Di puncak Monas, 28 kilogram emas menjadi bagian dari simbol nasional yang terus berdiri di tengah Jakarta. Di balik kilau itu ada Teuku Markam, pengusaha yang disebut menyumbangkan emas tersebut dari kekayaan pribadinya. Namun, kisahnya tidak berhenti pada berat emas. Di baliknya ada cerita tentang kekayaan, kekuasaan, dan ingatan sejarah yang ikut berubah.
Tabooo.id: Kalau melihat Monas dari kejauhan, mata kita biasanya langsung tertuju pada satu bagian: lidah api berlapis emas di puncaknya.
Bentuknya memang sederhana. Namun, di balik lapisan emas itu ada cerita yang jauh lebih rumit daripada sekadar pembangunan sebuah monumen.
Salah satu nama yang selalu muncul dalam cerita tersebut adalah Teuku Markam.
Data menyebut, ia menyumbangkan 28 kilogram emas untuk Monas.
Lalu pertanyaannya sederhana, tetapi menarik: emas sebanyak itu sebenarnya berasal dari mana?
28 Kg Emas dari Kantong Pribadi
Dokumen sejarah Teuku Markam mencatat bahwa pembangunan Monas membutuhkan emas murni untuk melapisi struktur lidah api di puncak tugu setinggi 132 meter.
Kebutuhan awalnya mencapai 38 kilogram.
Angka 28 kilogram terdengar besar bahkan untuk ukuran sekarang.
Apalagi jika kita membayangkan konteksnya pada awal 1960-an, ketika Indonesia sedang membangun banyak proyek monumental di tengah situasi politik dan ekonomi yang tidak sederhana.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.
Dokumen sejarah yang menjadi dasar tulisan ini tidak menyebut emas tersebut berasal dari tambang tertentu.
Tidak ada keterangan bahwa emas itu ditambang di daerah tertentu. Tidak ada pula informasi yang memastikan siapa pemasoknya atau melalui jalur perdagangan mana untuk memperoleh emas tersebut.
Yang tercatat dengan jelas adalah sumber kepemilikannya: kekayaan pribadi Teuku Markam.
Dan justru di titik inilah cerita Monas mulai membawa kita kepada cerita yang lebih besar.
Asal Kekayaan Markam
Untuk memahami bagaimana seorang pengusaha bisa memiliki kekayaan yang memungkinkan kontribusi sebesar itu, kita harus melihat perjalanan bisnis Markam.
Setelah meninggalkan dunia militer, Markam membangun bisnis melalui PT Karkam. Perusahaan itu berkembang jauh melampaui bisnis perdagangan biasa.
Dalam waktu relatif singkat, PT Karkam tumbuh menjadi konglomerasi dengan aktivitas perdagangan lintas pulau hingga internasional.
Pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia atau Operasi Dwikora, Markam dipercaya mengelola ekspor karet alam dari Sumatra ke Singapura dan Malaysia.
Ia juga mendapat kewenangan mengelola barang rampasan perang untuk dihimpun menjadi Dana Revolusi. PT Karkam kemudian memegang hak impor berbagai barang penting, mulai dari kendaraan, besi beton, plat baja, semen, hingga persenjataan dengan persetujuan pemerintah.
Jaringan bisnis itu juga tidak berhenti di meja perdagangan.
Markam membangun jaringan logistik sendiri, lengkap dengan armada kapal niaga dan fasilitas dok kapal di sejumlah pelabuhan strategis.
Jadi, 28 kilogram emas itu tidak muncul begitu saja.
Ia merupakan bagian dari kekayaan seorang pengusaha yang saat itu berada di salah satu titik paling kuat dalam hubungan antara bisnis dan negara.
Emas Monas dan Berbagai Proyek Negara
Kontribusi Markam kepada proyek negara juga tidak berhenti di Monas.
Dokumen tersebut mencatat, ia juga mendukung persiapan terhadap pembebasan lahan di kawasan Senayan untuk kompleks olahraga dalam rangka Games of the New Emerging Forces (GANEFO).
Ia juga memberikan dukungan dana untuk penyelenggaraan KTT Asia-Afrika di Bandung, operasi pembebasan Irian Barat, serta program pemberantasan buta huruf yang dicanangkan pemerintah.
Artinya, kisah Markam tidak cukup dibaca sebagai cerita tentang seorang pengusaha yang “menyumbang emas”.
Ada konteks politik dan ekonomi yang lebih besar di belakangnya.
Pada masa itu, pemerintah membutuhkan modal untuk menjalankan proyek-proyek besar. Di sisi lain, pengusaha pribumi seperti Markam memperoleh ruang yang luas untuk berkembang melalui hubungan dengan negara.
Di antara keduanya, uang, kekuasaan, dan proyek nasional bertemu.
Monas menjadi salah satu simbol paling terlihat dari hubungan tersebut.
Ketika Kekuasaan Berbalik
Di sinilah cerita tersebut berubah arah.
Markam pernah berada di posisi yang sangat kuat. Ia memiliki jaringan bisnis besar, akses ke pusat kekuasaan, dan kekayaan yang cukup untuk ikut membiayai proyek-proyek monumental negara.
Namun, perubahan politik setelah 1965 mengubah semuanya.
Perubahan itu bukan sekadar jatuhnya seorang pengusaha.
Dalam satu periode, Markam berada di pusat pembangunan nasional.
Pada periode berikutnya, namanya justru terseret dalam perubahan politik dan pengambilalihan aset.
Tersisa Emasnya
Ada ironi yang sulit dilewatkan.
Orang yang menyumbangkan 28 kilogram emas itu akhirnya kehilangan sebagian besar kekayaan yang pernah membawanya ke puncak.
Namun, emas yang ia sumbangkan tetap menjadi bagian dari simbol nasional Indonesia.
Monas terus berdiri.
Lidah apinya tetap berada di atas sana.
Sementara nama Teuku Markam tidak selalu muncul ketika orang membicarakan sejarah pembangunan Monas.
Di satu sisi, ia dikenang sebagai dermawan yang menyumbangkan 28 kilogram emas. Di sisi lain, kisah politik dan penyitaan aset membuat sejarah hidupnya jauh lebih rumit.
Emasnya Ada, Namanya Memudar?
Kalau pertanyaannya adalah siapa yang menyumbangkan 28 kilogram emas untuk Monas, dokumen sejarah memberikan jawaban yang jelas: Teuku Markam, dari kekayaan pribadinya.
Tetapi kalau pertanyaannya lebih spesifik—emas itu ditambang di mana, dibeli dari siapa, dan bagaimana tepatnya sampai ke proyek Monas—dokumen tersebut belum memberikan jawabannya.
Ini penting supaya cerita sejarah tidak berubah menjadi legenda yang kita ulang tanpa memeriksa detailnya.
Yang kita tahu adalah Markam memiliki kekayaan besar, membangun jaringan bisnis luas, dan menggunakan sebagian kekayaannya untuk mendukung berbagai proyek nasional pada era Soekarno.
Salah satunya adalah 28 kilogram emas untuk Monas.
Dan mungkin, di situlah cerita ini menjadi lebih menarik.
Emasnya masih berkilau di atas Jakarta. Tetapi perjalanan orang yang menyumbangkannya justru pernah dibuat gelap oleh perubahan zaman.
Monas akhirnya bukan hanya monumen setinggi 132 meter.
Ia juga menyimpan satu pertanyaan tentang sejarah Indonesia: ketika kekuasaan berubah, apakah ingatan tentang orang-orang yang ikut membangun simbol negara ikut berubah?
Karena kadang, yang hilang dari sejarah bukan bendanya.
Melainkan nama orang di baliknya. @waras







