Tradisi tidak cukup hanya dikenang. Regenerasi menjadi kunci agar budaya tetap hidup dan selalu memiliki generasi yang siap menjaganya.
Tabooo.id – Tradisi bisa bertahan ratusan tahun. Namun, waktu tidak pernah memberi jaminan bahwa generasi berikutnya akan terus menjaganya.
Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi, Rabu (22/9/2026). Ritual itu memperlihatkan satu hal penting: budaya tidak hidup sendiri.
Manusia yang membuat tradisi tetap bernapas.
Sekitar 50 abdi dalem mengikuti prosesi di Bangsal Witono, Sitinggil Lor. Mereka menjalankan peran sesuai tata cara dan pakem yang diwariskan Kraton dari generasi ke generasi.
Namun, di balik ritual yang berlangsung khidmat itu, muncul pertanyaan yang lebih besar.
Ketika generasi penjaga tradisi berganti, siapa yang akan meneruskan tugas mereka?
Budaya Tidak Bisa Hidup dari Kenangan
Banyak orang bangga menyebut budaya sebagai warisan leluhur. Kita mengenalnya melalui buku, museum, media sosial, atau perayaan tahunan.
Namun, mengenal tidak selalu berarti menjaga.
Seseorang bisa mengetahui nama sebuah tradisi tanpa memahami maknanya. Seseorang juga bisa datang ke sebuah ritual tanpa ingin meneruskan pengetahuan di baliknya.
Di situlah persoalannya.
Budaya membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan. Budaya membutuhkan manusia yang mau mempelajari, menjalankan, dan meneruskannya.
Jamasan Nyai Setomi memberi gambaran nyata tentang proses tersebut. Kraton tidak hanya menjaga sebuah meriam pusaka, tetapi juga menjaga pengetahuan tentang tata cara merawatnya.
Pengetahuan itu hidup melalui manusia.
Tidak Semua Hal Bisa Berlangsung Instan
Dalam Jamasan Nyai Setomi, setiap orang menjalankan tugas sesuai perannya. Kraton memberikan tugas inti kepada abdi dalem yang memenuhi syarat dan mendapat wewenang sesuai tata aturan yang berlaku.
Proses itu menunjukkan bahwa tradisi memiliki sistem.
Ada tata cara, ada tanggung jawab dan ada pengetahuan yang harus dipahami sebelum seseorang menjalankan sebuah peran.
Di era serba cepat, proses seperti ini mungkin terasa panjang. Namun, budaya memang tidak selalu menawarkan jalan instan.
Seseorang tidak bisa memahami seluruh makna tradisi hanya dengan melihat satu prosesi. Pengetahuan membutuhkan waktu, pengalaman, dan kesediaan untuk belajar.
Tradisi tidak sekadar meminta penonton. Tradisi membutuhkan penerus.
Ketika Generasi Lama Membawa Ingatan
Para penjaga tradisi membawa sesuatu yang tidak selalu tertulis dalam buku. Mereka membawa pengalaman,
mereka memahami urutan prosesi, mereka mengenal tata cara dan mereka juga memahami batas yang harus dijaga.
Ingatan seperti itu tumbuh dari keterlibatan panjang.
Karena itu, regenerasi menjadi persoalan penting. Setiap generasi perlu membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk belajar.
Tanpa proses itu, budaya berisiko kehilangan orang-orang yang memahami cara menjalankannya.
Pusaka mungkin tetap berada di tempatnya. Bangunan bersejarah mungkin tetap berdiri. Namun, makna di balik semuanya bisa perlahan memudar jika tidak ada yang meneruskan pengetahuan.
Menjaga Bukan Berarti Tinggal di Masa Lalu
Menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan.
Justru, setiap generasi perlu menemukan cara agar warisan budaya tetap memiliki hubungan dengan kehidupan hari ini.
Generasi muda tidak harus menjadi salinan generasi sebelumnya. Mereka bisa belajar, memahami, lalu membawa nilai budaya ke ruang baru.
Cerita bisa hidup melalui tulisan. Sejarah bisa menjangkau lebih banyak orang melalui video. Ritual bisa membuka ruang pembelajaran tanpa kehilangan tata nilai dan kesakralannya.
Tantangannya terletak pada keseimbangan.
Bagaimana budaya tetap terbuka untuk generasi baru tanpa kehilangan makna yang menjaganya selama ini?
Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban sederhana. Namun, setiap tradisi membutuhkan orang yang mau ikut mencari jawabannya.
Siapa yang Akan Menjaga Setelah Mereka?
Jamasan Nyai Setomi berakhir ketika para abdi dalem menyelesaikan seluruh rangkaian prosesi. Pintu krobongan pun kembali tertutup.
Namun, pertanyaan tentang masa depan tradisi tidak ikut berhenti di sana.
Generasi hari ini mewarisi banyak hal dari masa lalu. Kita mewarisi bahasa, cerita, ritual, bangunan, pusaka, dan nilai-nilai yang membentuk identitas.
Warisan itu tidak otomatis sampai kepada generasi berikutnya.
Seseorang harus menceritakannya, seseorang harus mengajarkannya.
Seseorang harus menjaganya.
Ini bukan sekadar soal Nyai Setomi atau satu ritual di Kraton Solo. Ini soal masa depan semua tradisi: mengenang memang penting, tetapi budaya hanya akan tetap hidup jika selalu ada orang yang memilih untuk menjaganya.@eko








