Topan Champi menerjang Taiwan dengan angin hingga 227 km/jam, menewaskan satu orang, melukai ratusan warga, dan menyebabkan dua WNI mengalami luka ringan.
Tabooo.id: Taiwan – Topan Champi menyapu Taiwan pada Jumat (23/10/2026). Angin kencang dan hujan deras merusak rumah, menumbangkan pepohonan, serta memutus aliran listrik bagi ratusan ribu rumah tangga.
Badai tersebut menewaskan satu orang dan melukai ratusan warga. Dampaknya juga melumpuhkan aktivitas masyarakat, mulai dari kegiatan pendidikan hingga transportasi udara.
Data korban terus bertambah seiring proses penanganan di lapangan. Otoritas Taiwan mencatat 527 orang mengalami luka-luka dalam laporan awal. Namun, data yang lebih baru pada Sabtu (24/10/2026) mencatat jumlah korban luka mencapai 616 orang.
Perbedaan angka itu menunjukkan bahwa dampak Champi masih berkembang. Karena itu, pembaruan data menjadi penting untuk membaca skala kerusakan secara lebih akurat.
Angin 227 Kilometer per Jam Lumpuhkan Aktivitas
Badan Meteorologi Pusat Taiwan (CWA) sebelumnya mengategorikan Champi sebagai topan super. Badai ini menjadi salah satu sistem tropis terkuat di kawasan Pasifik tahun ini.
Pada Sabtu, angin di dekat pusat badai mencapai sekitar 126 kilometer per jam. Sementara itu, embusan angin di sejumlah wilayah pesisir Taiwan mencapai 227 kilometer per jam.
Pusat Champi berada sekitar 150 kilometer di sebelah timur Taiwan setelah badai melintasi perairan lepas pantai timur laut. Prakiraan saat itu memperkirakan badai bergerak ke utara menuju pesisir China, lalu mengarah ke Jepang bagian selatan.
Kekuatan angin tersebut memicu gangguan serius terhadap kehidupan warga. Pohon tumbang, rumah rusak, dan jaringan listrik terganggu ketika masyarakat menghadapi cuaca ekstrem.
Pada satu tahap penanganan, gangguan listrik berdampak pada sekitar 288.000 rumah tangga. Jumlah itu menggambarkan besarnya tekanan yang harus ditanggung infrastruktur ketika badai melanda.
Transportasi udara juga mengalami gangguan. Kementerian Transportasi Taiwan mencatat 259 penerbangan batal pada Sabtu. Angka tersebut menurun dibandingkan Jumat, ketika maskapai membatalkan hampir 1.000 penerbangan.
Pemerintah Taiwan turut menutup sekolah dan kantor di wilayah utara serta tengah selama dua hari berturut-turut. Kebijakan itu membatasi aktivitas masyarakat sekaligus mengurangi risiko ketika kondisi cuaca belum aman.
Dua WNI Mengalami Luka Ringan
Dampak Champi juga menyentuh warga negara Indonesia yang tinggal atau beraktivitas di Taiwan. Berdasarkan keterangan Kementerian Luar Negeri RI dalam bahan informasi yang tersedia, dua WNI mengalami luka ringan akibat insiden saat badai melanda.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, menjelaskan bahwa kedua korban mengalami luka di bagian siku setelah terhempas angin.
“Kedua WNI dimaksud hanya terluka ringan di siku karena terhempas angin,” kata Heni dalam pesan singkat pada Jumat (23/10/2026) malam.
Heni menjelaskan, satu WNI terjatuh dari sepeda motor. Sementara itu, seorang WNI lainnya terjatuh dari sepeda kayuh.
Keduanya kemudian menerima perawatan medis di rumah sakit setempat. Heni memastikan penanganan medis telah mereka jalani.
“Mereka telah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit setempat,” ujarnya.
Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei terus berkoordinasi dengan pihak terkait dan keluarga korban. Koordinasi itu bertujuan menyampaikan perkembangan kondisi kedua WNI tersebut.
Kemlu Imbau WNI Menghindari Perjalanan
Heni meminta WNI di Taiwan tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat. KDEI Taipei juga mengimbau warga Indonesia agar menghindari perjalanan yang tidak mendesak selama kondisi belum aman.
Imbauan tersebut penting karena cuaca ekstrem dapat mengubah situasi dalam waktu singkat. Angin kencang, pohon tumbang, serta gangguan transportasi dapat meningkatkan risiko, bahkan ketika badai mulai menjauh.
WNI yang menghadapi keadaan darurat atau membutuhkan bantuan dapat menghubungi hotline KDEI Taipei melalui nomor +886-901-132-000 atau +886-987-587-000.
Badai Mereda, Risiko Belum Berakhir
Taiwan memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi topan. Namun, kesiapan tersebut tidak menghapus risiko kerusakan dan korban ketika badai membawa angin ekstrem.
Topan juga dapat melanda Taiwan pada musim gugur, meskipun lebih sering muncul pada musim panas. Kondisi ini menegaskan bahwa ancaman cuaca ekstrem tidak berhenti hanya karena musim utama topan telah berlalu.
Kasus Champi memperlihatkan bahwa dampak badai tidak hanya terlihat dari kecepatan angin atau jumlah rumah yang kehilangan listrik. Gangguan penerbangan, penutupan sekolah dan kantor, serta keselamatan warga menjadi bagian dari rangkaian dampak yang saling berkaitan.
Bagi WNI di Taiwan, kewaspadaan dan akses terhadap informasi resmi tetap menjadi langkah penting. Sementara itu, perkembangan jumlah korban dan pemulihan layanan publik akan menentukan seberapa besar dampak Champi setelah badai menjauh.
Champi mungkin bergerak meninggalkan Taiwan. Namun, pekerjaan memulihkan kehidupan warga, memperbaiki kerusakan, dan memastikan keselamatan masyarakat belum selesai. @dimas








