Tabooo.id: Regional – Kontingen Jawa Tengah pulang dengan senyum lebar. Empat atlet para Taekwondo asal Klaten bikin panggung Kejurnas PBTI–Solo Series 2025 bergetar, memborong emas, dua perak, dan satu perunggu. Prestasi yang bukan cuma soal angka di papan skor, tapi bukti bahwa pembinaan atlet disabilitas Klaten benar-benar hidup bukan sekadar jargon.
Digelar di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Jumat–Minggu (14 -16/11/2025), kejuaraan ini menghadirkan persaingan ketat antarprovinsi. Namun para atlet Klaten justru tampil percaya diri. Suryani, atlet asal Kemalang, sukses menyabet emas di kelas K44 putri under 57 kg, menjadikannya bintang utama kontingen Jateng.
Performa gemilang itu disusul dua medali perak dari Afifah Narani (Jogonalan) yang turun di kelas K44 putri under 57 kg, serta Nafara Salsabila Putri (Karanganom) di nomor K44 putri under 47 kg. Sementara Widi Nugroho dari Manisrenggo memperkuat catatan prestasi dengan perunggu di kelas putra under 80 kg.
Ketua NPCI Klaten, Sri Mulyo, menyebut prestasi ini bukan kejutan melainkan hasil konsisten dari pembinaan jangka panjang para atlet untuk Peparnas 2024. “Alhamdulillah untuk pembinaan di Klaten masih tetap berjalan. Sehingga diberikan tiket untuk mewakili Jawa Tengah pada kejuaraan itu,” ujarnya (19/11/2025).
Ia menekankan bahwa pembinaan tidak hanya soal teknik, tapi juga mental. “Kami memberikan kesempatan untuk teman-teman disabilitas Klaten menjadi atlet. Akan kami bina sesuai potensi dan skill mereka. Kami berikan program motivasi agar mereka tidak minder, tidak berkecil hati,” tegasnya.
Karena prestasi ini mengingatkan bahwa olahraga bukan hanya panggung bagi mereka yang “sempurna” tetapi ruang pemberdayaan yang nyata. Di tengah gempuran isu negatif di dunia olahraga, kisah para atlet Klaten menunjukkan bahwa dukungan yang konsisten bisa membuka pintu karier, rasa percaya diri, dan kebanggaan bagi komunitas disabilitas. Ini bukan sekadar soal medali; ini soal memberi ruang yang layak bagi semua orang untuk bersinar.
Prestasi ini mungkin bermula dari Klaten, tapi resonansinya terasa jauh lebih luas: kalau kesempatan dibuka lebar, siapa pun bisa naik podium. Dan bukankah kemenangan terbesar selalu dimulai dari yang berani mencoba? (sig)





