Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Generasi Burnout: Hidup, Scroll, Ulangi Lagi

by Tabooo
Mei 8, 2026
in Deep, Health, Life
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id – Deep: Pukul dua dini hari. Seorang anak muda berbaring di ranjang, ponsel di tangan, wajahnya hanya diterangi cahaya biru dari layar. Di luar sana dunia sudah tidur, tapi pikirannya masih bekerja, mencemaskan besok, gajinya, masa depannya.

Ia menatap notifikasi tanpa benar-benar membacanya. Jempol bergerak otomatis, otaknya lelah, tapi jiwanya takut diam. “Kalau aku berhenti sebentar, apa dunia bakal ninggalin aku?”

Mungkin begitu bunyi bisikan yang tak terucap dari banyak anak muda hari ini. Generasi yang lahir dengan internet di genggaman, tapi justru kehilangan pegangan dalam hidup yang terlalu cepat, terlalu penuh, dan terlalu terang.

Fakta Sosial: Generasi Lelah yang Masih Online

Menurut data Kementerian Kesehatan, kelompok usia 15–24 tahun adalah yang paling rentan depresi di Indonesia, mencapai 2% dari populasi, dengan hanya 10,4% yang berhasil mengakses pengobatan. Di sisi lain, survei nasional menunjukkan 68,7% anak muda mengalami kecemasan kronis.

Bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka hidup di tengah empat badai besar: ekonomi, ekspektasi sosial, krisis iklim, dan tekanan digital.

Ini Belum Selesai

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

  1. Krisis Ekonomi: Fresh graduate diminta punya pengalaman dua tahun, gaji ditawar seolah waktu tak berharga, dan biaya hidup naik tanpa ampun. Banyak yang hidup hemat bukan karena pilihan, tapi karena takut besok nggak bisa makan.
  2. Krisis Ekspektasi: Orang tua ingin anaknya sukses, bahagia, mapan. Semuanya sekaligus. Media sosial menambahkan tekanan dengan ilusi kebahagiaan orang lain.
  3. Krisis Iklim: Gen Z tumbuh di dunia yang secara harfiah makin panas. Mereka tahu bumi sedang sekarat, tapi juga sadar tak punya daya menyelamatkannya.
  4. Krisis Digital: Di dunia yang dikuasai algoritma, eksistensi terasa tergantung pada sinyal. Semua berlomba tampil bahagia dan produktif. “Kalau nggak posting, apa aku masih ada?”

Mereka hidup dalam kebingungan struktural. Mereka harus terus bergerak agar dianggap hidup, tapi tiap langkah justru menguras napas.

Konflik dan Paradoks: Dunia yang Selalu Nyala

Gen Z adalah generasi yang tumbuh dalam kontradiksi. Mereka ingin istirahat, tapi takut tertinggal. Ingin offline, tapi khawatir tak relevan.

Mereka tahu doom-scrolling bikin depresi, tapi tetap melakukannya, karena scrolling adalah bentuk pelarian yang paling mudah dan paling murah.

Di kantor, burnout bukan lagi penyakit, tapi status sosial. Siapa paling sibuk, dialah yang “berharga.”

Padahal, di balik produktivitas berlebih itu, banyak yang perlahan kehilangan arah. Hidup terasa seperti loop: bangun, kerja, scroll, tidur, ulangi. Bukan hidup, tapi bertahan hidup.

Kita menyebut mereka “strawberry generation,” padahal merekalah yang sedang menanggung beban ekonomi, sosial, dan emosional paling berat dari dunia yang rusak sebelum mereka lahir.

Mereka tak manja — hanya terlalu cepat dewasa di sistem yang tak memberi waktu untuk tumbuh.

Sikap Tabooo: Refleksi Kritis dan Empatik

Mari jujur: kita semua berkontribusi dalam menciptakan generasi burnout.

Kita menuntut mereka punya karier, aktivisme, dan kebahagiaan dalam satu paket rapi, lalu menyalahkan mereka saat kewalahan.

Kita membuat “produktif” jadi agama baru, dengan algoritma sebagai Tuhan.

Kita menjual motivasi, tapi jarang memberi ruang aman untuk menangis.

Kita ajarkan mereka “resiliensi,” tapi lupa menyediakan sistem yang bisa ditinggali tanpa harus patah.

Bagi Tabooo, fenomena ini bukan sekadar krisis mental, ini cermin sosial.

Burnout Gen Z bukan tanda kelemahan, tapi indikator penyakit struktural: ketidakpastian ekonomi, kerja yang tidak manusiawi, dan dunia digital yang menuntut performa tanpa henti.

Dan di tengah semua absurditas itu, Gen Z masih mencoba. Masih bekerja, berkarya, bercanda di Twitter, mengunggah meme, menertawakan hidup yang tak lucu, karena kalau nggak ditertawakan, mungkin mereka akan menangis.

Pause, Sebentar Saja

Mungkin ini waktunya kita berhenti sebentar.

Menutup layar, menatap langit malam, dan jujur pada diri sendiri:

Apakah kita masih hidup, atau cuma menjalankan versi digital dari diri kita?

Generasi burnout bukan kisah tentang kelemahan, tapi tentang keberanian untuk tetap berjalan meski setiap hari rasanya ingin menyerah.

Mereka tak butuh nasihat “semangat lagi,” mereka butuh sistem yang memungkinkan mereka bernapas.

Karena di balik semua notifikasi, tenggat, dan kafein, ada generasi yang sebenarnya cuma ingin hal sederhana: tidur nyenyak tanpa rasa bersalah.

Dan mungkin, kalau dunia ini sedikit lebih pelan, mereka akhirnya bisa benar-benar bangun, bukan untuk bekerja, tapi untuk hidup.

Kita semua capek. Bedanya, Gen Z cuma lebih jujur untuk bilang: iya, aku udah lelah.” @tabooo

Tags: DeepGen ZKesehatan MentalMedia SosialPsikologi

Kamu Melewatkan Ini

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

Seblak Pedas Ternyata Membungkam Overthinking

by Anisa
Mei 11, 2026

Seblak pedas kini bukan lagi sekadar tren jajanan kaki lima. Di tengah ledakan budaya kuliner pedas Indonesia, ia perlahan berubah...

Dulu Outfit Buat Pamer, Sekarang Buat Apa?

Dulu Outfit Buat Pamer, Sekarang Buat Apa?

by Naysa
Mei 9, 2026

Dulu orang membeli outfit buat pamer di depan orang lain. Supaya terlihat keren. Sekarang, banyak orang membeli pakaian untuk merasa...

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

22 Detik Video: Satu Indonesia Mendadak Jadi Penyidik

by teguh
Mei 9, 2026

;: Cuma 22 detik. Namun video dua petugas Bea Cukai yang masuk ke Warung Madura pada malam hari langsung mengubah...

Next Post
Gaji Tunggal ASN: Solusi Efisien atau Ancaman Keadilan?

Gaji Tunggal ASN: Solusi Efisien atau Ancaman Keadilan?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id