Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tradisi Harus Dipercaya atau Cukup Dilestarikan?

by eko
Agustus 20, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Haruskah generasi muda percaya semua mitos di balik tradisi? Sekaten menunjukkan budaya tetap hidup meski cara pandang berubah.

Tabooo.id – Kamu boleh tidak percaya kinang bisa membuat awet muda. Kamu juga boleh menganggap janur saat Sekaten sebagai bagian dari kebiasaan budaya. Generasi muda tidak harus menerima semua kepercayaan lama sebagai fakta.

Tapi, apakah karena kita tidak percaya, tradisinya harus kita tinggalkan?

Pertanyaan itu muncul saat budaya lama bertemu generasi baru. Sekaten tetap ramai. Gamelan pusaka tetap berbunyi. Warga tetap datang, mencari janur, menikmati kinang, dan menerima telur asin.

Namun, cara orang memaknai semua itu mulai berubah.

Dulu, tradisi dan kepercayaan sering berjalan bersama. Kini, banyak anak muda datang ke Sekaten tanpa harus mempercayai semua mitos yang menyertainya.

Ini Belum Selesai

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

Lalu, apakah itu sebuah masalah?

Tidak Percaya Bukan Berarti Tidak Menghargai

Generasi muda hidup di zaman yang mendorong mereka untuk bertanya.

Mereka mencari penjelasan, mereka memeriksa klaim dan mereka tidak selalu percaya hanya karena generasi sebelumnya mempercayainya.

Sikap itu tidak harus menjadi ancaman bagi budaya.

Sebaliknya, pertanyaan bisa membuka jalan baru bagi tradisi.

Seseorang mungkin tidak percaya kinang membuat awet muda. Namun, ia tetap bisa memahami peran kinang dalam ingatan budaya masyarakat.

Seseorang mungkin tidak percaya janur membawa keberuntungan. Namun, ia tetap bisa datang ke Sekaten dan mempelajari sejarahnya.

Menghargai tradisi tidak berarti mematikan nalar.

Kita bisa menjaga budaya sambil tetap berpikir kritis.

Generasi Baru Tidak Harus Menerima Semua Hal Mentah-Mentah

Masalah muncul ketika orang menjadikan pelestarian budaya sebagai tuntutan untuk percaya.

Anak muda kemudian menghadapi pilihan yang sempit. Mereka harus percaya semuanya atau dianggap tidak menghormati tradisi.

Padahal, budaya tidak sesederhana itu.

Setiap generasi membawa pengalaman baru. Setiap generasi juga memiliki cara sendiri untuk memahami masa lalu.

Mereka bisa menjaga ritual sambil memberi makna baru, mereka bisa memainkan gamelan tanpa harus hidup seperti masyarakat ratusan tahun lalu.

Mereka bisa mencintai budaya Jawa tanpa menolak teknologi.

Sekaten juga menunjukkan hal yang sama.

Kiai Guntur Madu berbunyi. Namun, warga yang datang membawa alasan berbeda.

Ada yang datang karena keyakinan.

Ada yang datang karena tradisi keluarga.

Sebagian ingin belajar budaya.

Sebagian lagi hanya merasa penasaran.

Ada juga yang ingin menikmati suasana Sekaten.

Apakah satu alasan lebih baik daripada alasan lain?

Belum tentu.

Yang penting, masyarakat masih membangun hubungan dengan budayanya.

Sekaten Tetap Hidup karena Manusia Memberinya Makna

Saat Kiai Guntur Madu berbunyi, masyarakat mulai bergerak.

Sebagian mencari janur. Sebagian menjalankan tradisi nginang. Warga lain menunggu pembagian kinang dan telur asin.

Semua itu menunjukkan satu hal.

Tradisi tidak hidup di dalam buku sejarah.

Manusia membuat tradisi tetap hidup.

Namun, manusia terus berubah.

Generasi terdahulu mungkin memaknai sebuah ritual secara berbeda. Generasi hari ini bisa memberi tafsir baru.

Perubahan tidak selalu merusak budaya.

Kadang, perubahan justru membuat budaya tetap relevan.

Ini bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya. Ini soal hubungan generasi baru dengan warisan budayanya.

Budaya akan lebih mudah bertahan ketika generasi muda merasa memiliki hubungan dengannya.

Budaya dan Logika Tidak Harus Bertengkar

Kita tidak perlu memilih antara budaya dan nalar.

Tidak semua unsur tradisi membutuhkan pembuktian ilmiah untuk memiliki nilai. Tradisi juga membawa cerita, simbol, ingatan, dan identitas.

Kinang memiliki tempat dalam budaya masyarakat.

Telur asin juga hadir sebagai bagian dari tradisi dan pemberian Kraton pada momen Sekaten.

Kepercayaan masyarakat terhadap keduanya juga menjadi bagian dari cerita budaya.

Namun, menghargai cerita itu berbeda dengan menerima semua klaim sebagai fakta.

Kita bisa berkata, “Masyarakat mempercayai hal ini.”

Kita tidak perlu berkata, “Semua orang harus mempercayainya.”

Di situlah budaya dan logika bisa berjalan bersama.

Kita menghormati kepercayaan masyarakat. Pada saat yang sama, kita tetap memberi ruang untuk berpikir dan bertanya.

Pertanyaan Justru Bisa Menyelamatkan Tradisi

Ada ancaman yang lebih besar daripada generasi muda yang mempertanyakan mitos.

Budaya bisa kehilangan masa depannya ketika generasi baru tidak lagi merasa memilikinya.

Bayangkan seorang anak muda datang ke Sekaten karena penasaran.

Ia mendengar gamelan.

Ia melihat kerumunan warga.

Ia bertanya tentang janur dan kinang.

Dari rasa penasaran, ia mulai mencari jawaban.

Setelah itu, ia mengenal sejarah.

Ia memahami cerita tentang Kraton.

Ia mulai melihat hubungan antara budaya dan kehidupan masyarakat hari ini.

Rasa ingin tahu membuka pintu.

Pemahaman membangun hubungan.

Hubungan kemudian bisa melahirkan rasa memiliki.

Dari situlah budaya menemukan penerus.

Jika setiap pertanyaan kita anggap sebagai pembangkangan, generasi muda justru bisa memilih menjauh.

Padahal, tradisi membutuhkan orang yang mau datang, bertanya, belajar, dan meneruskannya.

Ini bukan sekadar soal menjaga ritual. Ini soal menjaga hubungan manusia dengan warisan budayanya.

Jadi, Harus Percaya atau Cukup Melestarikan?

Mungkin kita tidak perlu memilih salah satu.

Bagi sebagian orang, tradisi menjadi bagian dari keyakinan.

Bagi orang lain, tradisi menjadi warisan budaya yang layak dipelajari dan dijaga.

Keduanya bisa berjalan bersama.

Tidak semua orang harus memaknai Sekaten dengan cara yang sama.

Satu orang datang membawa doa.

Orang lain datang karena penasaran.

Ada pula yang datang untuk mengenang masa kecil bersama keluarga.

Namun, mereka bertemu dalam satu ruang.

Kiai Guntur Madu tetap berbunyi.

Janur tetap berpindah tangan.

Kinang tetap hadir dalam cerita.

Sekaten terus hidup karena masyarakat masih datang dan memberinya makna.

Jadi, kamu boleh tidak percaya kinang membuat awet muda.

Namun, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan, “Apakah saya percaya?”

Pertanyaannya adalah, “Kalau saya tidak percaya, apakah saya masih mau memahami?”

Sebab budaya tidak selalu meminta kita percaya pada setiap mitos.

Namun, budaya selalu membutuhkan orang yang mau menjaga cerita agar tidak berhenti di generasi mereka.

Lalu, kamu di kubu mana? Percaya sepenuhnya, melestarikan tanpa harus percaya, atau merasa keduanya bisa berjalan bersama?@eko

Tags: BudayaOpiniTradisiTradisi Budaya

Kamu Melewatkan Ini

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

by eko
Agustus 20, 2026

Tradisi nginang kembali hadir di Sekaten Solo. Dari sirih hingga beberangen, kebiasaan lama ini menjaga jejak budaya lintas generasi. Tabooo.id...

Balekambang Viral: Seberapa Jauh Ruang Publik Harus Diawasi?

Balekambang Viral: Seberapa Jauh Ruang Publik Harus Diawasi?

by eko
Agustus 17, 2026

Video pasangan di Balekambang Solo viral. Pemkot memberi teguran dan memperkuat patroli. Tapi, siapa yang bertanggung jawab menjaga ruang publik?...

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Simbol Budaya dan Wisata Religi

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Budaya dan Wisata Religi

by dimas
Juli 29, 2026

Haul Ki Ageng Tarub di Grobogan memperkuat pelestarian budaya dan wisata religi melalui kirab budaya, rebutan gunungan, wilujengan, dan nyadran....

Next Post
Desil Naik, Bansos Hilang: Warga Karanganyar Bisa Lapor

Rp2.000 Per Kilo, Berapa Banyak Bawang Harus Dikupas?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id