Tabooo: Talk – Kamu tahu nggak, setiap kali Timnas main dan kalah tipis, linimasa langsung berubah jadi ruang terapi nasional. Ada yang bilang, “Santai, ini proses.” Ada juga yang menulis panjang lebar soal “fondasi jangka panjang.” Tapi jujur aja, berapa lama sih kita mau hidup di fase pembangunan abadi ini?
Karena kalau dipikir-pikir, kalimat “proses belum selesai” itu sudah jadi semacam jimat sakral sepak bola Indonesia. Dari era pelatih lokal, pelatih bule, sampai pelatih yang katanya punya visi Eropa ending-nya selalu sama: proses, bukan progres.
Mari kita bahas kenyataannya.
Indonesia baru saja kalah 2–3 dari Arab Saudi. Dua golnya datang dari penalti. Kalau bukan karena tangan Tuhan yang lain alias keberuntungan mungkin kita nggak mencetak gol sama sekali. Serangan terbuka? Nyaris nihil. Lini tengah? Seperti jalanan Jakarta pas hujan macet dan becek.
Patrick Kluivert, dengan senyum diplomatisnya, bilang: “Kita sedang membangun masa depan.”
Oke, fair. Tapi publik Indonesia bukan lagi anak kecil yang bisa ditenangkan dengan kata “nanti.” Kita sudah puluhan tahun menunggu “masa depan” itu datang, tapi yang muncul malah hasil undian kualifikasi berikutnya.
Kita harus jujur:
Timnas Indonesia belum siap main di level dunia.
Fisik pemain sering kehabisan bensin sebelum menit ke-80, visi permainan seperti sinyal Wi-Fi publik putus nyambung, dan strategi masih lebih banyak bergantung pada heroisme individu ketimbang struktur tim.
Masalahnya bukan cuma di lapangan. Sistem pembinaan masih bolong di mana-mana. Klub lebih fokus cari pemain asing instan ketimbang membangun akademi. Liga pun lebih sering jadi drama antara wasit, manajemen, dan komentator yang lebih panas dari pemainnya.
Dan kita, para penonton, juga punya kontribusi kecil dalam siklus ini. Setiap kali ada pemain mencetak satu gol spektakuler, kita langsung naikkan ekspektasi ke langit: “Lihat! Ini dia calon bintang Asia!”
Seminggu kemudian, pemain itu cedera, diserang netizen, lalu menghilang dari berita. Siklusnya tragi komedi banget. @jeje





