Selasa, Agustus 25, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kisah yang Terlupakan: Emas Monas dan Teuku Markam

by Waras
Agustus 25, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Di puncak Monas, 28 kilogram emas menjadi bagian dari simbol nasional yang terus berdiri di tengah Jakarta. Di balik kilau itu ada Teuku Markam, pengusaha yang disebut menyumbangkan emas tersebut dari kekayaan pribadinya. Namun, kisahnya tidak berhenti pada berat emas. Di baliknya ada cerita tentang kekayaan, kekuasaan, dan ingatan sejarah yang ikut berubah.

Tabooo.id: Kalau melihat Monas dari kejauhan, mata kita biasanya langsung tertuju pada satu bagian: lidah api berlapis emas di puncaknya.

Bentuknya memang sederhana. Namun, di balik lapisan emas itu ada cerita yang jauh lebih rumit daripada sekadar pembangunan sebuah monumen.

Salah satu nama yang selalu muncul dalam cerita tersebut adalah Teuku Markam.

Data menyebut, ia menyumbangkan 28 kilogram emas untuk Monas.

Lalu pertanyaannya sederhana, tetapi menarik: emas sebanyak itu sebenarnya berasal dari mana?

Ini Belum Selesai

Bocah Gimbal Dieng: Ketika Rambut Anak Menjaga Cerita Leluhur

Kapal Jung Jawa: Saat Laut Nusantara Pernah Menjadi Jalan Raya Asia

28 Kg Emas dari Kantong Pribadi

Dokumen sejarah Teuku Markam mencatat bahwa pembangunan Monas membutuhkan emas murni untuk melapisi struktur lidah api di puncak tugu setinggi 132 meter.

Kebutuhan awalnya mencapai 38 kilogram.

Dari jumlah tersebut, Teuku Markam menyumbangkan 28 kilogram emas dari kekayaan pribadinya. Kontribusi itu membuatnya tercatat sebagai donatur tunggal terbesar untuk bagian emas Monas.

Angka 28 kilogram terdengar besar bahkan untuk ukuran sekarang.

Apalagi jika kita membayangkan konteksnya pada awal 1960-an, ketika Indonesia sedang membangun banyak proyek monumental di tengah situasi politik dan ekonomi yang tidak sederhana.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.

Dokumen sejarah yang menjadi dasar tulisan ini tidak menyebut emas tersebut berasal dari tambang tertentu.

Tidak ada keterangan bahwa emas itu ditambang di daerah tertentu. Tidak ada pula informasi yang memastikan siapa pemasoknya atau melalui jalur perdagangan mana untuk memperoleh emas tersebut.

Yang tercatat dengan jelas adalah sumber kepemilikannya: kekayaan pribadi Teuku Markam.

Dan justru di titik inilah cerita Monas mulai membawa kita kepada cerita yang lebih besar.

Asal Kekayaan Markam

Untuk memahami bagaimana seorang pengusaha bisa memiliki kekayaan yang memungkinkan kontribusi sebesar itu, kita harus melihat perjalanan bisnis Markam.

Setelah meninggalkan dunia militer, Markam membangun bisnis melalui PT Karkam. Perusahaan itu berkembang jauh melampaui bisnis perdagangan biasa.

Dalam waktu relatif singkat, PT Karkam tumbuh menjadi konglomerasi dengan aktivitas perdagangan lintas pulau hingga internasional.

Pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau Operasi Dwikora, Markam dipercaya mengelola ekspor karet alam dari Sumatra ke Singapura dan Malaysia.

Ia juga mendapat kewenangan mengelola barang rampasan perang untuk dihimpun menjadi Dana Revolusi. PT Karkam kemudian memegang hak impor berbagai barang penting, mulai dari kendaraan, besi beton, plat baja, semen, hingga persenjataan dengan persetujuan pemerintah.

Jaringan bisnis itu juga tidak berhenti di meja perdagangan.

Markam membangun jaringan logistik sendiri, lengkap dengan armada kapal niaga dan fasilitas dok kapal di sejumlah pelabuhan strategis.

Dari sana, kekayaan Markam tumbuh bersama kedekatannya dengan proyek-proyek negara pada era Demokrasi Terpimpin.

Jadi, 28 kilogram emas itu tidak muncul begitu saja.

Ia merupakan bagian dari kekayaan seorang pengusaha yang saat itu berada di salah satu titik paling kuat dalam hubungan antara bisnis dan negara.

Emas Monas dan Berbagai Proyek Negara

Kontribusi Markam kepada proyek negara juga tidak berhenti di Monas.

Dokumen tersebut mencatat, ia juga mendukung persiapan terhadap pembebasan lahan di kawasan Senayan untuk kompleks olahraga dalam rangka Games of the New Emerging Forces (GANEFO).

Ia juga memberikan dukungan dana untuk penyelenggaraan KTT Asia-Afrika di Bandung, operasi pembebasan Irian Barat, serta program pemberantasan buta huruf yang dicanangkan pemerintah.

Artinya, kisah Markam tidak cukup dibaca sebagai cerita tentang seorang pengusaha yang “menyumbang emas”.

Ada konteks politik dan ekonomi yang lebih besar di belakangnya.

Pada masa itu, pemerintah membutuhkan modal untuk menjalankan proyek-proyek besar. Di sisi lain, pengusaha pribumi seperti Markam memperoleh ruang yang luas untuk berkembang melalui hubungan dengan negara.

Di antara keduanya, uang, kekuasaan, dan proyek nasional bertemu.

Monas menjadi salah satu simbol paling terlihat dari hubungan tersebut.

Ketika Kekuasaan Berbalik

Di sinilah cerita tersebut berubah arah.

Markam pernah berada di posisi yang sangat kuat. Ia memiliki jaringan bisnis besar, akses ke pusat kekuasaan, dan kekayaan yang cukup untuk ikut membiayai proyek-proyek monumental negara.

Namun, perubahan politik setelah 1965 mengubah semuanya.

Dokumen sejarah Markam mencatat bahwa ia kemudian ditangkap dan menjalani masa penahanan tanpa proses peradilan yang sah. Pada periode yang sama, PT Karkam dan harta pribadinya disita negara.

Perubahan itu bukan sekadar jatuhnya seorang pengusaha.

Ia menunjukkan betapa cepat posisi seseorang dapat berubah ketika hubungan antara kekuasaan politik dan modal ikut berubah.

Dalam satu periode, Markam berada di pusat pembangunan nasional.

Pada periode berikutnya, namanya justru terseret dalam perubahan politik dan pengambilalihan aset.

Tersisa Emasnya

Ada ironi yang sulit dilewatkan.

Orang yang menyumbangkan 28 kilogram emas itu akhirnya kehilangan sebagian besar kekayaan yang pernah membawanya ke puncak.

Namun, emas yang ia sumbangkan tetap menjadi bagian dari simbol nasional Indonesia.

Monas terus berdiri.

Lidah apinya tetap berada di atas sana.

Sementara nama Teuku Markam tidak selalu muncul ketika orang membicarakan sejarah pembangunan Monas.

Di satu sisi, ia dikenang sebagai dermawan yang menyumbangkan 28 kilogram emas. Di sisi lain, kisah politik dan penyitaan aset membuat sejarah hidupnya jauh lebih rumit.

Emasnya Ada, Namanya Memudar?

Kalau pertanyaannya adalah siapa yang menyumbangkan 28 kilogram emas untuk Monas, dokumen sejarah memberikan jawaban yang jelas: Teuku Markam, dari kekayaan pribadinya.

Tetapi kalau pertanyaannya lebih spesifik—emas itu ditambang di mana, dibeli dari siapa, dan bagaimana tepatnya sampai ke proyek Monas—dokumen tersebut belum memberikan jawabannya.

Ini penting supaya cerita sejarah tidak berubah menjadi legenda yang kita ulang tanpa memeriksa detailnya.

Yang kita tahu adalah Markam memiliki kekayaan besar, membangun jaringan bisnis luas, dan menggunakan sebagian kekayaannya untuk mendukung berbagai proyek nasional pada era Soekarno.

Salah satunya adalah 28 kilogram emas untuk Monas.

Dan mungkin, di situlah cerita ini menjadi lebih menarik.

Emasnya masih berkilau di atas Jakarta. Tetapi perjalanan orang yang menyumbangkannya justru pernah dibuat gelap oleh perubahan zaman.

Monas akhirnya bukan hanya monumen setinggi 132 meter.

Ia juga menyimpan satu pertanyaan tentang sejarah Indonesia: ketika kekuasaan berubah, apakah ingatan tentang orang-orang yang ikut membangun simbol negara ikut berubah?

Karena kadang, yang hilang dari sejarah bukan bendanya.

Melainkan nama orang di baliknya. @waras

Tags: emas monaskekuasaan era soekarnoSejarah Indonesiasejarah monasTeuku Markam

Kamu Melewatkan Ini

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

Teuku Markam: Dekat dengan Kekuasaan, Jatuh Bersama Rezim

by Waras
Agustus 23, 2026

Teuku Markam pernah berada di dekat pusat kekuasaan, mengelola bisnis besar, dan ikut membiayai proyek negara. Namun ketika rezim berganti,...

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

by teguh
Agustus 22, 2026

Ada benda yang cukup disimpan di lemari. Ada pula benda pusaka harus pergi dan membawa cerita sebagai warisan keluarga. Tabooo.id...

Hampir Seabad “Indonesia Raya”, Siapa yang Menjaga Warisan W.R. Soepratman?

Hampir Seabad “Indonesia Raya”, Siapa yang Menjaga Warisan W.R. Soepratman?

by teguh
Agustus 19, 2026

Pada Senin, 17 Agustus 2026, Warisan W.R. Soepratman kembali muncul di Istana Kepresidenan Jakarta. Kali ini, bukan biola yang menjadi...

Next Post
Benarkah Rumah Kontrakan Kena Pajak Baru Mulai 2027?

Benarkah Rumah Kontrakan Kena Pajak Baru Mulai 2027?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id