Karhutla Gunung Lawu mencapai 490 hektare. Medan terjal, kabut asap, dan angin tak menentu menghambat petugas menjangkau titik api dan memadamkan kebakaran.
Tabooo.id: Karanganyar – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu menghadapi kendala serius. Medan yang terjal, kabut asap, serta arah angin yang tidak menentu menyulitkan petugas menjangkau titik api, terutama di sekitar Pos 2 Cemoro Kandang.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa kondisi alam menjadi salah satu hambatan utama dalam proses pemadaman.
“Di sana terdapat, kabut asap, angin tidak menentu, dan lereng yang terjal dan curam sehingga sulit untuk petugas kita mencapai titik-titik ini,” kata Berton dikutip dari Kompas.com pada Jumat (23/10/2026).
Kendala tersebut membuat petugas harus menghadapi medan yang sulit saat berupaya menjangkau lokasi kebakaran. Di tengah kondisi itu, angin yang berubah-ubah juga berpotensi menambah tantangan dalam pengendalian api.
Karanganyar Catat Luas Kebakaran 490 Hektare
Data yang disampaikan BNPB pada Jumat (23/10/2026) mencatat luas kebakaran di wilayah Karanganyar, Jawa Tengah, mencapai 490 hektare. Angka ini menunjukkan besarnya area yang terdampak kebakaran di wilayah tersebut.
Namun, luas kebakaran di Karanganyar perlu dibedakan dari total karhutla di berbagai daerah lain. BNPB juga mencatat kebakaran di sejumlah kawasan di luar enam provinsi prioritas penanganan karhutla.
Berdasarkan pendataan hingga Kamis (22/10/2026), total luas area terbakar di wilayah-wilayah tersebut mencapai 2.230,45 hektare. Dari jumlah itu, petugas telah memadamkan api di area seluas 156,95 hektare. Sementara itu, kebakaran di area seluas 2.073,50 hektare masih dalam penanganan.
Gunung Arjuno Jadi Area Terluas
Kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan Gunung Lawu. BNPB mencatat Gunung Arjuno di Jawa Timur menjadi salah satu lokasi dengan luas area terbakar terbesar, yakni 736,80 hektare.
Di Jawa Tengah, selain Karanganyar dengan catatan 490 hektare, kebakaran di kawasan Gunung Sumbing mencapai 381,20 hektare. BNPB juga melaporkan kebakaran di Maluku Utara seluas 184,13 hektare dan Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, seluas 130 hektare.
Sejumlah lokasi lain turut terdampak. Kebakaran tercatat di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Probolinggo seluas 75,37 hektare, Sigi di Sulawesi Tengah 60 hektare, serta Kalimantan Timur dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) 52,95 hektare.
BNPB juga mencatat kebakaran di Raja Ampat, Papua Barat Daya, seluas 50 hektare; Way Kambas, Lampung Timur, 24 hektare; dan Mamuju, Sulawesi Barat, 20 hektare. Kebakaran juga terjadi di TPA Supit Urang, Malang, seluas 14 hektare, TPA Makbon, Sorong, 7 hektare, serta Minahasa Utara, 5 hektare.
Pemadaman Berpacu dengan Luas Area Terbakar
Data tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla masih menghadapi pekerjaan besar. Dari total 2.230,45 hektare area terbakar di luar enam provinsi prioritas, sebagian besar masih berada dalam penanganan petugas.
Di Gunung Lawu, tantangan medan terjal, kabut asap, dan angin yang tidak menentu memperberat upaya pemadaman. Petugas bukan hanya harus menjangkau titik api, tetapi juga bekerja di tengah kondisi alam yang membatasi akses.
Luas area terbakar menjadi salah satu ukuran besarnya dampak kebakaran. Namun, angka tersebut belum menjelaskan seluruh persoalan di lapangan, termasuk kecepatan penanganan dan perkembangan titik api terbaru.
Karena itu, pembaruan data luas kebakaran dan hasil pemadaman menjadi penting untuk melihat perkembangan situasi secara utuh. Ketika ribuan hektare masih dalam penanganan, tantangan penanggulangan karhutla bukan sekadar menemukan titik api, melainkan memastikan upaya pemadaman mampu menjangkau wilayah yang sulit diakses. @dimas








