Tabooo.id: Musik = Di sebuah ruangan konferensi pers yang penuh kamera, Dept tersenyum kecil senyum yang biasanya muncul dari musisi yang tahu persis bahwa ia baru saja menjatuhkan kabar yang bikin jantung penggemarnya lompat.
“Mungkin tahun depan, saya akan mengeluarkan lebih banyak album Bahasa Indonesia,” katanya.
Kalimat itu meluncur pelan, tapi terasa seperti seseorang yang akhirnya bilang “Aku ingin lebih dekat, boleh kan?”
Musik, kadang, bukan perkara suara. Ia soal keberanian untuk masuk ke bahasa orang lain dan diam-diam berharap diterima.
Sinopsis Singkat (Tanpa Spoiler Musik)
Dept, penyanyi dan produser R&B-soul asal Korea Selatan, datang ke Jakarta lagi untuk rangkaian “Dream Age Tour 2025”. Dalam jumpa pers, ia mengumumkan tiga hal penting:
- Ia ingin merilis lebih banyak lagu berbahasa Indonesia tahun depan.
- Ia sedang mempersiapkan kolaborasi dengan grup wanita Indonesia, rilis Februari 2026.
- Ia juga bersiap meluncurkan album J-Pop pada 10 Desember 2025.
Ini bukan pertama kalinya Dept menyentuh Bahasa Indonesia. Ia sebelumnya menggandeng Febinda Tito untuk versi lokal “Strawberry Champagne” dan “Green”, lalu mengajak Nabila Taqiyyah sebagai bintang tamu konser.
Baginya, Indonesia bukan sekadar pasar. Lebih seperti tempat di mana musiknya menemukan pantulan emosional baru.
Tema, Pesan Sosial, dan Relevansinya untuk Anak Muda
Dept adalah contoh menarik dari bagaimana musisi global mulai memahami bahwa bahasa bukan tembok justru jembatan paling lembut.
Dalam lanskap musik yang makin cair, pilihan Dept untuk memakai Bahasa Indonesia terasa seperti gestur budaya.
sebuah pengakuan bahwa anak muda Indonesia bukan sekadar pendengar, tapi komunitas emosional yang ia mau dekati.
Ada beberapa lapisan menarik:
a. Bahasa sebagai keintiman baru
Saat musisi asing belajar bahasa lokal, kita merasakan sesuatu yang jarang dihargai.
Dan Dept tahu itu. Ia sadar pendengarnya lebih banyak merasakan musik lewat perasaan, bukan lewat paspor.
b. Kolaborasi lintas negara makin jadi norma
Dept menggandeng musisi lokal bukan semata strategi pasar. Ia mendesain musiknya agar bisa bernapas di kultur baru sebuah eksperimen yang jarang dilakukan musisi R&B Korea dengan konsisten.
Fenomena ini menunjukkan satu hal anak muda Indonesia kini bukan hanya sekadar pengikut tren global kita adalah bagian dari percakapan itu.
c. Identitas digital generasi sekarang memang “campur-campur”
Kita tumbuh dengan anime, K-pop, BCL, Coldplay, dan TikTok remix dalam satu playlist.
Dept menangkap era itu. Musiknya yang dreamy-soul cocok dengan generasi yang hidup dalam campuran intens antara realitas dan internet.
Begitu ia masuk ke Bahasa Indonesia, musiknya terasa semakin kita, bukan lagi mereka.
Refleksi Tabooo: Apa Makna Fenomena Ini Sekarang?
Fenomena Dept memperlihatkan sesuatu yang lebih besar dari konser atau kolaborasi bahwa budaya Indonesia kini punya gravitasi.
Semakin banyak musisi internasional yang:
- datang,
- berkolaborasi,
- bahkan memakai bahasa kita.
Ini bisa terbaca sebagai tren, tapi juga sebagai pergeseran kuasa. Bahasa Indonesia mulai masuk map global perlahan, tapi pasti.
Dan mungkin, dalam dunia yang terasa makin dingin dan cepat, kita diam-diam butuh momen seperti ini.
mendengar seorang musisi dari jauh mencoba mengucapkan kata-kata kita dengan aksen baru, tapi niatnya tulus.
Ada sesuatu yang lembut di sana. Sesuatu yang bikin kita merasa terhubung, tanpa harus saling mengenal.
Kenapa Ini Penting Sekarang?
Karena musik bukan lagi soal industri.
Ia soal percakapan dan Dept memilih bergabung dalam percakapan kita, bukan hanya berdiri di panggung sebagai tamu.
Kolaborasinya dengan musisi Indonesia, rencana album berbahasa Indonesia, hingga diversifikasi ke J-Pop menunjukkan satu hal, ia sedang membangun dunia musik yang lebih inklusif, lebih cair, dan lebih dekat dengan pendengarnya.
Dan buat anak muda, ini meyakinkan kita bahwa batas budaya lama sudah runtuh.
Kita tidak hanya menerima arus budaya luar, tapi ikut memengaruhi bentuknya.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana jika musisi dari negeri lain berani memeluk bahasa kita, kapan kita mulai memeluk diri sendiri?
Penilaian TABOOO BANGET.
Sebuah langkah musikal yang manis, cerdas, dan sangat relevan dengan generasi yang hidup di persimpangan identitas. @teguh





