Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Muhammad Arief: Pencipta Genjer-Genjer yang Hilang Ditelan Stigma

by Tabooo
Juni 3, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on FacebookShare on Twitter
Muhammad Arief adalah pencipta Genjer-Genjer. Ia menulis lagu tersebut dari sawah, dapur, dan perut rakyat Banyuwangi yang lapar. Ia bukan memulai hidup sebagai simbol politik, melainkan sebagai seniman rakyat yang menangkap penderitaan zamannya lewat lagu sederhana. Namun setelah 1965, aparat menangkap Arief, memenjarakannya, dan Tak pernah lagi ada kabarnya. Keluarganya mewarisi stigma yang tidak pernah mereka pilih.

Tabooo.id – Nama Muhammad Arief sering muncul hanya sebagai catatan kaki dalam perdebatan Genjer-Genjer.

Sebagian orang mengenalnya sebagai pencipta lagu yang dekat dengan PKI. Sebagian lain bahkan tidak peduli siapa dia. Yang mereka ingat hanya satu hal, bahwa Genjer-Genjer, lagu yang selama puluhan tahun seperti suara yang terlarang.

Padahal manusia di balik lagu itu jauh lebih kompleks.

Muhammad Arief bukan sekadar “seniman kiri”. Tapi juga berasal dari lingkungan santri. Ia juga seorang petani, pemusik angklung, pembuat instrumen.

Terlebih lagi, ia adalah seorang ayah dan suami.

Ini Belum Selesai

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Refal Hady dan Wajah Anak Sulung yang Memikul Segalanya

Muhammad Arief adalah seorang laki-laki yang melihat kemiskinan bukan sekadar teori, tapi sebagai sepiring makanan untuk keluarga.

Di titik itu, Muhammad Arief menjadi tokoh yang tidak bisa kita baca sepintas lalu. Kita harus melihat bagaimana seseorang bisa punya banyak lapisan, lalu negara menyisakan satu cap saja.

Anak Santri yang Sering Bersenandung Dini Hari

Muhammad Arief lahir sekitar 1904 atau 1905 di Pesanggaran, Banyuwangi. Nama lahirnya Syamsul Muarif. Kelak, publik lebih mengenalnya sebagai Muhammad Arief.

Ia tumbuh dalam keluarga santri yang taat.

Latar ini penting karena stigma politik setelah 1965 sering menghapus sisi personal seseorang. Arief tercatat sebagai seniman yang dekat dengan kiri, tetapi masa kecil dan lingkungan religiusnya jarang mendapat ruang yang adil.

Ia fasih berbahasa Arab. Ia juga akrab dengan tradisi Islam Jawa yang hidup di lingkungannya.

Ada satu detail kecil yang terasa manusiawi.

Saat mengolah melodi, Arief sering bersenandung pelan pada dini hari. Sekitar pukul tiga atau empat pagi, ketika rumah masih gelap dan sunyi, ia menggali nada dengan cara rengeng-rengeng.

Ayahnya kadang menegur.

Bukan karena membenci seni. Suara gumaman itu mengganggu kekhusyukan salat malam.

Bayangkan adegan itu.

Seorang anak mencari melodi. Seorang ayah menjaga ibadah. Di antara keduanya, ada rumah kecil yang menyimpan ketegangan paling hangat dan sederhana, antara seni dan disiplin religius hidup dalam satu atap.

Jauh sebelum politik menyeret namanya, Arief adalah manusia biasa dalam keluarga yang sangat nyata.

Dari Sawah, Angklung, dan Hidup Rakyat Kecil

Arief bekerja sebagai petani. Namun hidupnya tidak berhenti di tanah.

Ia juga membuat instrumen dan memainkan angklung caruk, kesenian khas masyarakat Osing Banyuwangi. Dari lingkungan inilah kepekaan musikalnya tumbuh.

Arief tidak belajar musik sebagai dekorasi panggung elite. Baginya, musik berangkat dari kehidupan sekitar, seperti sawah, pasar, ibu-ibu yang memetik tanaman liar, dan terutama rakyat yang mencari makan ketika bahan pangan makin sulit.

Pada masa pendudukan Jepang, Banyuwangi ikut menanggung beban berat. Romusha, penjarahan hasil bumi, dan krisis pangan membuat banyak sawah terbengkalai. Dalam keadaan itu, masyarakat miskin mulai memakan genjer, tanaman air yang sebelumnya hanya menjadi pakan ternak.

Di sinilah Arief menangkap sesuatu.

Kemiskinan tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang cukup hanya dengan muncul sebagai perubahan menu makan. Sesuatu yang dulu hanya menjadi gulma, tiba-tiba tersaji di meja makan, karena hidup sudah terlalu sempit.

Dari situ, Genjer-Genjer lahir.

Genjer-Genjer: Lagu Kelaparan, Bukan Manifesto

Arief menciptakan Genjer-Genjer sekitar 1942 atau 1943.

Secara musikal, ia mengambil inspirasi dari lagu dolanan lokal Banyuwangi berjudul Tong Alak Gentak. Namun ia mengganti liriknya dengan syair baru berbahasa Osing.

Lagu itu menceritakan genjer yang tumbuh di sawah, ibu yang mencabutnya, pasar yang menjualnya, periuk yang merebusnya, dan nasi yang dimakan bersama lauk sederhana.

Tidak ada jargon partai atau ajakan revolusi. Tidak ada kata-kata besar yang sok ideologis. Yang ada hanya hidup rakyat kecil ketika zaman sedang kejam.

Justru di situlah kekuatan Genjer-Genjer.

Lagu ini tidak menjelaskan penderitaan dengan bahasa akademik. Ia menunjukkan isi piring orang miskin. Kadang, itu jauh lebih menghantam daripada pidato panjang.

Namun nasib lagu rakyat jarang aman. Terutama ketika lagu itu menjadi nyanyian massa.

Ketika Seniman Rakyat Masuk Arus Politik

Setelah Indonesia merdeka, hidup Arief bergerak ke ruang yang lebih politis.

Ia pernah bergabung dengan Pesindo dan sempat bertugas di lingkungan militer dengan pangkat sersan. Memasuki 1950-an, ia bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra.

Di Banyuwangi, Arief menjabat sebagai ketua bidang kesenian. Ia juga mendirikan Seni Rakyat Indonesia Muda atau Srimuda, grup angklung yang membawakan Genjer-Genjer dalam berbagai acara dan rapat politik.

Di sinilah posisi Arief menjadi rumit.

Ia bukan lagi hanya pencipta lagu rakyat. Namun juga bergerak dalam organisasi kebudayaan yang beririsan dengan politik kiri.

Pada 1955, ia terpilih sebagai anggota DPRD-GR Tingkat II Banyuwangi dari golongan karya seniman.

Dari sisi kebudayaan, ini menunjukkan pengaruhnya. Dari sisi politik, ini kelak menjadi jalan masuk bagi stigma.

Sebab setelah 1965, negara tidak membaca seseorang secara utuh. Negara cukup membaca afiliasi, jaringan, dan dugaan. Sisanya bisa hilang.

Lagu yang Pernah Hampir Menjadi Kebanggaan Nasional

Genjer-Genjer tidak selalu menakutkan.

Pada awal 1960-an, lagu ini justru bergerak luas dalam kebudayaan populer. Pejabat kebudayaan era Sukarno pernah mendengar lagu ini saat singgah di Banyuwangi dalam perjalanan menuju Bali.

Mereka terpikat oleh kekuatan rural dan rasa kerakyatan di dalamnya.

Setelah itu, Genjer-Genjer makin sering terdengar melalui RRI dan TVRI. Bing Slamet dan Lilis Suryani kemudian merekam ulang lagu ini pada 1965.

Baca bagian ini baik-baik.

Sebelum negara membuat orang takut, Genjer-Genjer pernah hidup sebagai lagu populer.

Sebelum publik mewarisi stigma, lagu ini pernah mengalir sebagai bagian dari musik Indonesia.

Nada yang sama bisa berubah makna ketika kekuasaan mengganti bingkai.

Itulah nasib karya di negeri yang penguasa memiliki “kesaktian” untuk mengendalikan ingatan masyarakat.

1965: Rumah Dikepung, Hidup Runtuh

Setelah G30S meletus pada 1965, kehidupan Muhammad Arief runtuh.

Sebagai figur publik yang berafiliasi dengan organisasi kiri, ia menjadi target. Gelombang anti-komunis sampai ke Banyuwangi. Massa mengepung dan merusak rumah keluarganya di Jalan Kyai Shaleh Nomor 47, Temenggungan.

Di tengah kepanikan itu, Arief membakar buku dan dokumen bacaan berhaluan kiri. Bukan karena itu menghapus sejarah. Ia mencoba menyelamatkan keluarganya dari tuduhan yang bisa menjadi lebih ganas.

Namun keadaan bergerak lebih cepat daripada harapan.

Tentara dari Corps Polisi Militer menangkap Arief, dan membawanya ke markas CPM Banyuwangi. Keesokan harinya, istrinya, Sayekti, datang bersama anak mereka, Sinar Syamsi, untuk menjenguknya.

Pertemuan itu menjadi perjumpaan terakhir.

Bayangkan anak kecil melihat ayahnya di tahanan, tanpa tahu bahwa sejarah sedang menutup pintu untuk selamanya.

Dari CPM ke Lowokwaru, Lalu Hilang

Penahanan Arief di Banyuwangi tidak berlangsung lama. Otoritas militer kemudian memindahkannya ke Kalibaru. Dengan alasan keamanan, karena amuk massa makin tidak terkendali.

Dari Kalibaru, ia dibawa ke Lapas Lowokwaru, Malang.

Di sana, kondisi psikologisnya memburuk. Ia jarang bicara dan semakin menarik diri. Bukan hanya memikirkan nasibnya sendiri, tetapi juga mencemaskan anggota Srimuda dan para pemusik angklung yang ikut menjadi sasaran perburuan.

Pada Desember 1965, petugas memanggil namanya.

Mereka menyebut Arief akan pindah ke Sukabumi. Setelah keluar dari pintu sel Lowokwaru, ia tidak pernah kembali.

Tidak pernah ada catatan pengadilan. Keluarga juga tidak menerima kabar sedikitpun. Bahkan sampai hari ini, makamnya tetap tidak jelas.

Tubuhnya hilang. Namanya tinggal dalam lagu yang kemudian menjadi momok menakutkan.

Narasi Publik vs Fakta

Narasi publik: Muhammad Arief hilang karena ia bagian dari jaringan politik kiri.
Fakta: Ia tidak pernah mendapat proses hukum terbuka yang bisa menguji tuduhan terhadapnya.

Narasi publik: Keluarganya ikut menanggung akibat karena darah dianggap membawa dosa politik.
Fakta: Stigma kepada keluarga korban 1965 menjadi hukuman sosial lintas generasi.

Narasi publik: Genjer-Genjer pantas ditakuti karena pernah dipakai kelompok kiri.
Fakta: Pemakaian politik tidak otomatis menghapus asal-usul lagu sebagai karya rakyat tentang kelaparan.

Narasi publik: Sejarah sudah selesai.
Fakta: Selama makam belum jelas, nama belum dipulihkan, dan keluarga masih menanggung stigma, sejarah belum benar-benar selesai.

Anak yang Menyelamatkan Buku Catatan Ayahnya

Saat rumah keluarga Arief dijarah, Sinar Syamsi masih berusia sekitar 11 tahun.

Di tengah kekacauan itu, ia mengambil tiga buku catatan ayahnya yang berserakan. Buku-buku itu berisi syair dan notasi lagu. Ia menyimpannya diam-diam selama 49 tahun.

Bayangkan benda itu. Kertas tua, bungkus koran bekas, kantong plastik, dan tulisan tangan yang bertahan lebih lama daripada keadilan.

Di salah satu buku, Genjer-Genjer tertulis dengan tinta hitam. Selain lagu itu, ada pula karya lain seperti Mars Ganefo, Mars Lekra, Aksi Tani, dan Harian Rakjat.

Buku itu bukan sekadar arsip musik, melainkan bukti bahwa seorang manusia pernah menulis, mencipta, dan hidup sebelum negara mereduksinya menjadi cap.

Keluarga yang Dihukum Tanpa Putusan

Setelah Arief hilang, Sayekti dan anak-anaknya tidak mendapat ruang hidup yang mudah.

Rumah lama mereka dijarah dan kemudian dikuasai pihak lain. Keluarga pindah ke tanah warisan sang nenek di Jalan Boediono Nomor 26.

Namun teror belum selesai.

Selama bertahun-tahun, rumah itu kerap dilempari batu oleh orang-orang yang tidak menyukai keluarga mereka.

Sayekti hidup dalam tekanan mental yang panjang sampai wafat pada 1997.

Sinar Syamsi tumbuh dengan olok-olok “anak PKI”. Dari SD sampai SMA, stigma itu menempel seperti nama kedua.

Ia pernah mencoba masuk TNI Angkatan Laut. Seleksi administrasi menghentikannya karena kebijakan “bersih diri” Orde Baru.

Pekerjaan formal juga sulit ia dapatkan.

Istrinya, Titik Puji Rahayu, kemudian menopang ekonomi keluarga dengan berdagang kue tradisional.

Di sini, tragedi tidak lagi terlihat seperti berita besar. Ia berubah menjadi hari-hari kecil yang berat.

Pintu kerja tertutup.

Tetangga mencurigai.

Anak-anak tumbuh dalam bayangan nama keluarga.

Sementara lagu Genjer-Genjer terus hidup, keluarga penciptanya justru bertahan dengan sangat sedikit pengakuan.

Ketika Royalti Lebih Kecil dari Luka

Ada ironi yang hampir keterlaluan.

Genjer-Genjer terkenal luas. Banyak orang membicarakannya. Sebagian menyanyikannya. Meski sebagian lain melarangnya.

Namun keluarga penciptanya hidup dalam kesulitan.

Royalti lokal yang pernah mereka terima disebut hanya sekitar Rp 300.000. Angka itu terasa kejam jika dibandingkan dengan beban sejarah yang mereka tanggung.

Pengakuan yang lebih terasa justru datang dari luar negeri. Pada awal 2010-an, musisi Indonesia yang tinggal di Jerman, Tomi Simatupang, menggelar konser audiovisual solidaritas bertajuk Genjermania di Berlin.

Dana sekitar Rp 7 juta diserahkan kepada Sinar Syamsi.

Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin tidak besar. Bagi keluarga yang terlalu lama diabaikan, bantuan itu membawa sesuatu yang jarang mereka dapat, tentang pengakuan bahwa karya ayah mereka punya nilai manusiawi.

Kadang bangsa sendiri terlalu sibuk takut pada sejarahnya, sampai orang luar lebih dulu melihat sisi manusianya.

Eksodus dari Banyuwangi

Stigma tidak berhenti hanya karena rezim berganti.

Setelah Reformasi, larangan formal memang melemah. Namun ketakutan sosial tidak langsung hilang dari rumah-rumah warga.

Pada Mei 2015, Sinar Syamsi mengambil keputusan besar. Ia menjual rumah warisan di Banyuwangi dan pindah bersama keluarganya ke Tangerang.

Keputusan itu bukan sekadar pindah alamat. Itu eksodus dari stigma. Ia ingin anak-anaknya hidup tanpa terus-menerus dibayangi sebutan “keturunan PKI”. Ia ingin memutus rantai curiga yang terlalu lama menempel pada nama keluarga.

Ada yang sangat sedih dalam keputusan itu.

Seseorang harus meninggalkan tanah asalnya bukan karena tidak cinta, tetapi karena tanah itu terlalu lama menyimpan batu yang dilemparkan ke rumahnya.

Terbungkam tapi Tak Pernah Hilang

Orde Baru berusaha membuat Genjer-Genjer menjadi tabu. Namun sebuah karya seni tidak selalu patuh pada larangan.

Iwan Fals pernah memakai unsur melodinya dalam Surat Buat Wakil Rakyat pada 1987, lalu lagu itu dicekal. Pada era berikutnya, berbagai musisi independen dan eksperimental kembali menyentuh Genjer-Genjer, dari OmpRock, Nova Ruth, Grey Filastine, Mesin Sampink, sampai Dengue Fever.

Beberapa membawakannya sebagai arsip musik. Sebagian menggunakannya sebagai kritik sosial. Yang lain melihatnya sebagai warisan melodi yang lebih besar daripada propaganda politik.

Genjer-Genjer terus muncul. Mungkin karena lagu yang lahir dari penderitaan rakyat punya daya tahan aneh. Ia bisa dibungkam, tetapi sulit dimatikan.

Kenapa Muhammad Arief Masih Penting Dibaca Hari Ini

Muhammad Arief penting bukan hanya karena ia menciptakan Genjer-Genjer.

Ia penting karena hidupnya menunjukkan bagaimana negara, politik, dan stigma bisa menghancurkan manusia melalui satu jalur yang sangat licin, hanya dengan “label”.

Seseorang bisa lahir sebagai seniman. Lalu tercatat sebagai kader politik. Kemudian mendapatkan tuduhan sebagai ancaman. Akhirnya, hilang tanpa proses pengadilan.

Setelah itu, keluarganya mewarisi hukuman yang tidak pernah mereka pilih.

Di sini, biografi Arief melampaui musik.

Ia menjadi cerita bagaimana ingatan publik dibentuk, bagaimana karya seni bisa diseret ke ruang politik. Dan bagaimana keluarga bisa dihukum bukan karena perbuatan, tetapi karena hubungan darah.

Yang paling pahit, adalah tentang bagaimana bangsa bisa menikmati lagu, tetapi melupakan manusia yang menciptakannya.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Kisah Muhammad Arief memaksa kita berhati-hati terhadap cap.

Hari ini cap bisa tersematkan pada sebuah lagu. Besok bisa juga pada buku. Lalu pada film. Bukankah itu juga yang banyak terjadi di masa sekarang?

Begitu label menang lebih dulu, fakta sering datang terlambat. Bahkan kadang tidak pernah diberi panggung.

Membaca Arief bukan berarti menghapus sejarah politik 1965. Itu terlalu dangkal.

Tapi mengakui bahwa sejarah penuh manusia yang dibuat hilang karena masyarakat terlalu cepat percaya pada narasi pemenang, itu penting.

Kalau kita tidak belajar dari situ, kita hanya mengganti objek. Caranya tetap sama.

Cap dulu.

Takutkan publik.

Matikan pertanyaan.

Setelah itu, sebut semuanya demi keamanan.

Lagunya Hidup, Penciptanya Tidak Pernah Pulang

Muhammad Arief menulis lagu tentang genjer, sawah, pasar, dan nasi. Sejarah kemudian menulis namanya dengan tinta merah darah.

Ia tidak pulang dari Lowokwaru. Tidak ada makam yang jelas. Peradilan juga tidak pernah membuka ruang untuk menguji tuduhan terhadapnya. Sementara itu, tak pernah ada pemulihan yang benar-benar mengembalikan hidup keluarganya seperti semula.

Namun lagunya tetap hidup. Dan di situlah ironi paling tajam.

Kekuasaan bisa menghilangkan tubuh. Stigma bisa merusak nama. Tapi karya yang lahir dari penderitaan rakyat kadang punya umur lebih panjang daripada rezim yang melarangnya.

Mungkin Genjer-Genjer bukan hanya lagu tentang genjer, tapi juga tentang ingatan yang tidak mau lupa. @tabooo

Tags: banyuwangiG30SGenjer-GenjerLekraMuhammad AriefOrde BaruPKITabooo Figures

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

by Tabooo
Juni 3, 2026

Excerpt: Genjer-Genjer sering dicap sebagai lagu PKI. Padahal lirik aslinya bicara tentang genjer, sawah, pasar, dapur, dan rakyat miskin yang...

Benarkah Genjer-Genjer adalah Lagu PKI? Cek Faktanya

Benarkah Genjer-Genjer adalah Lagu PKI? Cek Faktanya

by Tabooo
Juni 3, 2026

Genjer-Genjer sering dicap sebagai lagu PKI. Padahal, sejarahnya lebih rumit. Lagu ini lahir dari kelaparan rakyat Banyuwangi pada masa pendudukan...

Next Post
Peluru di Kampus: Misteri Proyektil yang Melukai Mahasiswa UNP

Peluru di Kampus: Misteri Proyektil yang Melukai Mahasiswa UNP

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id