Tabooo.id: Life – Lampu stadion menyala terang dan memantulkan sorak penonton yang kian meninggi. Ketika papan skor memastikan kemenangan Indonesia, seorang atlet perempuan berdiri tenang di tengah keramaian. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menyentuh perutnya.
Di balik seragam tim nasional dan medali emas yang menggantung di dadanya, kehidupan lain ikut berdenyut. Bukan simbol. Bukan metafora. Sebuah kehidupan nyata tumbuh bersamaan dengan prestasi.
Karena itu, SEA Games 2025 tidak hanya mencatat rekor olahraga. Ajang ini juga menghadirkan kisah manusiawi tentang tubuh perempuan, keberanian, dan keputusan yang sering luput dari sorotan.
Selanjutnya, Angka Prestasi dan Fakta yang Jarang Dibicarakan
Hingga pertengahan kompetisi, Indonesia telah mengumpulkan 80 medali emas dari berbagai cabang olahraga. Capaian itu menempatkan Merah Putih di jajaran teratas klasemen. Namun, di balik angka tersebut, muncul fakta penting yang jarang dibahas secara mendalam.
Tiga medali emas datang dari atlet perempuan yang sedang hamil. Fakta ini sekaligus menantang cara lama dunia olahraga memandang kehamilan. Selama ini, banyak sistem menganggap kehamilan sebagai jeda total. Padahal, di Thailand, para atlet justru membuktikan bahwa proses itu tetap berjalan.
Kemudian, Diananda Choirunnisa dan Kesadaran yang Datang Mendadak
Diananda Choirunnisa berdiri di garis tembak panahan dengan bahu tegap dan tatapan fokus. Ia menarik busur dengan mantap, mengatur napas, lalu melepaskan anak panah tepat ke sasaran.
Beberapa hari sebelum final, Diananda baru menyadari bahwa ia sedang hamil. Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa mual yang muncul di sela latihan. Meski begitu, Diananda memilih mendengarkan tubuhnya tanpa menyerah pada ketakutan.

Akhirnya, usaha itu membuahkan hasil. Diananda merebut dua emas dari nomor individual recurve putri dan beregu recurve putri. Banyak orang menyebut kemenangan itu sebagai “rezeki anak”. Diananda menerimanya dengan senyum, seolah memahami bahwa makna emas kini melampaui podium.
Sementara Itu, Medina Warda Aulia Bermain dengan Waktu
Berbeda dengan Diananda, Medina Warda Aulia sudah lama mengetahui kehamilannya. Saat memasuki arena catur, usia kandungannya telah mencapai 36 minggu. Meski perutnya membesar, konsentrasinya tetap terjaga.
Medina telah lama menjadi tulang punggung catur Indonesia. Ia memecahkan rekor sebagai Grandmaster Wanita pada usia 16 tahun dan terus menjaga performanya di level internasional. Di SEA Games 2025, ia kembali menunjukkan konsistensi dengan menyumbang emas ke-60 bagi Indonesia lewat nomor beregu putri.

Namun, kehamilan tetap menghadirkan tantangan. Duduk terlalu lama membuat punggungnya cepat pegal. Karena itu, Medina mengatur ritme permainan dengan cermat. Ia memindahkan bidak satu per satu sambil menjaga keseimbangan antara fisik dan strategi.
Di Sisi Lain, Dewi Laila Mubarokah Memilih Diam
Dewi Laila Mubarokah mengambil jalan yang lebih senyap. Sebelum berangkat ke Thailand, ia menyembunyikan kehamilannya dari rekan setim. Saat itu, hanya satu orang yang mengetahui kondisinya suaminya, Fathur Gustafian, yang juga atlet menembak.
Pada masa awal kehamilan, rasa mual sempat mengganggunya. Namun Dewi tetap menjaga sikap profesional. Ia menahan diri agar tim tidak memperlakukannya secara berbeda. “Waktu masih awal itu mual. Tapi biar nggak ketahuan teman-teman, ditahan sendiri,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara.

Di arena menembak, Dewi mengandalkan ketenangan dan kontrol napas. Ia bertanding di nomor 10 meter air rifle putri dan beregu putri. Peluru melesat stabil menuju sasaran. Dua emas pun ia persembahkan untuk Indonesia.
Karena Itu, Paradoks Lama Kembali Terbuka
Kisah tiga atlet ini memperlihatkan paradoks yang terus hidup. Masyarakat sering memaksa perempuan memilih antara prestasi dan kehamilan. Namun, di SEA Games 2025, pilihan sempit itu runtuh secara nyata.
Mereka tidak memoles penderitaan menjadi heroisme kosong. Sebaliknya, mereka menunjukkan bagaimana tubuh perempuan terus bernegosiasi dengan batasnya sendiri. Keberanian mereka lahir dari kesadaran, bukan dari pengingkaran terhadap risiko.
Maka, Sikap Tabooo Menjadi Jelas
Tabooo melihat kisah ini sebagai pengingat kolektif. Dunia olahraga gemar merayakan kemenangan, tetapi sering lupa mendengarkan cerita tubuh di baliknya. Kehamilan bukan kelemahan. Ia adalah proses biologis yang membutuhkan dukungan sistem, bukan sekadar tepuk tangan.
Prestasi Diananda, Medina, dan Dewi seharusnya mendorong diskusi yang lebih jujur. Sistem tidak boleh bergantung pada keberanian individu semata. Negara dan federasi perlu hadir melalui kebijakan yang berpihak.
Akhirnya, Kemenangan Menemukan Maknanya
Di podium, medali emas berkilau di bawah sorot lampu stadion. Namun, ada cahaya lain yang tidak tertangkap kamera kehidupan yang terus tumbuh di dalam tubuh para atlet ini.
SEA Games 2025 akan tercatat lewat angka dan rekor. Namun bagi tiga perempuan tersebut, ajang ini akan selalu hidup sebagai momen ketika mereka menang untuk negara sekaligus untuk masa depan yang sedang mereka kandung.
Dan di sanalah, kemenangan berubah menjadi cerita yang sepenuhnya manusiawi. @dimas




