Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ketika Rakyat Terlelap di Seberang Istana

by Tabooo
November 22, 2025
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Hujan deras menggulung halaman Kraton Surakarta siang itu. Di Bangsal Wisamarta, seorang lelaki terbaring miring, kakinya telanjang, air matanya mungkin kalah deras dari air langit. Tubuhnya tampak pasrah, kepalanya beralas botol plastik bekas, tidur atau sekadar menyerah sejenak dari kehidupan yang tak pernah berbasa-basi kepadanya.

Di depannya, berdiri bangunan biru megah yang selama berminggu-minggu ini jadi panggung perebutan takhta, dua bangsawan, dua gelar, dua PB XIV. Sementara di jarak hanya beberapa meter, ada rakyat jelata yang bahkan mungkin tak punya tempat pulang selain lantai dingin bangsal istana.

Ironis? Jelas. Tapi lebih dari ironi, pemandangan ini seperti tamparan lembut yang berkata, “Di negeri ini, drama kekuasaan selalu punya panggung. Tapi tidur rakyat jarang punya ruang.”

Rakyat di Lantai, Elite di Singgasana yang Retak

Di tengah sengketa suksesi Pakubuwono XIV, di mana legitimasi, paugeran, dan sabda dalem jadi senjata, foto ini membongkar satu fakta yang jarang disebut. Nyatanya, hidup rakyat tetap berjalan, bahkan ketika istana sedang bertarung dengan dirinya sendiri.

Di depan pintu kraton yang menjadi simbol kekuasaan Mataram, seorang warga tertidur begitu saja. Bukan karena ia tidak peduli siapa yang naik takhta. Tapi mungkin karena untuknya, yang penting bukan siapa rajanya, melainkan apakah hidupnya bisa sedikit lebih layak hari ini.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Negara boleh bicara stabilitas, kraton boleh bicara paugeran, dan para bangsawan boleh bicara legitimasi.

Rakyat kecil? Mereka bicara kenyataan.

Ketika Rakyat Terlelap di Seberang Istana
Di depan istana yang sedang berebut takhta, seorang rakyat terlelap di lantai basah (Foto: Tabooo)

Ketika Kraton Sibuk Bernegosiasi Takhta, Rakyat Bernegosiasi dengan Hidup

Sengketa suksesi ini telah melahirkan kerumunan opini:

  • Haruskah putra permaisuri otomatis jadi raja?
  • Apakah anak sulung lebih berhak?
  • Apa benar ada sabda dalem?
  • Siapa yang pantas disebut PB XIV yang sah?

Tapi foto satu ini menempatkan pertanyaan lain yang jauh lebih besar, “Untuk apa rebutan takhta jika yang tidur di depannya tetap harus berbaring di lantai?”

Ketika elite berseteru soal garis keturunan, rakyat bernegosiasi dengan garis nasib.

Ketika para bangsawan sibuk membaca naskah sejarah, rakyat membaca cuaca hari ini, hujan deras, tapi tidak ada tempat berteduh.

Ketika satu keluarga memperdebatkan siapa pemimpin yang sah, rakyat bahkan tidak tahu siapa yang memimpin hidup mereka besok.

Istana yang Mewah, Lantai yang Dingin

Kraton Surakarta berdiri gagah dengan ukiran birunya. Cantik, megah, penuh filosofi. Tapi lantai tempat lelaki itu tidur juga punya filosofi lain, kita hidup di ruang yang sama, tapi dengan kenyataan yang sangat berbeda.

Jarang ada simbol yang begitu jelas:

  • Di satu sisi, bangunan yang diklaim penuh karisma dan wibawa.
  • Di sisi lain, manusia yang harus berbagi kehangatan dengan lantai basah.

Pertanyaannya, jika istana adalah rumah budaya, apakah rakyat juga bagian dari budaya itu? Atau budaya itu hanya berhenti pada tembok dan gelar?

Rakyat Tidak Meminta Banyak, Hanya Tempat Berteduh dalam Badai

Foto ini bukan sekadar potret kemiskinan. Ini potret kejujuran. Potret yang berkata bahwa dalam hiruk pikuk perebutan legitimasi, rakyat tetap hidup seperti biasa, bahkan sekalipun kehidupan itu sedang tidak berpihak pada mereka.

Sengketa PB XIV mungkin penting untuk urusan adat. Tapi hidup rakyat jauh lebih penting untuk urusan masa depan.

Karena seberapa sakral pun takhta itu, apa artinya jika rakyat yang duduk di depan pintunya tetap terlelap bukan karena damai, tapi karena lelah?

Pada Akhirnya, Pertanyaannya Sederhana

Ketika kerabat berdialog tentang raja, ketika pemerintah bicara tentang penghormatan budaya, ketika para pengamat memetakan konflik internal…

Lelaki itu tetap tertidur. Bukan karena ia memilih diam, tapi karena hidup memaksanya.

Dan dari semua pertanyaan tentang sengketa suksesi, mungkin ini yang paling jujur, “Kalau rakyat masih tidur di seberang istana, apa arti sebuah takhta?”

Ini bukan sekadar cerita tentang perebutan gelar, tapi tentang seseorang yang tidur di sela-sela sejarah. Karena kadang, yang terbaring diam justru yang paling keras berbicara. @tabooo

Tags: Jawa TengahKraton SurakartaSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Kabar OTT KPK Bupati Klaten Beredar, KPK Belum Beri Konfirmasi

Kabar OTT KPK Bupati Klaten Beredar, KPK Belum Beri Konfirmasi

by teguh
Oktober 15, 2026

Kabar OTT KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, beredar pada Kamis, 15/10/2026. Informasi itu turut menyebut nama...

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

by teguh
September 26, 2026

Pemalang kering tiga bulan tanpa kepastian air mengubah kemarau menjadi persoalan sehari-hari bagi ribuan keluarga di Pemalang, Jawa Tengah. Tabooo.id...

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

by teguh
September 26, 2026

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang masih berlansung dan air bersih yang biasanya tinggal membuka keran kini berubah menjadi barang yang...

Next Post
Masjid Agung Mendadak Jadi Titik Panas: Dua Raja Sholat Jumat Bareng, Ada Apa di Baliknya?

Masjid Agung Mendadak Jadi Titik Panas, Ada Apa?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id