Nyai Setomi tak lagi berfungsi sebagai meriam perang. Jamasan di Kraton Solo menunjukkan perubahan maknanya menjadi pusaka dan penjaga ingatan sejarah Mataram.
Tabooo.id – Nyai Setomi kini tidak lagi berdiri di medan perang. Meriam pusaka itu tidak lagi mengarah ke musuh dan tidak lagi menjadi bagian dari strategi pertempuran.
Namun, Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap menjaganya.
Rabu (22/9/2026), Kraton menggelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi di Bangsal Witono, Sitinggil Lor. Ritual itu masuk dalam rangkaian Hajad Dalem Garebeg Mulud atau Sekaten.
Sekitar 50 abdi dalem mengikuti prosesi tersebut. Mereka menjalankan peran masing-masing, mulai dari kelompok Semut Ireng, Bon Darat, hingga abdi dalem putri.
Di balik ritual itu, Nyai Setomi membawa perjalanan makna yang panjang. Dari benda yang berkaitan dengan kekuatan dan konflik, meriam itu kini hadir sebagai pusaka yang membawa sejarah Mataram.
Dari Kekuatan Perang ke Jejak Sejarah
Nyai Setomi berkaitan dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Meriam pusaka ini berpasangan dengan Kanjeng Kyai Setomo atau Si Jagur.
Kini, Museum Fatahillah di Jakarta menyimpan Si Jagur.
Keduanya memiliki nilai historis karena berkaitan dengan perjuangan Sultan Agung saat menyerang VOC di Batavia. Pada masa itu, meriam membawa fungsi yang sangat jelas: kekuatan.
Senjata menjadi bagian dari perebutan wilayah dan pertahanan kekuasaan. Meriam bukan sekadar benda. Ia hadir sebagai alat yang membawa kepentingan politik dan konflik.
Namun, waktu mengubah konteks.
Hari ini, Nyai Setomi tidak lagi menjalankan fungsi tersebut. Kraton menempatkannya sebagai pusaka yang menyimpan jejak perjalanan masa lalu.
Fungsi boleh berubah, tetapi cerita tidak harus hilang.
Ketika Benda Berubah Menjadi Pusaka
Tidak semua benda tua otomatis menjadi pusaka. Sebuah benda mendapat makna karena manusia terus menghubungkannya dengan sejarah, nilai, dan identitas.
Di situlah Nyai Setomi menempati ruang yang berbeda.
Kraton tidak hanya menyimpan meriam itu sebagai benda lama. Tradisi juga memberi ruang bagi Nyai Setomi untuk tetap hadir dalam kehidupan budaya.
Jamasan menjadi salah satu ruang tersebut.
Utusan Dalem Kraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Parno Adiningrat, menyebut Jamasan Nyai Setomi sebagai bagian dari upaya Kraton untuk nguri-uri adat turun-temurun.
“Jamasan Nyai Setomi ini untuk nguri-uri adat turun-temurun, dan jamasan ini memohon agar Garebeg Mulud Be 1960 atau tahun 2026 semuanya berjalan baik dan lancar,” ujar KP Parno Adiningrat.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Kraton memberi Nyai Setomi peran baru dalam ingatan budaya. Meriam itu tidak lagi berbicara melalui dentuman, tetapi melalui ritual yang terus berlangsung.
Merawat Lebih dari Sekadar Logam
Jamasan tidak hanya berhubungan dengan kebersihan fisik pusaka. Prosesi ini juga membawa tata cara, doa, dan aturan yang menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini.
Pengangeng Kaputren GKR Alit memimpin prosesi tersebut. GRAy Koes Rahmaniyah turut mendampingi jalannya ritual.
Kraton juga tidak menyerahkan tugas inti kepada sembarang orang. Abdi dalem yang menjalankan jamasan harus memenuhi syarat sesuai tata aturan Kraton.
Mereka harus telah menjalani Sumpah Raja dan memperoleh dhawuh atau lilah dari SISKS PB XIV.
Aturan itu memperlihatkan bahwa Kraton menjaga pusaka melalui lebih dari satu lapisan. Kraton menjaga bendanya, tetapi juga menjaga cara merawatnya.
Pusaka tidak hanya membutuhkan tempat penyimpanan. Pusaka juga membutuhkan pengetahuan tentang bagaimana manusia memperlakukannya.
Dari Medan Konflik ke Ruang Ritual
Perubahan fungsi Nyai Setomi menghadirkan kontras yang menarik.
Di masa lalu, keberadaan meriam berkaitan dengan kekuatan dan konflik. Kini, Kraton menghadirkan Nyai Setomi dalam sebuah ritual yang menekankan doa dan keberlanjutan tradisi.
Jamasan dimulai dengan wilujengan. Kraton kemudian menyajikan hasil bumi dan tumpeng sebagai bagian dari rangkaian prosesi.
Para abdi dalem melanjutkan ritual dengan membersihkan Krobongan Bale Manguneng, tempat Nyai Setomi berada. Setelah seluruh tahapan selesai, mereka menutup dan mengunci kembali pintu krobongan.
Tidak ada dentuman perang.
Tidak ada medan pertempuran.
Yang ada adalah ritual, tata cara, dan upaya menjaga ingatan.
Perubahan itu menunjukkan bagaimana sebuah benda dapat membawa makna berbeda pada zaman yang berbeda.
Sejarah Tidak Selalu Hidup di Buku
Buku dapat mencatat sejarah. Museum dapat menyimpan benda. Namun, ritual memberi cara lain untuk membuat hubungan dengan masa lalu tetap hidup.
Melalui Jamasan Nyai Setomi, sejarah hadir bukan hanya sebagai cerita yang orang baca. Para abdi dalem menjalankan tradisi dan membawa pengetahuan itu dalam tindakan.
Di titik inilah Nyai Setomi melampaui bentuk fisiknya sebagai meriam.
Ia menjadi penghubung.
Penghubung antara sejarah Sultan Agung dan kehidupan Kraton hari ini, Penghubung antara konflik masa lalu dan ritual budaya masa kini. Penghubung antara sebuah benda dan ingatan yang terus manusia rawat.
Nyai Setomi tak lagi bertempur. Namun, sejarahnya masih hidup karena Kraton tidak membiarkannya berhenti sebagai benda lama.
Meriam itu kini berbicara dengan cara berbeda.
Bukan melalui peluru.
Tetapi melalui cerita, ritual, dan ingatan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.@eko








