Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sekolah Lama Masih Berdiri, Tapi Masa Kecil Harus Pindah

by teguh
Agustus 20, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Di SDN Setono, suara anak-anak sudah menghilang. Bangunan sekolah lama masih berdiri di Jalan Niken Gandini, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo. Namun, sejak Juli 2026, tidak ada lagi murid yang belajar di dalamnya.

Tabooo.id – Amri Zahroni pernah menjadi salah satu dari enam siswa terakhir. Memasuki tahun ajaran 2026/2027, ia pindah ke SDN 1 Japan bersama satu siswa lainnya. Empat anak lain melanjutkan pendidikan ke SDN 1 Singosaren. Sekilas, perpindahan tersebut tampak seperti urusan administrasi. Bagi anak-anak, persoalannya jauh lebih panjang. Sekolah lama masih Berdiri, Teman berubah dan guru berganti. Rutinitas ikut bergeser. Di tengah perubahan itu, satu bagian dari masa kecil mereka ikut tertinggal.

Juli 2026, Amri Meninggalkan Sekolah

“Pindahnya sudah dari Bulan Juli kemarin,” kata Amri. Kalimat singkat itu menandai berakhirnya satu fase.

Pada Juli 2026, enam siswa terakhir SDN Setono mulai meninggalkan sekolah yang selama ini menjadi ruang belajar mereka.

Setelah itu, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut berhenti. Perubahan ini bukan sekadar pergantian alamat sekolah.

Lingkungan pertemanan ikut berubah. Guru yang setiap pagi mereka temui juga berganti.

Ini Belum Selesai

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

Bahkan, kebiasaan kecil seperti berangkat sekolah, bermain saat istirahat, dan menunggu bel pulang harus dimulai dari awal.

Bagi orang dewasa, perpindahan sekolah mungkin terlihat biasa. Bagi anak, proses adaptasi membutuhkan waktu.

Mereka harus kembali mencari rasa nyaman di antara wajah-wajah baru.

Bangunan Masih Berdiri, Sekolah Sudah Sunyi

Rabu, 18 Agustus 2026, suasana SDN Setono tampak lengang. Pantauan di lokasi tidak menemukan aktivitas siswa maupun guru. Sejumlah ruang kelas juga sudah kosong dari bangku dan kursi.

Ruang kelas I dan II bahkan tertutup seng. Padahal, kondisi bangunannya masih cukup kokoh.

Tidak terlihat kerusakan berarti pada gedung yang selama bertahun-tahun menjadi tempat anak-anak Setono menuntut ilmu.

Plt Lurah Setono Handry Reza Pratama menjelaskan kondisi tersebut.

“Mulai Juli kemarin, saat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) sudah ditutup. Bisa dilihat sendiri kosong,” ungkap Handry saat ditemui pada Rabu, 18/08/2026.

Ironinya justru terletak pada pemandangan sederhana itu. Beton masih berdiri, Ruang kelas masih tersedia. Namun, manusia yang membuat sekolah tersebut hidup sudah tidak ada.

Sekolah Lama Masih Berdiri, Tapi Masa Kecil Harus Pindah
Rabu, 18 Agustus 2026, suasana SDN Setono tampak lengang

Tiga Tahun yang Mengosongkan Ruang Kelas

Kekosongan SDN Setono tidak terjadi dalam semalam. Selama tiga tahun terakhir, sekolah tersebut tidak lagi mendapatkan siswa baru.

Menurut Handry, persoalan paling terasa muncul pada kelas I, II, dan III. Beberapa calon siswa memang sempat mendaftar. Akan tetapi, jumlahnya hanya satu atau dua anak.

Situasi itu kemudian memunculkan persoalan baru. Tanpa teman sekelas, anak-anak merasa kurang nyaman. Pada akhirnya, sebagian keluarga memilih sekolah lain.

“Dari dulu kelas 1, 2, 3 itu tidak ada siswanya. Kadang ada yang daftar tapi cuma satu atau dua anak. Lalu, karena enggak ada teman akhirnya pindah,” kata Handry.

Dari sini, lingkaran masalah mulai terbentuk. Jumlah murid yang sedikit membuat sekolah terlihat kurang diminati. Persepsi tersebut kemudian mendorong keluarga mencari pilihan lain.

Pilihan itu ikut membuat jumlah siswa semakin mengecil. Lambat laun, ruang kelas kehilangan penghuninya.

Ketika Sekolah Favorit Menjadi Pilihan

SDN Setono merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri di Kelurahan Setono. Sebelumnya, pihak kelurahan sudah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada warga. Tujuannya agar keluarga mempertimbangkan SDN Setono sebagai pilihan pendidikan anak.

Keputusan akhir tetap berada di tangan orang tua. Handry menduga sebagian keluarga memilih sekolah yang mereka anggap lebih favorit.

“Masalah keputusan terakhir itu di orang tuanya tersebut, bagaimana dia mau menyekolahkannya. Tapi ternyata mungkin mendaftarkan anaknya ke SD-SD yang lebih favorit, katanya begitu,” ujarnya.

Pilihan keluarga tentu tidak muncul tanpa alasan. Kualitas sekolah menjadi salah satu pertimbangan. Selain itu, reputasi, lingkungan pertemanan, akses, dan rasa aman ikut memengaruhi keputusan.

Karena itu, sekolah yang paling dekat belum tentu menjadi pilihan pertama. Pada akhirnya, label “favorit” masih memiliki daya tarik.

Jalan Raya Ikut Menentukan

Lokasi SDN Setono berada di tepi jalan besar. Menurut Handry, peningkatan volume kendaraan turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua. Risiko paling terasa ketika anak harus menyeberang jalan.

“Takutnya mungkin kalau mau menyeberang, anak-anak itu juga risiko. Orangtuanya juga waswas ditinggal pulang mungkin si anak beli jajan harus nyeberang,” ucapnya.

Pertimbangan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan memilih sekolah tidak hanya berkaitan dengan reputasi.

Keamanan perjalanan juga masuk dalam hitungan keluarga. Bagi orang tua, beberapa menit perjalanan bisa membawa kekhawatiran setiap hari.

Enam Anak, Enam Perjalanan Baru

Awal tahun ajaran 2026/2027 menjadi titik akhir perjalanan enam siswa di SDN Setono.

Dua anak kini belajar di SDN 1 Japan. Sementara itu, empat lainnya melanjutkan pendidikan ke SDN 1 Singosaren.

Setelah perpindahan tersebut, tidak ada lagi siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di SDN Setono.

Pemandangan bangku kosong pun menggantikan keramaian sebelumnya. Halaman sekolah tidak lagi dipenuhi suara anak-anak.

Ruang kelas yang dulu menjadi tempat bertemu kini hanya menyimpan benda-benda yang tersisa.

Bagi administrasi pendidikan, jumlahnya mungkin hanya enam siswa. Namun, angka tersebut tidak mampu menceritakan pengalaman mereka.

Enam anak berarti enam cerita. Ada pertemanan yang harus ditinggalkan. Ada guru yang berganti.

Rutinitas pun harus dibangun kembali di tempat baru. Pada akhirnya, enam potongan masa kecil berpindah ke ruang yang berbeda.

Sekolah Tidak Cuma Soal Beton

Pendidikan tidak berhenti pada buku pelajaran. Di ruang kelas, anak belajar berbagi dan mengenal perbedaan. Konflik kecil pun menjadi bagian dari proses mereka memahami kehidupan.

Lebih dari itu, teman sebaya memberikan pengalaman yang tidak selalu muncul di rumah. Guru juga bukan sekadar pengajar.

Kehadiran mereka menjadi bagian dari rutinitas yang perlahan membentuk ingatan anak. Karena itu, berkurangnya siswa ikut mengubah fungsi sosial sebuah sekolah.

Kemendikdasmen pada 19 Juli 2026 menyebut fenomena sekolah minim murid muncul karena sejumlah faktor.

Perubahan jumlah penduduk usia sekolah menjadi salah satunya. Selain itu, perpindahan penduduk, perkembangan permukiman, pilihan masyarakat, dan kondisi geografis ikut memengaruhi.

Pemerintah juga telah memetakan sekolah dengan jumlah murid di bawah 100 orang. Data tersebut menjadi bahan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menentukan langkah berikutnya.

Dengan demikian, persoalan SDN Setono tidak berdiri sendirian. Perubahan masyarakat ikut menentukan masa depan sebuah sekolah.

Saat Peta Permukiman Bergerak

Sekolah lama tidak selalu mengikuti arah pertumbuhan permukiman.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Dr Eng Akbar Rahman, mengaitkan fenomena sekolah sepi peminat dengan perubahan kawasan permukiman.

Dalam keterangannya pada 2026, ia menjelaskan bahwa perkembangan sekolah tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan permukiman baru.

Pergeseran tempat tinggal masyarakat akhirnya ikut memengaruhi akses pendidikan. Karena itu, sekolah sebenarnya bergantung pada lingkungan sosial di sekitarnya.

Ketika masyarakat berubah, sekolah menghadapi perubahan yang sama.

Efisiensi Jangan Menghapus Manusia

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut regrouping sebagai salah satu solusi bagi sekolah yang kekurangan murid.

Pernyataan tersebut ia sampaikan pada 20 Maret 2025.

“Karena memang beberapa sekolah itu muridnya sangat terbatas sehingga dari sisi pembiayaan itu sangat tidak efisien,” kata Abdul Mu’ti.

Dari sudut pandang anggaran, persoalannya memang mudah dipahami. Sekolah membutuhkan guru, fasilitas, pemeliharaan, dan biaya operasional.

Ketika jumlah murid sangat sedikit, beban biaya per siswa menjadi lebih besar. Namun, pendidikan tidak bisa hanya membaca angka efisiensi.

Jarak tempuh anak juga harus masuk perhitungan. Selain itu, keamanan perjalanan perlu mendapat perhatian.

Akses keluarga tidak boleh diabaikan. Kualitas sekolah tujuan juga harus dipastikan. Sebab, penggabungan sekolah berarti memindahkan kehidupan anak ke ruang yang berbeda.

Jangan Cuma Hitung Murid

Enam anak pindah sekolah jika dilihat Sekilas, persoalannya terlihat selesai padahal, perpindahan itu hanya menunjukkan ujung dari proses yang berlangsung bertahun-tahun.

Tidak ada siswa baru., Jumlah murid terus menurun, Sebagian keluarga memilih sekolah lain dan akhirnya, ruang kelas kehilangan penghuninya.

Ini bukan sekadar cerita tentang enam anak. Sebaliknya, ini cerita tentang sebuah ruang pendidikan yang kehilangan manusia.

Bangunannya masih berdiri. Namun, pendidikan tidak pernah hidup dari beton, Ia hidup dari pertemuan, Guru bertemu murid, Anak bertemu teman, Keluarga bertemu komunitas.

Dari sana, sekolah mendapatkan maknanya, Maka, pertanyaan berikutnya bukan cuma “berapa murid yang tersisa?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah “Mengapa anak-anak tidak lagi memilih sekolah itu?” Jawabannya bisa berada pada reputasi.

Bisa juga karena keamanan dan mungkin karena perubahan demografi. Atau karena kualitas layanan belum mampu mengikuti harapan keluarga.

Masa Kecil Tidak Punya Tombol Reset

Kini, Amri memiliki sekolah baru. Lima siswa lainnya juga melanjutkan pendidikan di tempat berbeda.

Guru baru akan mereka kenal. Teman baru akan mereka temui. Secara perlahan, rutinitas baru akan terbentuk.

Hidup terus berjalan namun, pengalaman di SDN Setono tidak otomatis menghilang. Di sana mereka pernah belajar membaca.

Mereka pernah bermain, Mereka pernah menunggu bel pulang dan ruang kelas itu pernah menjadi dunia kecil bagi mereka.

Suatu hari nanti, Amri mungkin melewati Jalan Niken Gandini lagi bangunannya mungkin masih berdiria atau mungkin telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

Apa pun bentuknya nanti, tempat tersebut pernah menjadi bagian dari masa kecilnya. Itulah sisi yang sering hilang ketika pendidikan hanya dibaca melalui statistik.

Sekolah boleh kehilangan murid. Jangan sampai kita kehilangan alasan mengapa sekolah itu pernah dibangun.

Bangunan bisa bertahan tanpa murid. Namun, sekolah kehilangan nyawanya ketika manusia tak lagi datang.

Yang Tertinggal dari Enam Anak

Enam siswa mungkin terlihat kecil dalam statistik pendidikan. Namun, masing-masing membawa pengalaman sendiri.

Ada teman yang ditinggalkan. Ada guru yang berganti. Rutinitas berubah. Ruang sosial pun harus dibangun kembali.

Pada titik itulah sekolah kosong berubah menjadi persoalan manusia. @teguh

Tags: Pemkab PonorogoPendidikan DasarPendidikan IndonesiaSDN SetonoSekolah KosongSekolah Minim MuridSiswa Pindah Sekolah

Kamu Melewatkan Ini

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan buku. Selama sekitar 30 menit anak-anak Najaten melawan jarak,...

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan aktivitas sederhana. Dibalik akses buku belum merata Sekitar 30...

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

by teguh
Agustus 21, 2026

Masuk kampus punya jalur. Ada jalur prestasi, jalur tes, sampai jalur mandiri. Namun, Kamis, 20/08/2026, publik melihat jalur lain di...

Next Post
Wacana Dwikewarganegaraan, Siapa yang Diuntungkan?

Wacana Dwikewarganegaraan, Siapa yang Diuntungkan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id