak bisa menjual stabilitas tanpa harapan, sensor tidak pernah mampu mengalahkan imajinasi dan kekuasaan paling rapuh adalah kekuasaan yang kehilangan kepercayaan rakyatnya.
Karena satu hal pasti generasi muda tidak bisa dibungkam selamanya. Mereka hanya punya dua pilihan diwarisi masa depan atau menciptakannya sendiri.
Jadi, pertanyaannya sekarang sederhana kamu berdiri di kubu yang mana? @dimas





