Dua Garebeg Mulud digelar di Karaton Surakarta, membawa delapan gunungan ke Masjid Agung Solo yang kemudian diperebutkan warga di puncak Sekaten.
Tabooo.id: Surakarta – Delapan gunungan hasil bumi mengiringi puncak Sekaten di Masjid Agung Solo, Rabu (26/8/2026). Dua rombongan Hajaddalem Pareden Garebeg Mulud Tahun Be 1960 membawa gunungan dari Karaton Solo untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Masing-masing rombongan membawa dua pasang atau empat gunungan. Total delapan gunungan kemudian menjadi pusat perhatian warga dan wisatawan yang memadati kawasan Masjid Agung Solo.
Keramaian sudah terasa sejak pagi. Warga berdiri di sekitar halaman masjid sambil menunggu rombongan pembawa gunungan tiba.
Rombongan pertama dari Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Empat gunungan berisi hasil bumi langsung menarik perhatian masyarakat.
Para abdi dalem membawa gunungan menuju halaman Masjid Agung Solo. Setelah tiba, mereka menempatkannya di lokasi yang telah disiapkan.
Perwakilan Karaton bersama pengurus Masjid Agung kemudian memanjatkan doa. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dalam puncak rangkaian Sekaten.
Namun, warga sudah merapat di sekitar gunungan.
Antusiasme semakin tinggi ketika warga menunggu kesempatan mengambil hasil bumi. Sebagian bahkan mulai mengambil hasil bumi ketika doa belum selesai.
Begitu perebutan berlangsung, gunungan langsung berpindah tangan.
Dalam hitungan detik, hasil bumi yang sebelumnya tersusun menjulang nyaris tak tersisa. Petugas gabungan dan abdi dalem membantu mengatur kerumunan agar proses tetap tertib.
Bagi warga, hasil bumi itu memiliki makna tersendiri. Mereka percaya gunungan yang telah melalui prosesi doa membawa berkah.
Dua Grebeg, Delapan Gunungan
Rombongan kedua tiba sekitar pukul 11.30 WIB.
Kali ini, rombongan Pakoe Boewono XIV Purbaya membawa empat gunungan hasil bumi dari Karaton Solo menuju Masjid Agung.
Perwakilan Karaton dan pengurus masjid kembali memimpin doa sebelum masyarakat mengambil bagian dari gunungan.
Dua gunungan kemudian dibagikan di halaman Masjid Agung Solo. Dua lainnya dibawa menuju depan Kori Kamandungan untuk dibagikan kepada warga.
Antusiasme kembali memenuhi kawasan tersebut. Warga bergerak mendekati gunungan dan mengambil hasil bumi yang tersedia.
Petugas gabungan dan abdi dalem tetap mengawal pembagian agar kerumunan tidak berkembang menjadi kekacauan.
Pemandangan itu memperlihatkan kuatnya daya tarik Garebeg Mulud. Masyarakat tidak sekadar datang menyaksikan ritual, tetapi ikut mengambil bagian dalam tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.
Dari Gamelan ke Gunungan
Garebeg Mulud menjadi puncak dari rangkaian Sekaten yang berlangsung selama beberapa hari.
Yono, warga asal Solo, mengaku sudah mengikuti kemeriahan Sekaten sejak awal. Ketika gamelan mulai ditabuh, ia datang menyaksikan rangkaian tradisi tersebut hingga suasana pasar malam.
Kehadirannya berlanjut sampai siang ini. Yono kembali datang bersama istrinya untuk menyaksikan prosesi Garebeg Mulud di Masjid Agung Solo.
“Dari awal gamelan ditabuh, pasar malam selalu datang. Sampai kegiatan siang hari ini, Garebeg Mulud,” ujar Yono.
Bagi Yono, Sekaten bukan sekadar acara yang ramai saat puncak. Ia mengikuti rangkaiannya dari awal hingga akhir karena tradisi tersebut sudah menjadi bagian dari suasana tahunan di Solo.
Gamelan, pasar malam, hingga gunungan menjadi rangkaian yang saling terhubung. Puncaknya hadir ketika gunungan dibawa menuju Masjid Agung dan diperebutkan masyarakat.
Kehadiran warga seperti Yono memperlihatkan bahwa Sekaten tetap hidup melalui kebiasaan masyarakat yang terus mengikuti setiap tahapannya.
Sepotong Sayuran dan Harapan tentang Berkah
Keyakinan terhadap berkah menjadi alasan lain yang membuat perebutan gunungan selalu menarik perhatian.
Saryanti, warga asli Solo, mengatakan dirinya rutin mengikuti Garebeg Mulud setiap tahun. Ia juga selalu berusaha mendapatkan bagian dari gunungan.
Tahun ini, Saryanti memperoleh sayuran.
“Ini tadi dapat sayuran. Saya percaya gunungan ini membawa berkah, rezeki dan juga kemudahan,” ujar Saryanti.
Sayuran tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun, bagi Saryanti, hasil bumi itu membawa harapan. Ia menghubungkan gunungan dengan rezeki, kemudahan, dan keberkahan dalam kehidupan.
Keyakinan semacam itu membuat gunungan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil bumi.
Puncak Sekaten sebagai Wujud Syukur
Penghulu Tafsir Anom di Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Raden Tumenggung KH Muhammad Muhtarom, menjelaskan Hajaddalem Pareden Garebeg Mulud merupakan puncak Sekaten.
Menurut Muhtarom, Garebeg Mulud menjadi wujud syukur Karaton, masyarakat, dan abdi dalem atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Garebeg Mulud merupakan wujud syukur Karaton Solo dan masyarakat dan abdi dalem dengan adanya kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan harapan masyarakat meneladani Nabi Muhammad,” ujar Muhtarom.
Pesan tersebut menempatkan gunungan sebagai bagian dari rangkaian yang lebih besar. Tradisi tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga membawa pesan spiritual tentang rasa syukur dan keteladanan.
Masjid Agung Solo melayani dua prosesi Garebeg Mulud dari Karaton Solo. Kedua prosesi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan.
Muhtarom juga menyampaikan harapan terhadap masa depan Karaton Solo.
“Dengan harapan Karaton Solo mendapatkan ketenteraman, kembali kuncoro, menjadi pusat peradaban kembali, menjadi pusat tata nilai kembali. Karaton Solo menjadi pusat tata nilai kembali bisa membawa kebahagiaan bagi masyarakat,” katanya.
Harapan tersebut memperlihatkan posisi Garebeg bukan hanya sebagai ritual tahunan. Prosesi itu juga menjadi ruang untuk menyampaikan doa bagi Karaton dan masyarakat.
Tradisi yang Terus Menemukan Makna
Sekaten mungkin terlihat seperti rangkaian ritual yang terus berulang.
Gamelan ditabuh. Warga berdatangan. Gunungan keluar dari Karaton. Doa dipanjatkan. Masyarakat kemudian berebut hasil bumi.
Namun, pengulangan itu justru menunjukkan bahwa tradisi masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Wisatawan melihatnya sebagai daya tarik budaya. Warga merawatnya sebagai kebiasaan. Karaton mempertahankannya sebagai bagian dari warisan tradisi.
Sementara itu, masyarakat seperti Saryanti memberi makna personal terhadap hasil bumi yang mereka dapatkan.
Di situlah kekuatan Garebeg Mulud terlihat.
Delapan gunungan memang habis dalam hitungan detik. Namun, yang diperebutkan warga bukan semata-mata sayuran dan buah. Mereka juga mengejar simbol berkah yang lahir dari perpaduan tradisi, doa, dan keyakinan.
Garebeg Mulud akhirnya tidak berhenti ketika gunungan habis.
Warga membawa pulang hasil bumi. Mereka juga membawa cerita, pengalaman, dan keyakinan masing-masing.
Sekaten tetap hidup bukan hanya karena Karaton menjalankan ritualnya, tetapi karena masyarakat terus datang, menyaksikan, mengikuti, dan memberi makna baru pada tradisi tersebut. @dimas








