Tabooo.id: Nasional – Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat resmi melantik Pengageng dan Bebadan baru dalam acara Pisowanan Abdidalem/Abdidalem Sentana Bebadan, Minggu (7/12/2025) siang, di Kagungan Dalêm Sasana Handrawina, atas titah SISKS Pakoe Boewono XIV. Hadir dalam prosesi keluarga kraton, termasuk Adik Swarga Pakoe Boewono XIII, Putri Dalem Swarga, Wayah Dalem, Sentana Dalem, dan para Abdi Dalem.
Acara dibuka dengan pemberian mandat oleh KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, yang menyerahkan doa kepada ulama kraton untuk kelancaran pelantikan dan keselamatan warga terdampak musibah di Sumatra. Setelah itu, pembacaan nama-nama pejabat baru diikuti penandatanganan surat pelantikan, menegaskan jabatan resmi.
Menurut KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, pelantikan ini merupakan lanjutan dari bebadan sebelumnya pada 26 November 2025.
“Penetapan tim kerja kraton harus cepat agar agenda harian, selapanan, dan kegiatan tahunan bisa berjalan sesuai dhawuh dalem,” jelasnya.
Struktur Baru, Masa Jabatan Lima Tahun
Perubahan paling signifikan masa jabatan pejabat dibatasi lima tahun, menggantikan sistem lama yang memungkinkan jabatan seumur hidup. Langkah ini dianggap kraton penting untuk mendorong penyegaran dan efektivitas kerja.
“Struktur baru tetap mengacu pada era PB XIII, namun beberapa bebadan tambahan dibuat sesuai kebutuhan zaman,” ujar KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo.
Struktur baru mencakup Paran Poro/Penasehat, Panitera Dalem, Staf Khusus, dan Lembaga Hukum. Nama-nama elit akademisi, birokrat, dan keluarga kraton mendominasi daftar, seperti K.P.H. Prof. Dr. dr. H. Ambarkusumo, K.P.A. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj Budoyoningrat, dan K.M.Ay. Belinda Putri Sabrina Birton Putri Sulistyaningtiyas.
Bagi publik, kabar ini penting karena menandai upaya modernisasi kraton sekaligus mekanisme kontrol internal. Masyarakat bisa melihat bahwa monarki tidak lagi stagnan dan mulai menyesuaikan diri dengan dinamika sosial-politik kontemporer. Namun, sebagian pihak bisa menilai ini tetap jauh dari urusan keseharian rakyat biasa diuntungkan jelas mereka yang duduk di kursi baru, sementara masyarakat awam hanya menjadi penonton sejarah yang lambat berjalan.
Apakah lima tahun cukup untuk regenerasi dan inovasi, atau justru waktu yang terlalu singkat untuk mempertahankan tradisi? Hanya waktu yang akan menjawab. @dimas







