Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pengungsi Gempa NTT Makan Nasi Campur Kopi, Negara ke Mana?

by dimas
Agustus 22, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Pengungsi gempa NTT di Manggarai Timur kesulitan pangan hingga anak-anak makan nasi campur kopi. Bantuan dinilai belum merata.

Tabooo.id – Secangkir kopi biasanya menemani pagi. Di Kampung Logo Atas, kopi justru menjadi campuran nasi untuk sejumlah anak pengungsi gempa.

Aidah, warga Kampung Logo Atas, merekam kondisi itu pada Jumat (21/8/2026). Saat itu, posko tempat ia mengungsi belum menerima bantuan makanan.

“Anak-anak makan nasi putih campur kopi karena kemarin belum dapat sumbangan makanan,” kata Aidah.

Pemandangan tersebut tampak sederhana. Namun, satu piring nasi itu menunjukkan masalah yang jauh lebih besar rantai bantuan belum menjangkau semua warga yang membutuhkan.

Gempa bumi mengguncang wilayah Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah bencana, warga harus meninggalkan rumah dan bertahan di posko pengungsian.

Ini Belum Selesai

Api Dipadamkan, Masalahnya Jangan Ikut Dibiarkan

Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen

Sekitar 20 kepala keluarga kini bergantung pada bantuan di posko tempat Aidah mengungsi. Persediaan yang mereka terima pun jauh dari cukup.

Aidah menyebut posko tersebut hanya mendapat lima kilogram beras, tiga bungkus mi instan, dan satu rak telur.

Jumlah itu harus memenuhi kebutuhan sekitar 20 kepala keluarga.

Ketika Beras Tidak Cukup

Kekurangan pangan membuat warga mencari sumber makanan lain. Mikael Amir, warga setempat, mengatakan mereka masih mengandalkan ubi yang tersisa.

Persediaan beras semakin terbatas. Mi instan dan telur juga tidak banyak membantu karena jumlahnya sedikit.

“Kami mandiri, tetapi jarang mendapat bantuan. Harapan kami, pemerintah turun langsung membantu,” kata Mikael, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Mikael, terdapat sekitar 40 posko pengungsian di wilayah tersebut. Warga yang membangun posko secara mandiri justru jarang menerima bantuan.

Situasi itu memperlihatkan persoalan lain dalam penanganan bencana.

Bantuan mungkin ada, tetapi akses terhadap bantuan belum tentu sama.

LSM, relawan, dan pemerintah desa memang sudah memberikan bantuan. Namun, Mikael menilai jumlahnya belum mampu memenuhi kebutuhan warga.

Persoalannya akhirnya bukan sekadar soal ada atau tidak ada bantuan.

Pertanyaan yang lebih penting muncul di lapangan siapa yang menerima, berapa jumlahnya, dan seberapa sering bantuan datang?

Posko Mandiri Jangan Hilang dari Peta

Dalam situasi bencana, pemerintah membutuhkan data pengungsi yang akurat. Data tersebut menjadi dasar untuk menghitung kebutuhan pangan, air, obat-obatan, dan perlengkapan lainnya.

Masalah muncul ketika warga mendirikan posko secara mandiri. Lokasi semacam itu bisa berada jauh dari jalur utama distribusi dan tidak langsung masuk perhatian petugas.

Akibatnya, warga harus menunggu lebih lama ketika kebutuhan semakin mendesak.

Kondisi Kampung Logo Atas menunjukkan risiko tersebut. Warga tidak sepenuhnya tanpa bantuan, tetapi logistik yang datang belum mengikuti besarnya kebutuhan.

Aidah berharap pemerintah memperhatikan wilayah pelosok. Ia juga meminta distribusi pangan berlangsung secara berkala.

“Kalau bisa, dalam satu minggu bantuan pangannya tiga kali,” ujarnya.

Permintaan itu terdengar sederhana.

Namun, bagi keluarga yang tinggal di pengungsian, tiga kali distribusi dalam seminggu berarti tiga kali kesempatan untuk memastikan anak-anak tetap makan.

Anak-anak Membayar Harga dari Sistem yang Tidak Merata

Kekurangan makanan bukan satu-satunya persoalan.

Mikael juga meminta pemerintah daerah datang langsung ke lokasi untuk membantu pemulihan psikologis warga. Ia terutama mengkhawatirkan kondisi anak-anak yang masih mengalami trauma.

“Kami merasa kurang diperhatikan karena sampai saat ini belum ada kunjungan dari pemerintah untuk menguatkan psikologi kami dan anak-anak,” ungkapnya.

Gempa hanya berlangsung beberapa detik. Dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama.

Anak-anak kini menghadapi kehilangan rumah, ketidakpastian makanan, dan suasana pengungsian. Mereka juga harus memulihkan rasa aman setelah bencana.

Karena itu, kebutuhan pengungsi tidak berhenti pada beras dan mi instan.

Mereka membutuhkan makanan yang cukup. Tempat aman juga menjadi kebutuhan mendasar. Pendampingan psikologis pun diperlukan agar trauma tidak berkembang menjadi persoalan baru.

Negara Tidak Boleh Hanya Hadir di Titik yang Terlihat

Bencana sering menghadirkan dua wajah.

Bantuan berdatangan di sejumlah titik. Relawan bergerak dan pemerintah mengirim logistik.

Pada saat yang sama, warga di pelosok masih menghitung sisa beras dan ubi.

Kontras itu seharusnya tidak dianggap sebagai persoalan kecil.

Keberhasilan penanganan bencana bukan hanya soal berapa banyak bantuan yang dikirim. Ukurannya terletak pada apakah bantuan tersebut sampai kepada warga yang membutuhkan.

Posko yang berada dekat jalan utama mungkin lebih mudah menerima logistik. Posko mandiri di pelosok menghadapi tantangan berbeda.

Jika sistem distribusi hanya mengikuti jalur yang paling mudah, warga yang tinggal lebih jauh justru berisiko tertinggal.

Di titik inilah negara harus bekerja lebih dari sekadar mengirim bantuan.

Pemerintah perlu memetakan seluruh posko. Petugas juga perlu menghitung jumlah pengungsi dan kebutuhan mereka secara berkala.

Tanpa pembaruan data, distribusi mudah meleset. Tanpa pemetaan, posko mandiri mudah terlewat.

Pengawasan juga menjadi penting agar bantuan yang tersedia benar-benar menjawab kebutuhan warga.

Ini Bukan Sekadar Nasi Campur Kopi

Nasi putih bercampur kopi mungkin terlihat seperti cerita kecil di tengah bencana besar.

Cerita itu membawa pesan yang jauh lebih besar.

Ada keluarga yang menunggu bantuan. Ada posko yang jarang mendapat logistik. Anak-anak bahkan harus makan dengan apa pun yang tersedia.

Ini bukan sekadar kisah tentang anak-anak yang makan nasi campur kopi. Ini adalah potret tentang bagaimana ketimpangan akses dapat muncul ketika bantuan sudah bergerak.

Bencana tidak memilih lokasi yang mudah dijangkau. Karena itu, distribusi bantuan juga tidak boleh hanya mengikuti lokasi yang mudah ditemukan.

Warga pelosok membutuhkan kepastian yang sama dengan warga di pusat pengungsian.

Mereka tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya meminta agar negara datang sampai ke tempat mereka bertahan.

Sebab, ketika anak-anak mulai mencampur kopi dengan nasi karena makanan tidak tersedia, persoalannya sudah melampaui urusan dapur.

Itu menjadi alarm bahwa sistem bantuan harus melihat lebih jauh dari posko yang paling mudah terlihat.

Gempa meruntuhkan rumah.

Jangan biarkan ketimpangan bantuan ikut meruntuhkan kepercayaan warga kepada negara. @dimas

Tags: Bantuan BencanaGempa NTTKrisis PanganManggarai TimurPengungsi NTT

Kamu Melewatkan Ini

94 Pengungsi NTT Meninggal, Sejauh Mana Negara Hadir?

94 Pengungsi NTT Meninggal, Sejauh Mana Negara Hadir?

by dimas
Oktober 8, 2026

94 pengungsi NTT meninggal di tengah masa tanggap darurat. Angka ini memunculkan pertanyaan tentang layanan, mitigasi, dan sejauh mana negara...

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

Program Bantuan Smart TV Sudah Sampai, Listriknya Kapan?

by teguh
September 14, 2026

Ada satu pemandangan yang membuat program digitalisasi pendidikan terasa seperti sedang berjalan dengan dua kecepatan. Di SD Negeri Mboeng, Manggarai...

Smart TV di Sekolah, Listrik Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

Smart TV di Sekolah, Listrik, Internet Masih Jadi Soal: Negara Sedang Membangun Apa?

by teguh
September 12, 2026

Layar interaktif kini masuk ke ruang kelas hingga pelosok Nusa Tenggara Timur dengan hadirnya bantuan Smart TV di sekolah melalui...

Next Post
Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id