Tabooo.id: Check – Media sosial kembali memunculkan narasi yang terdengar solutif sekaligus menggugah. Kali ini, sebuah ilustrasi yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ramai menyebar di Facebook. Unggahan itu mengklaim Purbaya meminta izin kepada Presiden Prabowo untuk mengganti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan bantuan uang tunai yang langsung diberikan kepada siswa.
Pengunggah juga menambahkan sederet “keuntungan” dalam narasinya. Ia menyebut makanan tak akan terbuang sia-sia, orang tua bisa menyesuaikan selera anak, penggunaan anggaran lebih transparan, bahkan risiko korupsi bisa ditekan. Sekilas, klaim ini terdengar logis bahkan terasa pro-rakyat.
Namun, logis tidak selalu berarti benar.
Klaim
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan kepada Presiden Prabowo agar pemerintah mengganti Program MBG dengan uang tunai untuk siswa.
Fakta
Kementerian Keuangan membantah klaim tersebut.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, menegaskan bahwa Menteri Keuangan tidak pernah mengusulkan penggantian Program Makan Bergizi Gratis menjadi bantuan uang tunai. Ia menyebut informasi yang beredar di media sosial sebagai hoaks dan menegaskan bahwa narasi tersebut tidak berasal dari pernyataan resmi pemerintah.
Analisis: Mengapa Banyak yang Terkecoh?
Hoaks ini memanfaatkan pola yang sering muncul di media sosial.
Pertama, pembuat konten memakai ilustrasi tokoh negara untuk membangun kesan resmi.
Kedua, mereka menyusun narasi dengan argumen yang terdengar rasional sehingga publik menurunkan kewaspadaan.
Ketiga, mereka mengangkat ide yang tampak pro-rakyat, sehingga banyak orang tergoda untuk langsung membagikannya.
Masalahnya, ilustrasi tidak pernah mewakili kebijakan. Selain itu, argumen yang terasa masuk akal tidak otomatis mencerminkan keputusan negara. Saat orang mencampur opini dengan klaim seolah-olah pernyataan resmi, batas antara wacana publik dan fakta pun menjadi kabur.
Kesimpulan
Masyarakat berhak berdiskusi dan mengkritik kebijakan publik. Namun, menyamakan ilustrasi atau narasi viral dengan keputusan resmi justru berpotensi menyesatkan.
Di era media sosial, informasi palsu tidak selalu hadir dengan nada provokatif. Justru, hoaks sering datang dengan bahasa paling masuk akal.
👉 Sebelum membagikan, pastikan kebenarannya—biar tidak ikut menyebarkan dosa digital. @eko





