Tabooo.id: Global – Di Hong Kong, Rabu sore yang seharusnya hanya berisi hiruk pikuk kota padat itu berubah jadi neraka vertikal. Api melahap kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po dan seperti banyak tragedi global lain, kabar buruk itu ikut membawa pulang duka ke Indonesia.
Dua warga negara kita meninggal dunia. Dua lainnya terluka.
Semua pekerja migran. Semua orang yang pergi jauh demi hidup yang lebih layak, tapi justru kalah oleh bencana yang tak mengenal batas negara.
Api yang Tidak Memilih Korban
Plt Dirjen Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, memastikan kabar yang membuat banyak keluarga di tanah air runtuh seketika.
“Dua WNI meninggal dunia, dua lainnya luka-luka. Semua PMI sektor domestik,” ujar Heni.
Keluarga para korban sudah diberi kabar. KJRI Hong Kong juga memastikan proses pemulangan jenazah dan penyelesaian hak-hak para pekerja berjalan.
KJRI kini menyiapkan:
- tempat singgah sementara,
- logistik,
- pendampingan medis dan psikologis,
- serta koordinasi repatriasi.
Di tengah kacau-balau situasi, setidaknya ada kehadiran negara meski terasa terlambat bagi mereka yang sudah pergi.
Dampaknya Tidak Main-Main
Kebakaran di Wang Fuk Court bukan insiden kecil.
Korban tewas mencapai 44 orang, dan ratusan lainnya belum ditemukan. Artinya, tragedi ini bukan hanya memukul Hong Kong, tapi juga jaringan migran Asia yang tinggal di blok-blok hunian padat.
Dugaan sementara mengarah pada renovasi gedung yang memakai material mudah terbakar.
Sederhana, klasik, dan menyebalkan sebuah kecacatan standar keselamatan yang dibiarkan, lalu menyengat puluhan nyawa.
Dan ketika bangunan runtuh secara moral seperti itu… siapa yang paling terdampak?
Mereka yang paling tidak punya kuasa: para pekerja migran, termasuk PMI.
Siapa yang Untung, Siapa yang Rugi?
Yang paling dirugikan:
- PMI yang tinggal di gedung-gedung lama dan padat,
- keluarga di Indonesia yang menggantungkan hidup pada remitansi,
- kita semua yang berharap negara tujuan aman bagi para pekerja.
Yang “diuntungkan”?
Tidak ada kecuali mungkin kontraktor gedung yang selama bertahun-tahun bisa mengakali standar renovasi dengan material lebih murah.
Dan ketika tragedi terjadi, pihak paling lemah lagi-lagi menjadi daftar pertama dalam jumlah korban.
Perspektif Lain: “Kan Sudah Ada Mekanisme Perlindungan?”
Sebagian orang mungkin berkata:
“Tapi PMI sudah dilindungi agen, negara juga turun tangan kok.”
Ya, benar.
Ada KJRI, ada pihak agen, ada aturan keselamatan Hong Kong yang ketat.
Hanya saja, perlindungan itu sering kali aktif setelah kejadian, bukan sebelum.
PMI sering tinggal di apartemen yang ditempati banyak pekerja, gedung tua, atau hunian yang sedang renovasi karena lebih murah. Risiko sudah inheren sejak hari pertama mereka pindah.
Di titik ini, kita perlu mengakui kenyataan yang kadang pahit perlindungan itu sering terasa seperti payung bocor berguna, tapi tidak cukup saat hujan badai.
Sikap Tabooo: Empati Bukan Cukup, Sistemnya yang Harus Diperbaiki
Tragedi ini bukan hanya soal kebakaran.
Ini tentang rantai panjang konteks:
Migrasi, pekerjaan domestik, penempatan ke gedung tua, kebijakan keselamatan, respons negara.
Jika salah satu mata rantai itu longgar, nyawa jadi taruhannya.
Sebagai negara pengirim, Indonesia perlu:
- menekan agen agar memastikan standar hunian PMI,
- meminta audit keamanan apartemen tempat PMI tinggal,
- serta membangun sistem early warning bagi komunitas migran.
Karena kalau hanya bergerak saat sudah ada yang meninggal, itu namanya bukan perlindungan itu pemakluman tragedi.
Penutup
Kebakaran Wang Fuk Court mengingatkan kita bahwa meski jaraknya ribuan kilometer, keselamatan PMI tetap tanggung jawab negara. Mereka menjaga rumah orang lain, tapi siapa yang memastikan mereka punya tempat tinggal yang aman?
Dan kamu sendiri, kira-kira kita masih mau menunggu tragedi berikutnya, atau mulai menagih sistem yang lebih manusiawi? @dimas





