Tabooo.id: Edge – Di Jawa Tengah, politik kadang terasa seperti kebun binatang yang buka sejak pagi. Banteng duduk santai, rumput tersedia, kamera sudah hafal sudutnya. Tiba-tiba muncul seekor gajah muda, masih hangat-hangat kuku, sambil berkata, “Geser dikit, ya. Aku mau jadi tuan rumah.”
Begitulah suasana ketika Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menyatakan Jawa Tengah sebagai “kandang gajah”. Ambisinya besar, metaforanya flamboyan, dan komentar itu membuat banteng mengangkat alis tanpa perlu berdiri.
Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira menanggapi wacana ini dengan tenang, layaknya orang dewasa melihat anak baru belajar bersepeda.
“PDI Perjuangan tetap PDI Perjuangan. Dari dulu kami sudah terbiasa dengan dinamika seperti itu,” ujarnya, Jumat (9/1/2026).
Kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi silakan mencoba, kami sudah lama di sini.
Data Tidak Pernah Bercanda, Tapi Sering Disindir
Andreas bicara berdasarkan fakta. Pada Pemilu Legislatif 2024, PDI-P memenangkan Jawa Tengah kembali. Kemenangan itu terjadi di tengah konfigurasi kekuasaan yang kompleks.
Ia mengingatkan bahwa PDI-P berhadapan dengan “satu keluarga” yang memiliki pengaruh dan akses kekuasaan luas. Meski demikian, banteng tetap menaklukkan kandang lama.
“Dengan situasi seperti kemarin, satu keluarga berdiri dengan segala kekuasaannya, tetap saja PDI Perjuangan menang,” tambahnya.
Politik Jawa Tengah bukan sekadar soal semangat. Ia juga soal memori panjang pemilih dan memori politik, seperti mantan, susah dilupakan.
Gajah Datang dengan Target, Bukan Dongeng
PSI tidak membawa pantun, tapi angka. Kaesang menargetkan 17 kursi DPRD Provinsi Jawa Tengah pada Pemilu 2029, naik dari 12 kursi saat ini.
“Jujur saja, 12 kursi itu masih terlalu kecil untuk Jawa Tengah,” ujar Kaesang di Solo, Kamis (8/1/2025).
Ia juga menargetkan minimal 100 kursi DPRD kabupaten/kota. Jika target tercapai, peta politik bisa bergeser, bukan hanya kandang. Namun kenyataannya, politik Indonesia sering mengajarkan satu hal pahit: target mudah diumumkan, tapi sulit dicapai terutama di wilayah yang nyaman dengan satu merek tertentu.
Solo, Etalase Kebangkitan PSI
Kaesang menampilkan Solo sebagai bukti hidup bahwa PSI mampu tumbuh. Dari satu kursi DPRD, partai itu melonjak menjadi lima, bahkan menempatkan kadernya sebagai pimpinan DPRD sekaligus memiliki Wakil Wali Kota.
Dalam presentasi politik, ini disebut success story. Dalam realitas, ini hanyalah contoh yang belum tentu bisa direplikasi. PSI berharap Solo menjadi blueprint, sementara PDI-P memandangnya sebagai bagian kecil dari peta besar yang belum tentu mengubah lanskap.
Pemilih Jadi Penonton, Sekaligus Juri
Di balik adu metafora banteng dan gajah, pemilih menjadi pihak paling menentukan. Mereka bukan penonton pasif, melainkan juri yang menilai apakah cerita politik ini layak lanjut ke musim berikutnya.
Bagi PDI-P, tantangannya sederhana tapi berat menjaga loyalitas basis tanpa terlihat stagnan. Bagi PSI, tantangannya lebih keras membuktikan bahwa lonjakan kursi bukan fenomena sesaat, tapi kemampuan yang bisa dipertahankan.
Di panggung politik Jawa Tengah, banteng tetap duduk santai, sementara gajah sibuk pemanasan. Namun sejarah membuktikan satu hal ironis: kandang tidak berubah hanya karena slogan, dan politik tidak berpindah hanya karena metafora.
Yang berubah nanti seperti biasa baru akan terlihat setelah bilik suara ditutup. @dimas




