Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Denada Digugat Rp 7 Miliar: Gugatan Anak dan Harga Sebuah Citra

by sigit
Mei 8, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Tidak ada backsound orkestra. Tidak ada lampu panggung. Sebaliknya, ruang pengadilan melontarkan satu kalimat dingin “Saya anak yang ditinggalkan.”
Kalimat itu langsung memotong sunyi. Ia tidak hadir sebagai gosip selebritas, melainkan sebagai gema panjang dari keputusan 24 tahun lalu saat nama besar, rahim perempuan, dan rasa malu sosial saling bertubrukan.

Sejak awal, kasus ini menolak label sebagai sekadar drama artis. Ia lebih mirip luka lama yang akhirnya memilih bicara.

Gugatan yang Membuka Masa Lalu

Ressa Rizky Rosano, seorang pemuda asal Banyuwangi, menggugat Denada ke Pengadilan Negeri Banyuwangi. Ia mengaku sebagai anak kandung yang Denada tinggalkan sejak kecil. Karena itu, ia menuntut hak sebagai anak sekaligus ganti rugi materiil senilai Rp 7 miliar hasil akumulasi biaya hidup dan pendidikan yang, menurutnya, tak pernah ia terima.

Sementara itu, Denada melalui kuasa hukumnya menyatakan kesiapan menghadapi gugatan tersebut. Proses hukum pun berjalan. Bukti akan berbicara di persidangan. Publik, di sisi lain, terus menunggu sambil bertanya: apakah perkara ini soal kebenaran biologis, atau justru soal luka psikologis yang terlalu lama terpendam?

Ibu, Citra, dan Anak yang Tak Pernah Diakui

Kasus ini tidak berhenti pada tes DNA atau pasal perbuatan melawan hukum. Lebih jauh, kasus ini menyorot sosok ibu sebagai figur publik dan meminggirkan anak sebagai bayangan yang lama terabaikan. Di titik ini, cerita menjadi jauh lebih kompleks.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Terutama, kasus ini memperlihatkan bagaimana sorotan publik kerap memaksa perempuan memilih antara menjaga citra atau mengakui naluri. Popularitas menuntut kebisuan, bahkan ketika orang lain dalam hal ini seorang anak harus membayar konsekuensinya.

Bagi anak muda hari ini, kisah Ressa terasa dekat. Banyak dari mereka tumbuh dengan orang tua yang “ada tapi tiada” hadir secara administratif, tetapi absen secara emosional dan tanggung jawab. Karena itu, gugatan ini terdengar seperti teriakan generasi yang lelah berdamai tanpa kejelasan.

Selain itu, kasus ini juga memuat lapisan kelas dan geografi. Jakarta tampil sebagai panggung gemerlap, sementara Banyuwangi menjadi ruang sunyi tempat rahasia disimpan. Namun, seiring waktu, karier dan reputasi yang terus melaju ke depan ternyata tidak pernah benar-benar mampu meninggalkan masa lalu. Pada akhirnya, masa lalu itu menyusul pelan, tetapi mematikan.

Mengapa Kasus Ini Penting Sekarang

Di era ketika healing berubah menjadi jargon dan trauma menjelma konten, kasus ini hadir sebagai pengingat keras. Tidak semua luka selesai dengan unggahan Instagram atau obrolan podcast. Beberapa luka justru menuntut keadilan formal dan pengakuan nyata.

Karena itu, esensi kasus ini tidak terletak pada siapa yang paling benar. Sebaliknya, ia terletak pada keberanian membuka percakapan publik tentang tanggung jawab orang tua, hak anak, dan kesediaan menghadapi sejarah personal yang selama ini sengaja disembunyikan.

Penilaian Akhir

Ini bukan tontonan. Namun, ini juga bukan sekadar berita hukum.
Tabooo banget.

Sebab, pada akhirnya, kasus ini memaksa kita menoleh ke satu kenyataan pahit terkadang, yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan melainkan tidak pernah diakui sama sekali. (red)

Tags: AnakArtisbanyuwangiPengadilan

Kamu Melewatkan Ini

Pintar Itu Banyak. Etis? Kok Jadi Minoritas?

Pintar Itu Banyak. Etis? Kok Jadi Minoritas?

by teguh
Mei 4, 2026

Di dunia digital yang penuh kebocoran data, ransomware, dan hacker kriminal, kabar ini terasa agak “nggak biasa”.Sementara itu, seorang siswa...

Ditemukan NASA, Diapresiasi Negara: Kenapa Selalu Urutannya Begini?

Ditemukan NASA, Diapresiasi Negara: Kenapa Selalu Urutannya Begini?

by teguh
Mei 4, 2026

Di sebuah sekolah di Subang, seorang anak 14 tahun menerima hadiah tablet dari negara. Momen itu terasa sederhana hampir simbolik....

Galaxy Tab A11 Plus Kids Edition: Gadget Anak Bukan Sekadar Mainan

Galaxy Tab A11 Plus Kids Edition: Gadget Anak Bukan Sekadar Mainan

by teguh
Mei 8, 2026

Di banyak rumah modern, layar sudah menjadi “pengasuh tambahan”. Kini, pertanyaannya bukan lagi boleh atau tidak anak memakai gadget, tetapi...

Next Post
Konsep Otomatis

KPK Tetapkan Yaqut-Gus Alex, Perburuan Tersangka Lain Belum Berhenti

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id