Tabooo.id: Check – Di banyak rumah sakit Indonesia, hidup sebuah tradisi yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi itu tidak muncul dari buku teks medis, namun tetap bertahan di lorong IGD, ruang pemulihan, hingga kursi ruang tunggu keluarga. Aturannya sederhana pasien tidak boleh makan sebelum kentut. Keyakinan itu terdengar mantap, seolah kentut punya status setara dengan tanda vital.
Akibatnya, pasien yang sudah sadar dan lapar tetap harus menunggu momen yang tidak bisa diprediksi. Keluarga ikut bersiaga. Ada yang menempelkan telinga ke perut pasien, ada yang memandang dengan penuh harap, dan ada juga yang bertanya setiap lima menit, “Sudah kentut belum?”
Situasinya lucu sekaligus ironis, karena tidak ada dasar medis yang mendukung ritual tersebut.
Mengapa Tradisi Ini Tidak Hilang?
Mitos ini bertahan karena orang sering mengulangnya tanpa memeriksa sumbernya. Banyak yang percaya bahwa setelah spinal anestesi, usus “tidur” dan harus “bangun” dulu sebelum makan. Penjelasan itu biasanya datang bersama ketukan ke perut, seolah tubuh manusia sedang menjalankan mode debug.
Jika diwujudkan dalam ilustrasi, dokter mungkin tampak sedang menempelkan stetoskop ke bokong pasien sambil menunggu “breaking news dari belakang”. Gambarnya bisa memakai judul Update Terbaru Dunia Pergasan.
Namun, anggapan itu tidak cocok dengan bukti medis modern.
Bukti Medis Justru Berkata Sebaliknya
Pedoman modern seperti Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) menjelaskan hal yang sangat jelas pasien tidak perlu menunggu kentut setelah spinal anestesi untuk makan. Yang menentukan hanyalah kondisi klinis pasien bukan suara gas. Selama pasien sudah sadar penuh, bisa menelan dengan baik, tidak merasa mual, dan memiliki tanda vital stabil, ia boleh makan.
Selain itu, spinal anestesi hanya memengaruhi saraf di tubuh bagian bawah. Usus tetap bekerja, peristaltik tetap bergerak, bahkan pencernaan berjalan normal. Refleks menelan juga aman, dan risiko muntah lebih kecil bila dibandingkan dengan anestesi total.
Karena itu, banyak dokter justru menganjurkan pasien untuk makan lebih cepat, terutama setelah operasi caesar, tindakan ortopedi, atau operasi di bawah pusar. Pemulihan energi berlangsung lebih cepat, gula darah menjadi stabil, dan pasien merasa jauh lebih nyaman.
Latar Belakang Mitos: Warisan Era Lama
Jika ditelusuri lebih jauh, mitos ini muncul pada masa ketika anestesi total generasi awal memang membuat usus melambat. Dokter pada era itu memerlukan tanda sederhana untuk memastikan pergerakan usus kembali normal, dan kentut menjadi indikator yang mudah diamati. Sayangnya, kebiasaan tersebut ikut terbawa ke zaman modern meski konteks ilmiahnya sudah jauh berubah.
Di sisi lain, banyak tenaga kesehatan tetap memakai acuan lama karena mereka menganggapnya aman. Padahal, mekanisme spinal anestesi bekerja dengan cara yang sangat berbeda.
Situasinya mirip dengan orang yang menunggu chat dari mantan untuk memastikan hidupnya stabil: tidak ada kaitannya, namun tetap banyak yang percaya.
Aturan Makan yang Benar Setelah Operasi
Praktik medis modern menawarkan langkah yang jauh lebih logis. Pasien bisa mulai:
- minum cairan bening seperti air putih atau teh,
- melanjutkan ke makanan lunak seperti bubur,
- dan akhirnya menyantap makanan normal jika tidak muncul mual.
Tidak ada ritual mistis maupun acara menunggu hembusan angin dari belakang. Jika dibuat meme, tampilannya mungkin berupa layar loading dengan tulisan:
“Waiting for fart… 3%”
sementara pasien sudah menggenggam sendok.
Kesimpulan: Saatnya Pengetahuan yang Bangun, Bukan Ususnya
Mitos kentut hanyalah kebiasaan lama yang belum diperbarui. Kebiasaan itu sering membuat pasien menahan lapar tanpa alasan medis yang masuk akal. Karena itu, lebih baik kita mengikuti ilmu kedokteran modern yang menyatakan bahwa spinal anestesi tidak membuat usus berhenti bekerja.
Pada akhirnya, keputusan makan harus mengikuti logika medis, bukan suara gas. Jadi, jika seseorang masih memaksakan aturan itu, cukup katakan dengan pelan namun jelas:
“Yang perlu bangun bukan ususnya… tapi pengetahuannya.”
Sebelum share, cek dulu supaya kita tidak ikut menyebarkan mitos yang sudah lama kedaluwarsa. @Arimbi P




