Haruskah generasi muda percaya semua mitos di balik tradisi? Sekaten menunjukkan budaya tetap hidup meski cara pandang berubah.
Tabooo.id – Kamu boleh tidak percaya kinang bisa membuat awet muda. Kamu juga boleh menganggap janur saat Sekaten sebagai bagian dari kebiasaan budaya. Generasi muda tidak harus menerima semua kepercayaan lama sebagai fakta.
Tapi, apakah karena kita tidak percaya, tradisinya harus kita tinggalkan?
Pertanyaan itu muncul saat budaya lama bertemu generasi baru. Sekaten tetap ramai. Gamelan pusaka tetap berbunyi. Warga tetap datang, mencari janur, menikmati kinang, dan menerima telur asin.
Namun, cara orang memaknai semua itu mulai berubah.
Dulu, tradisi dan kepercayaan sering berjalan bersama. Kini, banyak anak muda datang ke Sekaten tanpa harus mempercayai semua mitos yang menyertainya.
Lalu, apakah itu sebuah masalah?
Tidak Percaya Bukan Berarti Tidak Menghargai
Generasi muda hidup di zaman yang mendorong mereka untuk bertanya.
Mereka mencari penjelasan, mereka memeriksa klaim dan mereka tidak selalu percaya hanya karena generasi sebelumnya mempercayainya.
Sikap itu tidak harus menjadi ancaman bagi budaya.
Sebaliknya, pertanyaan bisa membuka jalan baru bagi tradisi.
Seseorang mungkin tidak percaya kinang membuat awet muda. Namun, ia tetap bisa memahami peran kinang dalam ingatan budaya masyarakat.
Seseorang mungkin tidak percaya janur membawa keberuntungan. Namun, ia tetap bisa datang ke Sekaten dan mempelajari sejarahnya.
Menghargai tradisi tidak berarti mematikan nalar.
Kita bisa menjaga budaya sambil tetap berpikir kritis.
Generasi Baru Tidak Harus Menerima Semua Hal Mentah-Mentah
Masalah muncul ketika orang menjadikan pelestarian budaya sebagai tuntutan untuk percaya.
Anak muda kemudian menghadapi pilihan yang sempit. Mereka harus percaya semuanya atau dianggap tidak menghormati tradisi.
Padahal, budaya tidak sesederhana itu.
Setiap generasi membawa pengalaman baru. Setiap generasi juga memiliki cara sendiri untuk memahami masa lalu.
Mereka bisa menjaga ritual sambil memberi makna baru, mereka bisa memainkan gamelan tanpa harus hidup seperti masyarakat ratusan tahun lalu.
Mereka bisa mencintai budaya Jawa tanpa menolak teknologi.
Sekaten juga menunjukkan hal yang sama.
Kiai Guntur Madu berbunyi. Namun, warga yang datang membawa alasan berbeda.
Ada yang datang karena keyakinan.
Ada yang datang karena tradisi keluarga.
Sebagian ingin belajar budaya.
Sebagian lagi hanya merasa penasaran.
Ada juga yang ingin menikmati suasana Sekaten.
Apakah satu alasan lebih baik daripada alasan lain?
Belum tentu.
Yang penting, masyarakat masih membangun hubungan dengan budayanya.
Sekaten Tetap Hidup karena Manusia Memberinya Makna
Saat Kiai Guntur Madu berbunyi, masyarakat mulai bergerak.
Sebagian mencari janur. Sebagian menjalankan tradisi nginang. Warga lain menunggu pembagian kinang dan telur asin.
Semua itu menunjukkan satu hal.
Tradisi tidak hidup di dalam buku sejarah.
Manusia membuat tradisi tetap hidup.
Namun, manusia terus berubah.
Generasi terdahulu mungkin memaknai sebuah ritual secara berbeda. Generasi hari ini bisa memberi tafsir baru.
Perubahan tidak selalu merusak budaya.
Kadang, perubahan justru membuat budaya tetap relevan.
Ini bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya. Ini soal hubungan generasi baru dengan warisan budayanya.
Budaya akan lebih mudah bertahan ketika generasi muda merasa memiliki hubungan dengannya.
Budaya dan Logika Tidak Harus Bertengkar
Kita tidak perlu memilih antara budaya dan nalar.
Tidak semua unsur tradisi membutuhkan pembuktian ilmiah untuk memiliki nilai. Tradisi juga membawa cerita, simbol, ingatan, dan identitas.
Kinang memiliki tempat dalam budaya masyarakat.
Telur asin juga hadir sebagai bagian dari tradisi dan pemberian Kraton pada momen Sekaten.
Kepercayaan masyarakat terhadap keduanya juga menjadi bagian dari cerita budaya.
Namun, menghargai cerita itu berbeda dengan menerima semua klaim sebagai fakta.
Kita bisa berkata, “Masyarakat mempercayai hal ini.”
Kita tidak perlu berkata, “Semua orang harus mempercayainya.”
Di situlah budaya dan logika bisa berjalan bersama.
Kita menghormati kepercayaan masyarakat. Pada saat yang sama, kita tetap memberi ruang untuk berpikir dan bertanya.
Pertanyaan Justru Bisa Menyelamatkan Tradisi
Ada ancaman yang lebih besar daripada generasi muda yang mempertanyakan mitos.
Budaya bisa kehilangan masa depannya ketika generasi baru tidak lagi merasa memilikinya.
Bayangkan seorang anak muda datang ke Sekaten karena penasaran.
Ia mendengar gamelan.
Ia melihat kerumunan warga.
Ia bertanya tentang janur dan kinang.
Dari rasa penasaran, ia mulai mencari jawaban.
Setelah itu, ia mengenal sejarah.
Ia memahami cerita tentang Kraton.
Ia mulai melihat hubungan antara budaya dan kehidupan masyarakat hari ini.
Rasa ingin tahu membuka pintu.
Pemahaman membangun hubungan.
Hubungan kemudian bisa melahirkan rasa memiliki.
Dari situlah budaya menemukan penerus.
Jika setiap pertanyaan kita anggap sebagai pembangkangan, generasi muda justru bisa memilih menjauh.
Padahal, tradisi membutuhkan orang yang mau datang, bertanya, belajar, dan meneruskannya.
Ini bukan sekadar soal menjaga ritual. Ini soal menjaga hubungan manusia dengan warisan budayanya.
Jadi, Harus Percaya atau Cukup Melestarikan?
Mungkin kita tidak perlu memilih salah satu.
Bagi sebagian orang, tradisi menjadi bagian dari keyakinan.
Bagi orang lain, tradisi menjadi warisan budaya yang layak dipelajari dan dijaga.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Tidak semua orang harus memaknai Sekaten dengan cara yang sama.
Satu orang datang membawa doa.
Orang lain datang karena penasaran.
Ada pula yang datang untuk mengenang masa kecil bersama keluarga.
Namun, mereka bertemu dalam satu ruang.
Kiai Guntur Madu tetap berbunyi.
Janur tetap berpindah tangan.
Kinang tetap hadir dalam cerita.
Sekaten terus hidup karena masyarakat masih datang dan memberinya makna.
Jadi, kamu boleh tidak percaya kinang membuat awet muda.
Namun, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan, “Apakah saya percaya?”
Pertanyaannya adalah, “Kalau saya tidak percaya, apakah saya masih mau memahami?”
Sebab budaya tidak selalu meminta kita percaya pada setiap mitos.
Namun, budaya selalu membutuhkan orang yang mau menjaga cerita agar tidak berhenti di generasi mereka.
Lalu, kamu di kubu mana? Percaya sepenuhnya, melestarikan tanpa harus percaya, atau merasa keduanya bisa berjalan bersama?@eko








