Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Saat Air Belum Surut, Bendera Sudah Ribut

by dimas
Desember 28, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Aceh lagi kebanjiran. Air naik, tanah longsor, rumah rusak, orang mengungsi. Tapi seperti kebiasaan bangsa yang multitasking level dewa, di tengah krisis kemanusiaan, kita tetap sempat debat… soal bendera.

Bukan sembarang bendera. Ini bendera bulan bintang simbol yang langsung bikin suhu politik naik lebih cepat dari debit air sungai. Padahal awal ceritanya sederhana iring-iringan warga mau mengantar bantuan ke Aceh Tamiang. Tapi begitu kain bergambar bulan dan bintang ikut berkibar, fokus publik langsung belok. Dari “banjir dan longsor” ke “ini boleh atau nggak, sih?”

Aceh belum kering, tapi wacana sudah banjir duluan.

DPR: Tolong Tenang, Ini Lagi Bencana

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, masuk dengan nada penyejuk. Politikus Golkar itu minta semua pihak menahan diri. Bukan karena takut viral, tapi karena situasinya memang lagi nggak ideal buat gesekan.

Menurut Dave, peristiwa penertiban bendera itu disayangkan karena terjadi di tengah penanganan bencana. Fokus seharusnya ke keselamatan warga dan distribusi bantuan, bukan tarik-menarik simbol dan tafsir politik.

Ini Belum Selesai

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

Gempa NTT Belum Usai, 87 Tewas dan 150 Ribu Mengungsi

Ia juga mengingatkan dua pihak sekaligus masyarakat dan aparat. Aspirasi silakan disampaikan, tapi damai dan sesuai aturan. Aparat silakan menjalankan tugas, tapi tetap profesional dan humanis. Intinya satu jangan sampai tujuan kemanusiaan tenggelam oleh ribut-ribut simbol.

Bahasa halusnya bantu orang dulu, debat belakangan.

Bantuan Jalan, Simbol Nyelonong

Dave memahami niat warga. Banyak yang turun ke jalan bukan cuma bawa logistik, tapi juga bawa keresahan. Mereka ingin pemerintah pusat lebih serius menangani banjir Aceh. Masalahnya, ketika ekspresi politik ikut dibawa ke lapangan, pesan kemanusiaan jadi blur.

Yang sampai ke publik bukan lagi “Aceh butuh bantuan”, tapi “Aceh ribut lagi”. Padahal di lapangan, warga masih sibuk menyelamatkan barang, mencari keluarga, dan menunggu air surut.

Dalam situasi kayak gini, simbol punya efek seperti mic rusak: niatnya menguatkan suara, tapi yang keluar malah noise.

TNI: Ini Soal Ketertiban, Bukan Sensor Kemanusiaan

Video pembubaran iring-iringan massa di Lhokseumawe keburu viral. Terlihat prajurit bersenjata mengejar pembawa bendera bulan bintang. Timeline langsung panas. Narasi liar bertebaran.

TNI kemudian buka suara. Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah, menyebut banyak konten yang beredar tidak sesuai fakta dan mendiskreditkan institusi. Menurutnya, kejadian bermula dari konvoi dan aksi demo sejak 25 Desember hingga dini hari 26 Desember 2025.

Sebagian massa mengibarkan bendera yang identik dengan simbol GAM, disertai teriakan yang dinilai berpotensi memancing reaksi publik dan mengganggu ketertiban umum terutama di tengah pemulihan pascabencana.

Bahasa resminya rapi. Tapi publik keburu punya versi sendiri.

Di Aceh, Trauma Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Yang sering lupa di Jakarta: Aceh punya memori kolektif. Konflik bersenjata, tsunami, perdamaian, lalu bencana lagi. Simbol di Aceh bukan sekadar kain ia punya sejarah, luka, dan tafsir yang panjang.

Karena itu, setiap gesekan kecil cepat membesar. Apalagi kalau terjadi saat warga sedang paling rentan. PBB mencatat kekerasan dan ketegangan di wilayah konflik lama selalu mudah menyala kembali ketika krisis kemanusiaan datang.

Aceh sedang berkabung, tapi sistem kita masih suka debat di level simbol.

Air Belum Surut, Ego Sudah Duluan Naik

Ironinya begini:air banjir bisa surut, tapi ego politik sering nggak. Padahal warga di lapangan cuma butuh satu hal bantuan sampai tanpa ribut.

Mungkin pelajaran paling relevan dari episode ini sederhana di tengah bencana, yang paling perlu ditertibkan bukan cuma bendera, tapi juga ego, sensitivitas, dan kebiasaan mempolitisasi segalanya.

Karena saat alam sudah cukup kejam, manusia seharusnya nggak perlu ikut-ikutan. @dimas

Tags: AcehBantuanbencanaKemanusiaanKonflik DuniaPolitik IndonesiaSimbol

Kamu Melewatkan Ini

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Merdeka untuk Siapa?

by Tabooo
Agustus 20, 2026

Sehari setelah perayaan HUT ke-81 RI, mahasiswa turun ke jalan membawa delapan tuntutan. Di sana, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan lewat...

Benarkah Prabowo Perintahkan Tangkap Warga Aceh?

Benarkah Prabowo Perintahkan Tangkap Warga Aceh?

by eko
Agustus 19, 2026

Viral di Facebook, Presiden Prabowo Subianto disebut memerintahkan TNI dan Polri menangkap semua masyarakat Aceh. Benarkah? Berikut fakta hasil penelusuran....

Benarkah Ada Bantuan Sepeda Listrik Gratis untuk Siswa?

Benarkah Ada Bantuan Sepeda Listrik Gratis untuk Siswa?

by eko
Agustus 18, 2026

Viral video mengklaim pemerintah membagikan sepeda listrik gratis untuk siswa. Benarkah? Berikut fakta hasil penelusurannya. Tabooo.id - Sebuah video viral...

Next Post
GTA 6 Resmi Datang, PS4 Resmi Ditinggal Zaman

GTA 6 Resmi Datang, PS4 Resmi Ditinggal Zaman

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id