Tabooo.id: Sports – Sorotan lampu panggung Indonesia Sport Summit (ISS) 2025 malam itu seperti menyorot luka lama. Bukan tentang gol yang gagal, bukan tentang medali yang lepas, tapi tentang masa depan atlet Indonesia mereka yang berkeringat mengibarkan Merah Putih, namun kerap pulang dengan kecemasan finansial.
Di tengah riuh forum, Menpora Erick Thohir mengangkat isu yang selama ini terpendam Indonesia butuh dana pensiun atlet. Jaminan yang bisa menyelamatkan masa depan para pejuang olahraga saat tubuh tak lagi sekuat dulu.
Hasil “Pertandingan” Data Yang Tak Bisa Kita Tutupi
Erick bicara tanpa tedeng aling-aling. Ia menegaskan bahwa atlet merupakan aktor utama dalam industri olahraga nasional. Namun kesejahteraan mereka tidak pernah seragam.
Sebagian atlet menikmati kontrak miliaran. Sebagian lainnya berjuang membayar fisioterapi. Ada yang pulang dengan bonus besar, ada yang pulang dengan rasa sakit yang tak tersembuhkan.
“Jangan sampai orang tua bilang nggak usah jadi atlet. Miskin, susah. Padahal kalau lihat gaji pemain bola, miliaran,” ujar Erick. Kalimat itu memukul telak realita karier atlet selalu glamor di mata publik, namun tidak selalu aman untuk masa depan.
Untuk mengubah situasi, pemerintah sedang menyusun skema dana pensiun atlet program yang memastikan karier seorang atlet tidak berakhir sebagai cerita tragis setelah masa keemasan lewat.
Reaksi, Strategi, Tekanan Emosi
Erick tak hanya menggagas dana pensiun. Ia mendorong pendidikan atlet agar masa depan mereka tetap terbuka, bahkan ketika sepatu dan raket sudah digantungkan.
Ia memastikan pemerintah menambah jalur pendidikan melalui 100 beasiswa LPDP khusus atlet.
“Masa depannya harus terjamin. Mereka bagian penting industri olahraga,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menilai Indonesia butuh kompetisi yang rutin, terutama di sekolah dan kampus. Atlet harus tumbuh dari sistem yang stabil, bukan dari kebetulan. Karena semakin sering mereka bertanding, semakin cepat bakat baru lahir.
Erick juga mengungkap rencana kurikulum baru siswa akan memilih 3–4 cabang olahraga dari 21 olahraga unggulan. Langkah ini membuka jalur pembinaan sejak dini.
Sebagai contoh, ia menyebut Jepang negara dengan populasi menua, tetapi tetap menghasilkan bintang kelas dunia seperti Shohei Ohtani dan Rui Ichimura. Negara itu tidak menyerah pada statistik usia; mereka membangun sistem yang membuat atlet terus lahir.
REFLEKSI: Apa Makna Semua ini?
Pertarungan ini bukan soal skor. Ini soal martabat. Indonesia tidak bisa memaksa atlet tampil heroik tanpa memberi jaminan hidup di hari tua.
Jika dana pensiun berhasil berjalan, Indonesia akhirnya memulai era baru: era ketika atlet tidak hanya dielu-elukan saat menang, tetapi juga dihargai setelah pensiun.
Dan kalau Jepang bisa bermimpi juara dunia meski populasinya menua, apakah Indonesia masih mau menunda mimpi hanya karena sistem lama?
Pertandingannya sudah dimulai. Kita harus menang bukan untuk trofi, tapi untuk masa depan para pejuang olahraga negeri ini. @teguh





