Zulhas Menangkis Kritik
Tabooo.id: Nasional – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan kembali berada di sorotan. Kritik publik meledak setelah kerusakan Taman Nasional Tesso Nilo dikaitkan dengan rentetan banjir dan longsor di Sumatra. Namun, Zulhas langsung menegaskan bahwa Tesso Nilo berada di Riau, sementara bencana terbesar justru menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Yang dipermasalahkan ke saya Tesso Nilo. Itu di Riau. Riau tidak ada bencana apa pun. Tapi yang disalahkan Zulkifli Hasan,” ujarnya dalam BIG Conference 2025 di Jakarta. Ia menutup komentarnya dengan nada ringan, “Ya enggak apa-apa, saya maafkan.”
Izin Lahan dan Masa Lalu
Zulhas juga mengklarifikasi isu perizinan. Ia menegaskan Tesso Nilo berstatus taman nasional sehingga tidak ada menteri yang bisa memberi izin pembukaan lahan. Menurutnya, siapa pun yang mencoba akan berhadapan dengan hukum.
Ia bahkan mengingat kembali pertemuannya dengan aktor sekaligus aktivis lingkungan, Harrison Ford, yang pernah menegurnya soal kerusakan Tesso Nilo. Zulhas menjawab bahwa persoalan penindakan terhadap ribuan perambah bukan merupakan kewenangannya saat itu.
Konflik Tesso Nilo: Rumit, Berlapis, dan Lama Dibiarkan
Di balik perdebatan politik, publik tetap menyoroti fakta di lapangan. Konflik Tesso Nilo tidak lahir kemarin sore. Selain menjadi habitat gajah Sumatra, kawasan ini menyimpan keanekaragaman hayati yang penting. Namun, tekanan ekonomi, perambahan hutan, ekspansi kebun sawit ilegal, hingga dugaan permainan mafia lahan terus menggerogoti wilayah itu.
Sejak 2014, pemerintah sebenarnya telah menetapkan luas Tesso Nilo sebesar 81.793 hektare. Namun, batas hukum itu terus tergerus oleh okupasi kebun sawit yang berkembang tanpa kendali. Akibatnya, taman nasional yang seharusnya menjadi benteng konservasi justru berubah menjadi medan konflik kepentingan.
Siapa Untung, Siapa Rugi?
Para perambah dan pemilik kebun ilegal jelas menikmati cuan jangka pendek. Di sisi lain, masyarakat sekitar menanggung ancaman bencana ekologis. Sementara itu, negara kehilangan kawasan lindung penting, dan satwa seperti gajah Sumatra semakin terdesak.
Publik pun menilai pernyataan Zulhas belum menyentuh akar masalah kerusakan lingkungan tidak mengenal batas provinsi, dan bencana hidro-meteorologi sering kali berakar pada hancurnya ekosistem di hulu.
Akhirnya…
Kisruh Tesso Nilo kembali menguji ingatan kolektif kita siapa yang seharusnya bertanggung jawab menjaga hutan, dan siapa yang selama ini hanya menjaga narasi. Karena, kalau setiap pejabat hanya sibuk memindahkan salah, jangan kaget kalau yang benar-benar hilang justru hutannya. @teguh




