Kopi Makin Ramai, Harga Ikut Panas
Tabooo.id: Regional – Solo sedang harum kopi. Tapi di balik aroma arabika dan latte art yang estetik, ada angka yang ikut naik pelan-pelan inflasi.
Wali Kota Solo, Jawa Tengah, Respati Ardi, menyoroti menjamurnya coffee shop sebagai salah satu faktor yang ikut menekan ekonomi daerah. Pernyataan ini ia sampaikan usai mendampingi Menko Pangan Zulkifli Hasan membuka Pasar Murah di Solo, Jumat (02/01/2026). Pesannya singkat tapi nyeletuk kopi kini bukan cuma gaya hidup, tapi urusan harga.
Bukan Cuma Cabai, Kopi Ikut Nyumbang
Respati mengakui, komoditas klasik seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai masih menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Namun cerita inflasi Solo tak berhenti di dapur rumah tangga.
Dalam beberapa tahun terakhir, coffee shop tumbuh seperti jamur habis hujan. Konsumsi kopi meningkat, permintaan biji kopi ikut melonjak, dan harga bahan baku terdorong naik.
“Coffee shop juga menjadi penyumbang inflasi di ekonomi kita,” ujar Respati.
Ia menilai lonjakan permintaan membuat harga biji kopi bergerak tak wajar. Ada kenaikan yang menurutnya terasa janggal dan berpotensi mengganggu keseimbangan pasar.
174 Coffee Shop, Gaya Hidup yang Mahal
Data Pemkot Solo mencatat 174 coffee shop baru berdiri di kota ini. Angka yang besar untuk kota dengan ritme hidup yang relatif tenang.
Respati menyebut fenomena ini sebagai bagian dari tren gaya hidup. Nongkrong, kerja dari kafe, hingga ngopi harian sudah jadi kebiasaan baru. Namun ia mengingatkan, pertumbuhan satu sektor yang terlalu cepat bisa berisiko.
“Kalau satu industri peningkatannya drastis pasti tidak sehat. Pemerintah harus hadir sebagai penengah,” tegasnya.
Siapa Untung, Siapa Tekan Dompet?
Ledakan coffee shop jelas menguntungkan pemilik usaha, pedagang biji kopi, dan sebagian petani. Pasar membesar, permintaan stabil, dan harga jual naik.
Sebaliknya, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam. Di level yang lebih luas, inflasi sektor makanan dan minuman ikut terdorong, dan daya beli masyarakat bisa tergerus perlahan.
Jurus Pemkot: Jaga Pasokan, Redam Harga
Untuk menahan laju harga, Pemkot Solo memilih jalur pasokan. Pemerintah menjalin kerja sama dengan daerah penghasil kopi seperti Temanggung agar harga lebih stabil.
Tujuannya jelas: memastikan rantai pasok tidak saling sikut dan pasar tetap sehat.
“Supaya harganya bisa stabil dan tidak saling bunuh,” kata Respati.
Angka Bicara: Inflasi Masih Terkendali, Tapi Waspada
Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan (YoY) Kota Solo per Oktober 2025 tercatat 2,73 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memimpin dengan 12,29 persen, disusul makanan, minuman, dan tembakau 4,21 persen, serta restoran 3,69 persen.
Angka ini memang belum mengkhawatirkan. Tapi pesannya jelas gaya hidup punya harga.
Kopi boleh pahit, latte boleh manis. Tapi ketika segelas kopi ikut mengerek inflasi, mungkin sudah saatnya kita bertanya ini kita ngopi biar rileks, atau justru bikin ekonomi ikut deg-degan? . @teguh




