Tabooo.id: Global – Gedung Putih mengejutkan dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana menarik AS dari 66 organisasi internasional, termasuk UN Women, Dana Demokrasi PBB, serta badan-badan iklim seperti UNFCCC dan Intergovernmental Panel on Climate Change. Trump beralasan lembaga-lembaga itu tidak lagi melayani kepentingan Amerika.
Namun, para pakar sains dan aktivis lingkungan menilai langkah ini sebagai “titik terendah baru”. Union of Concerned Scientists (UCS) memperingatkan bahwa keputusan Trump menandai sikap anti-sains dan anti-lingkungan, yang berpotensi merugikan kesejahteraan masyarakat global.
AS Cabut Dukungan, Pendanaan Terhenti
Trump tidak sekadar menutup pintu diplomasi. Ia juga memangkas pendanaan badan internasional dan menghentikan kerja sama dengan lembaga global. International Union for Conservation of Nature, International Renewable Energy Agency, dan UNFCCC langsung terdampak.
Akibatnya, kemampuan AS memengaruhi kebijakan iklim global menurun, sementara negara-negara lain harus menanggung beban tambahan. “Ekspansi energi terbarukan tetap berjalan, tapi kehilangan dukungan AS membuat kerja sama internasional lebih sulit,” kata Petter Lyden dari Germanwatch dikutip dari Deutsche Welle.
Selain itu, langkah Trump menimbulkan ketidakpastian investasi dan kolaborasi internasional, terutama dalam proyek energi bersih.
Yang mendapat keuntungan jelas: industri minyak dan gas AS, serta kelompok yang menyebut perubahan iklim “tipuan politik.” Sebaliknya, masyarakat Amerika dan dunia menanggung kerugian, karena mereka kehilangan akses ke sains mutakhir, investasi energi bersih, dan perlindungan dari bencana iklim yang semakin mahal.
Gina McCarthy, Ketua Koalisi Aksi Iklim America Is All In (AIAI), menyebut keputusan Trump “picik, memalukan, dan bodoh.” Ia menekankan bahwa penarikan AS dari UNFCCC melepaskan pengaruh triliunan dolar investasi yang seharusnya mendorong ekonomi sekaligus melindungi warga dari bencana iklim.
Eropa dan Negara Bagian AS Bergerak
Sementara itu, Eropa menegaskan komitmen mereka. Kepala Urusan Iklim Uni Eropa, Wopke Hoekstra, menulis bahwa UNFCCC tetap menjadi fondasi aksi iklim global. Menteri Lingkungan Jerman, Carsten Schneider, menegaskan bahwa aliansi baru, pasar karbon, dan percepatan energi terbarukan masih berjalan, meski AS menarik diri.
Di dalam negeri, negara bagian seperti California bergerak di tingkat lokal dan regional untuk menutup kekosongan yang ditinggalkan pemerintah federal. McCarthy menegaskan bahwa koalisi AIAI akan terus membangun peluang dan harapan bagi masyarakat, memastikan energi bersih tetap dapat diakses oleh publik.
Catatan Akhir
Langkah Trump mengingatkan satu hal: di era krisis iklim, keputusan satu pemerintah bisa memengaruhi jutaan orang. Namun, dunia terus bergerak. Badan lokal, negara bagian, dan negara lain tetap maju. Ironisnya, meski AS menarik diri, masa depan rendah karbon tetap tak bisa dibatalkan oleh ego seorang presiden.
Di akhir hari, seperti kata para aktivis: planet ini tidak menunggu siapa pun, bahkan Presiden Amerika sekalipun. (red)







