Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tradisi Tidak Cukup Dikenang, Siapa yang Akan Menjaganya?

by eko
Agustus 22, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Tradisi tidak cukup hanya dikenang. Regenerasi menjadi kunci agar budaya tetap hidup dan selalu memiliki generasi yang siap menjaganya.

Tabooo.id – Tradisi bisa bertahan ratusan tahun. Namun, waktu tidak pernah memberi jaminan bahwa generasi berikutnya akan terus menjaganya.

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar Jamasan Pusaka Nyai Setomi, Rabu (22/9/2026). Ritual itu memperlihatkan satu hal penting: budaya tidak hidup sendiri.

Manusia yang membuat tradisi tetap bernapas.

Sekitar 50 abdi dalem mengikuti prosesi di Bangsal Witono, Sitinggil Lor. Mereka menjalankan peran sesuai tata cara dan pakem yang diwariskan Kraton dari generasi ke generasi.

Namun, di balik ritual yang berlangsung khidmat itu, muncul pertanyaan yang lebih besar.

Ini Belum Selesai

Pasal 33 UUD 1945: Ekonomi Indonesia Milik Siapa?

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Ketika generasi penjaga tradisi berganti, siapa yang akan meneruskan tugas mereka?

Budaya Tidak Bisa Hidup dari Kenangan

Banyak orang bangga menyebut budaya sebagai warisan leluhur. Kita mengenalnya melalui buku, museum, media sosial, atau perayaan tahunan.

Namun, mengenal tidak selalu berarti menjaga.

Seseorang bisa mengetahui nama sebuah tradisi tanpa memahami maknanya. Seseorang juga bisa datang ke sebuah ritual tanpa ingin meneruskan pengetahuan di baliknya.

Di situlah persoalannya.

Budaya membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan. Budaya membutuhkan manusia yang mau mempelajari, menjalankan, dan meneruskannya.

Jamasan Nyai Setomi memberi gambaran nyata tentang proses tersebut. Kraton tidak hanya menjaga sebuah meriam pusaka, tetapi juga menjaga pengetahuan tentang tata cara merawatnya.

Pengetahuan itu hidup melalui manusia.

Tidak Semua Hal Bisa Berlangsung Instan

Dalam Jamasan Nyai Setomi, setiap orang menjalankan tugas sesuai perannya. Kraton memberikan tugas inti kepada abdi dalem yang memenuhi syarat dan mendapat wewenang sesuai tata aturan yang berlaku.

Proses itu menunjukkan bahwa tradisi memiliki sistem.

Ada tata cara, ada tanggung jawab dan ada pengetahuan yang harus dipahami sebelum seseorang menjalankan sebuah peran.

Di era serba cepat, proses seperti ini mungkin terasa panjang. Namun, budaya memang tidak selalu menawarkan jalan instan.

Seseorang tidak bisa memahami seluruh makna tradisi hanya dengan melihat satu prosesi. Pengetahuan membutuhkan waktu, pengalaman, dan kesediaan untuk belajar.

Tradisi tidak sekadar meminta penonton. Tradisi membutuhkan penerus.

Ketika Generasi Lama Membawa Ingatan

Para penjaga tradisi membawa sesuatu yang tidak selalu tertulis dalam buku. Mereka membawa pengalaman,

mereka memahami urutan prosesi, mereka mengenal tata cara dan mereka juga memahami batas yang harus dijaga.

Ingatan seperti itu tumbuh dari keterlibatan panjang.

Karena itu, regenerasi menjadi persoalan penting. Setiap generasi perlu membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk belajar.

Tanpa proses itu, budaya berisiko kehilangan orang-orang yang memahami cara menjalankannya.

Pusaka mungkin tetap berada di tempatnya. Bangunan bersejarah mungkin tetap berdiri. Namun, makna di balik semuanya bisa perlahan memudar jika tidak ada yang meneruskan pengetahuan.

Menjaga Bukan Berarti Tinggal di Masa Lalu

Menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan.

Justru, setiap generasi perlu menemukan cara agar warisan budaya tetap memiliki hubungan dengan kehidupan hari ini.

Generasi muda tidak harus menjadi salinan generasi sebelumnya. Mereka bisa belajar, memahami, lalu membawa nilai budaya ke ruang baru.

Cerita bisa hidup melalui tulisan. Sejarah bisa menjangkau lebih banyak orang melalui video. Ritual bisa membuka ruang pembelajaran tanpa kehilangan tata nilai dan kesakralannya.

Tantangannya terletak pada keseimbangan.

Bagaimana budaya tetap terbuka untuk generasi baru tanpa kehilangan makna yang menjaganya selama ini?

Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban sederhana. Namun, setiap tradisi membutuhkan orang yang mau ikut mencari jawabannya.

Siapa yang Akan Menjaga Setelah Mereka?

Jamasan Nyai Setomi berakhir ketika para abdi dalem menyelesaikan seluruh rangkaian prosesi. Pintu krobongan pun kembali tertutup.

Namun, pertanyaan tentang masa depan tradisi tidak ikut berhenti di sana.

Generasi hari ini mewarisi banyak hal dari masa lalu. Kita mewarisi bahasa, cerita, ritual, bangunan, pusaka, dan nilai-nilai yang membentuk identitas.

Warisan itu tidak otomatis sampai kepada generasi berikutnya.

Seseorang harus menceritakannya, seseorang harus mengajarkannya.

Seseorang harus menjaganya.

Ini bukan sekadar soal Nyai Setomi atau satu ritual di Kraton Solo. Ini soal masa depan semua tradisi: mengenang memang penting, tetapi budaya hanya akan tetap hidup jika selalu ada orang yang memilih untuk menjaganya.@eko

Tags: JamasanKraton SurakartaMeriam SetomiVibes

Kamu Melewatkan Ini

Canthik Rajamala: Wajah Garang yang Menjaga Perjalanan Jawa

Canthik Rajamala: Wajah Garang yang Menjaga Perjalanan Jawa

by eko
Agustus 20, 2026

Canthik Rajamala menyimpan cerita tentang perjalanan, perlindungan, dan identitas budaya Jawa. Mengapa wajah garang ini menempati bagian depan perahu? Tabooo.id...

Gamelan Berbunyi, Tradisi Nginang Kembali Mengikat Kenangan

Gamelan Berbunyi, Tradisi Nginang Kembali Mengikat Kenangan

by eko
Agustus 20, 2026

Lastri, 65 tahun, warga Sukoharjo, terus mengikuti tradisi nginang saat Sekaten sejak sang ibu mengenalkannya pada usia 15 tahun. Tabooo.id...

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

Gamelan Kraton Ditabuh, Sekaten 2026 Dimulai

by eko
Agustus 19, 2026

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Miyosaken Gongsa Sekati dan mulai menabuh dua gamelan pusaka untuk membuka rangkaian Sekaten 2026. Tabooo.id...

Next Post
Masuk Kampus, Membayar Kuasa?

Masuk Kampus, Membayar Kuasa?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id