Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Iga Sapi, Comfort Food yang Diam-Diam Menjaga Kesehatan Mental

by sigit
Mei 8, 2026
in Culture, Food
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle – Pernah nggak sih, di tengah hari yang rasanya capek mental tapi kamu nggak tahu kenapa, tiba-tiba muncul keinginan makan sesuatu yang “berat”, berkuah, dan gurih? Bukan salad. Bukan smoothie. Melainkan semangkuk sop iga panas atau iga penyet dengan sambal yang bikin keringat langsung keluar. Aneh memang, karena cuma makan. Namun entah kenapa, sensasinya terasa seperti dipeluk pelan-pelan.

Karena itulah, sampai sekarang iga sapi tetap punya banyak penggemar.


Dari Dapur Rumah ke Konten Kuliner

Iga sapi punya dua kekuatan utama yang sulit dilawan, dagingnya tebal dan lemaknya lumer di mulut. Kombinasi ini secara biologis langsung memicu rasa senang di otak. Oleh sebab itu, berbagai olahan iga sapi terus bermunculan dan tetap relevan mulai dari sop iga khas Jawa dengan kaldu gurih yang “nendang”, iga penyet bersambal pedas nonjok, hingga asem-asem iga yang segar dan ringan.

Selain itu, media sosial ikut mendorong popularitasnya. Saat ini, konten masak iga sapi semakin sering muncul di linimasa. Ada video slow cooking berjam-jam, ada momen tulang iga copot sendiri, sampai adegan “seruput kuah pertama” yang selalu sukses memicu lapar kolektif. Menariknya, meski tren hidup sehat dan clean eating makin ramai, menu berlemak seperti iga sapi tetap bertahan dan bahkan punya tempat istimewa.

Tak hanya itu, berbagai platform resep online juga mencatat peningkatan pencarian menu berbahan dasar daging sapi terutama iga menjelang akhir pekan dan momen kumpul keluarga. Dengan demikian, iga sapi bukan sekadar makanan, melainkan sudah menjelma menjadi ritual sosial.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan


Kenapa Kita Selalu Balik ke Iga?

Secara psikologis, makanan berlemak dan berkuah memang memberi efek comforting. Lemak secara aktif membantu tubuh melepaskan dopamin, yaitu zat kimia otak yang memunculkan rasa senang. Sementara itu, kuah panas menghadirkan sensasi aman, familiar, dan dekat dengan memori tentang “rumah”. Karena alasan inilah, banyak orang langsung mengaitkan sop iga dengan masakan ibu atau momen kumpul keluarga.

Di sisi lain, tren memasak iga di rumah juga berkaitan erat dengan kondisi sosial. Saat ini, semakin banyak Gen Z dan milenial memilih masak sendiri baik karena pertimbangan ekonomi, kesadaran kesehatan, maupun rasa bosan jajan. Menu seperti sop iga atau asem-asem iga pun menawarkan kepuasan emosional: prosesnya panjang, hasilnya terasa “niat”, dan penyajiannya pas untuk dinikmati bersama.

Sementara itu, iga penyet menghadirkan pengalaman yang berbeda. Sambal pedas dan proses “penyet” sering terasa seperti pelampiasan emosi. Capek kerja? Penyet. Overthinking? Tambah sambal. Tanpa disadari, ada pelepasan stres kecil yang ikut keluar bersama rasa pedas dan keringat.

Menariknya lagi, meski kesadaran soal gizi dan kesehatan terus meningkat, orang-orang tidak serta-merta meninggalkan makanan seperti iga sapi. Yang berubah justru cara menikmatinya. Bukan setiap hari, melainkan di waktu tertentu. Bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi menciptakan pengalaman makan.


Masakan Rumah sebagai Bentuk Self-Care

Fenomena ini juga berkaitan dengan tren slow living. Memasak iga sapi jelas membutuhkan waktu: merebus sampai empuk, menunggu kaldu keluar, lalu memastikan bumbu benar-benar meresap. Di tengah dunia yang serba cepat, proses ini justru menjadi bentuk perlawanan halus. Kita belajar sabar. Kita belajar hadir.

Bagi banyak orang, memasak menu “ribet” seperti iga sapi berfungsi sebagai self-care versi domestik. Kamu tidak perlu spa mahal atau liburan jauh. Cukup dapur rumah, panci besar, dan aroma bawang tumis yang perlahan bikin hati lebih tenang.

Selain itu, masakan ini juga memperkuat hubungan sosial. Jarang ada orang memasak iga sapi hanya untuk diri sendiri. Biasanya, menu ini hadir untuk keluarga, teman serumah, atau acara kumpul. Di sana, ada nilai berbagi dan kebersamaan. Bahkan, ada jeda alami dari dunia digital karena hampir mustahil scroll ponsel sambil menyeruput kuah panas.


Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Di tengah hidup yang semakin kompleks, pilihan makanan ternyata tidak sesederhana lapar atau kenyang. Saat kamu memilih memasak atau menyantap iga sapi, bisa jadi yang kamu cari bukan hanya rasa gurihnya, tetapi juga rasa tenang, rasa terhubung, dan rasa “cukup”.

Sekarang, coba tanyakan ke diri sendiri kapan terakhir kali kamu benar-benar menikmati makanan tanpa terburu-buru? Tanpa menghitung kalori lebih dulu. Tanpa sambil membuka notifikasi.

Pada akhirnya, sesekali menikmati sop iga panas atau iga penyet pedas bukan berarti kamu mengabaikan pola hidup sehat. Sebaliknya, itu bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Karena hidup, seperti iga sapi yang enak, memang butuh lemak dalam batas wajar dan momen untuk berhenti sejenak.

Dan jika dari semangkuk iga sapi kamu bisa merasa sedikit lebih manusia, mungkin itu sudah lebih dari cukup. (red)

Tags: kuliner nusantara

Kamu Melewatkan Ini

Rujak Mangga dan Identitas yang Terlalu Dekat untuk Disadari

Rujak Mangga dan Identitas yang Terlalu Dekat untuk Disadari

by Anisa
Mei 30, 2026

Rujak mangga menghadirkan lebih dari sekadar sensasi pedas dan asam di lidah. Di setiap potongan mangga muda, tersimpan cerita tentang...

Kok Bisa Makanan Korea Lebih Viral daripada Kuliner Nusantara?

Kok Bisa Makanan Korea Lebih Viral daripada Kuliner Nusantara?

by eko
Mei 15, 2026

Makanan Korea tidak hadir sendirian. Ia datang bersama drama romantis, musik K-pop, café aesthetic, dan gaya hidup modern yang terus...

Perempuan Modern, Burnout, dan Semangkuk Seblak Pedas

Seblak Pedas, Burnout, dan Perempuan Modern

by Anisa
Mei 12, 2026

Seblak pedas bukan lagi sekadar jajanan kaki lima bagi banyak perempuan modern. Di tengah hidup yang penuh tekanan, makanan ini...

Next Post
Trump Tarik AS dari 66 Organisasi Dunia: Apa Dampak Bagi Dunia?

Trump Tarik AS dari 66 Organisasi Dunia: Apa Dampak Bagi Dunia?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id