Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB, Rekam Jejak HAM Dalam Negeri Jadi Sorotan

by sigit
Januari 10, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Indonesia resmi menduduki kursi Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB. Di atas kertas, capaian ini terlihat sebagai prestasi diplomatik yang patut dirayakan. Pemerintah mendapat panggung terhormat di forum global. Namun sorotan internasional justru ikut menyoroti kondisi HAM di dalam negeri dan hasilnya jauh dari kata mulus.

Skor HAM Mandek, Bukan Melesat

Laporan Freedom House 2024–2025 menempatkan Indonesia dalam kategori Partly Free dengan skor 56–57 dari 100. Angka itu menunjukkan stagnasi. Kebebasan sipil tak bergerak maju, penegakan hukum masih pincang, dan hak politik warga belum sepenuhnya terlindungi. Kursi prestisius di PBB tak otomatis menutup rapor merah di rumah sendiri.

PR Lama yang Tak Kunjung Selesai

Masalah HAM Indonesia tak berhenti pada angka indeks. Negara masih menyimpan banyak pekerjaan rumah. Pemerintah belum menuntaskan pelanggaran HAM berat masa lalu, sementara situasi Papua terus memanas. Kasus intoleransi beragama tetap berulang, dan UU ITE masih sering menjerat kebebasan berekspresi.

Di tengah itu semua, muncul pula kesan negara berusaha mengaburkan jejak pelanggaran HAM, termasuk kasus pemerkosaan massal dalam kerusuhan Mei 1998. Luka lama belum sembuh, tapi negara sudah berdiri di mimbar moral dunia.

Publik Sinis, Elit Tepuk Tangan

Peneliti Senior CSIS Jakarta, Vidhyandika Djati Perkasa, menangkap nada sinis publik terhadap pencapaian ini.
“Di media sosial, keterpilihan Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM itu kayak lelucon,” ujarnya di kutip dari Deutche Welle.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHWTM ke-123, Persaudaraan Jadi Kekuatan

Pemerintah Janji Redam PHK, Tapi Industri Sudah Mulai Berguguran

Menurutnya, publik paham betul jurang lebar antara prestasi internasional dan realitas domestik. Di luar negeri Indonesia berbicara soal HAM, sementara di dalam negeri banyak kasus justru mandek di tempat.

Siapa Untung, Siapa Buntung?

Yang paling diuntungkan jelas elit politik dan diplomasi. Jabatan ini mempercantik citra Indonesia sebagai negara demokratis di mata dunia. Namun dampaknya tak otomatis dirasakan publik.

Yang justru menanggung beban ialah warga biasa korban pelanggaran HAM, masyarakat Papua, kelompok minoritas, hingga mereka yang tersandung pasal karet UU ITE. Mereka menghadapi realitas HAM sehari-hari, bukan panggung pidato internasional.

Vidhyandika menegaskan, persoalan HAM di Indonesia selalu bersinggungan dengan kepentingan politik dan ekonomi elit. Papua, misalnya, bukan sekadar soal keamanan, melainkan arena tarik-menarik kepentingan ekonomi-politik yang kompleks.

Peluang Reformasi atau Sekadar Seremoni

Di satu sisi, presidensi Dewan HAM PBB bisa menjadi titik balik. Sorotan dunia dapat menekan pemerintah agar bergerak lebih serius menyelesaikan kasus HAM yang selama ini terbengkalai. Jika pemerintah memanfaatkan momentum ini, reformasi HAM bisa mendapat dorongan nyata.

Namun risikonya juga besar. Tanpa perubahan konkret, sorotan internasional justru akan berubah menjadi bumerang diplomatik. Posisi moral Indonesia akan rapuh saat berbicara soal HAM negara lain, sementara fondasi di dalam negeri masih keropos.

Ujian di Tengah Dunia yang Retak

Tantangan Indonesia tak berhenti di dalam negeri. Presidensi ini berlangsung di tengah geopolitik global yang kacau. Dunia bergerak ke arah multipolar, komitmen terhadap HAM melemah, dan negara besar seperti Amerika Serikat mulai menjauh dari Dewan HAM PBB.

Indonesia pun berada di posisi sulit. Mengaku nonblok, tapi tetap bergantung pada kepentingan ekonomi dan politik Amerika Serikat, Cina, dan Rusia.

Vidhyandika mengaku pesimistis. Ia khawatir jabatan ini hanya akan menjadi kosmetik diplomatik mengilap di luar, kosong di dalam.
“Kalau cuma jadi trofi tanpa substansi, justru akan memperburuk peran Indonesia ke depan,” katanya.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana apakah Indonesia akan memakai kursi Presiden Dewan HAM PBB untuk bercermin, atau sekadar untuk berfoto?
Sejarah sudah berkali-kali mengingatkan, gelar internasional tak pernah cukup untuk menutupi luka HAM yang belum disembuhkan di rumah sendiri. (red)

Tags: KemenluNasionalPBBpresidenri

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

BPIP Undang Semua Mantan Presiden ke Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Datang?

by teguh
Mei 29, 2026

Hari Lahir Pancasila tahun ini terasa lebih dari sekadar seremoni negara. Di tengah dinamika politik nasional, publik mulai bertanya: siapa...

Next Post
Berani Melepas Tanpa Membenci: Ujian Tertinggi Bernama Cinta

Berani Melepas Tanpa Membenci: Ujian Tertinggi Bernama Cinta

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id