Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo

by dimas
Agustus 18, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on Facebook
Share on Twitter
Ritek Surakarta mengenalkan Jaranan Sentherewe khas Tulungagung di Pakuwon Mall Solo Baru melalui pentas budaya dalam rangkaian Solo Tempoe Doeloe, sekaligus mendorong regenerasi seni tradisional.

Tabooo.id – Suara gamelan menggema di Main Atrium Pakuwon Mall Solo Baru, Selasa (18/8/2026) sore. Di tengah aktivitas pengunjung, gerak penari reog membuka pertunjukan budaya yang membawa warna tradisi ke ruang publik modern.

Komunitas Seni Ritek Surakarta tampil dalam rangkaian Solo Tempoe Doeloe Nostalgia Bareng yang berlangsung pukul 15.00 hingga sekitar 18.00 WIB.

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Solo Tempoe Doeloe yang digelar Pakuwon Mall Solo Baru pada 13-23 Agustus 2026.

Ritek Surakarta membuka penampilan dengan reog. Setelah itu, para penampil menyuguhkan Jaranan Sentherewe khas Tulungagung.

Ritek Surakarta Kenalkan Jaranan Sentherewe di Pakuwon Mall Solo
Pementasan reog Komunitas Ritek Surakarta memeriahkan Solo Tempoe Doeloe di Pakuwon Mall Solo Baru, Selasa (18/8/2026).

Penampilan itu menarik perhatian pengunjung Pakuwon Mall Solo Baru. Sejumlah orang berhenti untuk menyaksikan gerakan penari dan mengikuti alunan musik tradisional.

Ini Belum Selesai

Nginang di Sekaten: Saat Sirih Menjaga Jejak Tradisi

HUT RI ke-81 Jadi Festival Publik, Bukti Negara Makin Dekat dengan Rakyat?

Reog Membuka Panggung, Jaranan Mengambil Perhatian

Pertunjukan berlangsung secara berurutan. Reog membuka panggung dan membangun suasana sebelum penari Jaranan Sentherewe tampil.

Pergantian pertunjukan tersebut menghadirkan dua bentuk ekspresi kesenian tradisional dalam satu panggung.

Jaranan kemudian menjadi bagian utama yang ingin diperkenalkan Ritek Surakarta kepada masyarakat. Komunitas tersebut membawa kesenian asal Tulungagung itu ke hadapan publik Solo.

Bagi Ritek, kesempatan tampil di pusat perbelanjaan memberikan ruang untuk mempertemukan kesenian tradisional dengan penonton yang lebih beragam.

Pengunjung tidak perlu datang ke sanggar atau panggung kesenian khusus untuk melihat pertunjukan tersebut. Mereka dapat menyaksikannya ketika berada di ruang publik.

Membawa Jaranan Sentherewe dari Tulungagung ke Solo

Ketua Komunitas Ritek Surakarta, Nugroho, mengatakan pementasan tersebut memiliki misi untuk memperkenalkan Jaranan Sentherewe asal Tulungagung.

“Kami ingin mengenalkan Jaranan Sentherewe asal Tulungagung sekaligus mempromosikan budaya ini agar bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat,” kata Nugroho.

Ritek Surakarta merupakan komunitas seni pertunjukan Jaranan Sentherewe asal Tulungagung yang berbasis di Kota Surakarta.

Komunitas itu aktif mengenalkan kesenian tradisional tersebut di wilayah Solo Raya. Mereka menjadikan pertunjukan sebagai salah satu cara untuk menjaga keberadaan kesenian tersebut di tengah perubahan zaman.

Nugroho melihat pengenalan budaya tidak cukup melalui cerita atau dokumentasi. Masyarakat juga perlu melihat pertunjukan secara langsung agar mengenal bentuk keseniannya.

Karena itu, panggung di Pakuwon Mall Solo Baru menjadi salah satu ruang untuk memperluas jangkauan Jaranan Sentherewe.

Ketika Tradisi Masuk ke Ruang Modern

Pusat perbelanjaan biasanya identik dengan aktivitas belanja, kuliner, hiburan, dan pertemuan keluarga.

Namun, sore itu suasana tersebut berubah ketika kesenian tradisional mengambil ruang di tengah mal.

Kontras itu justru menciptakan pengalaman budaya yang menarik. Pengunjung dapat menikmati aktivitas modern sekaligus menyaksikan kesenian yang tumbuh dari tradisi masyarakat.

Kehadiran Jaranan Sentherewe di ruang seperti ini juga membuka kemungkinan pertemuan dengan penonton yang lebih luas.

Anak-anak dapat melihat pertunjukan. Orang tua dapat mengenali kembali kesenian tradisional. Sementara generasi muda mendapat kesempatan untuk melihat budaya dari jarak yang lebih dekat.

Ruang pertunjukan akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai panggung. Ruang itu juga menjadi jembatan antara tradisi dan kehidupan masyarakat hari ini.

Nostalgia Tidak Harus Berhenti pada Masa Lalu

Nama Solo Tempoe Doeloe membawa publik pada suasana nostalgia.

Namun, nostalgia tidak harus membuat budaya berhenti sebagai kenangan. Sebaliknya, nostalgia dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan kembali tradisi kepada generasi yang hidup pada masa kini.

Pertunjukan Ritek Surakarta menunjukkan hal tersebut.

Jaranan Sentherewe tidak hanya hadir sebagai simbol masa lalu. Para penampil membawa kesenian itu ke ruang publik dan mempertemukannya dengan penonton baru.

Cara seperti ini memberi kesempatan kepada tradisi untuk terus bergerak.

Budaya yang bergerak akan bertemu dengan masyarakat. Dari pertemuan itulah muncul kemungkinan lahirnya ketertarikan baru.

Anak Muda Mulai Memilih Budaya

Nugroho mengatakan ada sekitar 20 anggota Ritek Surakarta juga terdiri dari anak-anak muda yang mulai tertarik dengan kesenian tradisional.

Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam keberlangsungan komunitas tersebut.

Menurut Nugroho, anak muda tidak hanya menjadi penonton. Mereka mulai mengambil peran sebagai pelaku yang belajar mengenal, berlatih, dan menampilkan kesenian tradisional.

“Harapannya, budaya Jaranan khas Tulungagung bisa dikenal luas oleh masyarakat. Kami ingin anak-anak muda juga terus tertarik mengenal dan mengembangkan budaya ini,” ujarnya.

Ketertarikan tersebut memberi harapan bagi proses regenerasi.

Sebab, sebuah kesenian membutuhkan pelaku baru untuk menjaga keberlangsungannya. Tanpa regenerasi, tradisi berisiko hanya tersisa sebagai catatan sejarah.

Ritek Surakarta mencoba mengambil bagian dalam proses tersebut melalui keterlibatan anak muda di dalam komunitas.

Dari Tulungagung, Tumbuh di Surakarta

Jaranan Sentherewe memiliki akar budaya dari Tulungagung. Ritek Surakarta kemudian membawa kesenian tersebut ke Kota Surakarta.

Perjalanan itu memperlihatkan bahwa budaya dapat berpindah ruang tanpa kehilangan akar identitasnya.

Komunitas menjadi ruang yang mempertemukan asal-usul budaya dengan lingkungan baru. Di Solo, Jaranan Sentherewe mendapat kesempatan untuk bertemu dengan masyarakat yang lebih luas.

Solo pun tidak hanya menjadi lokasi pertunjukan. Kota ini menjadi ruang bagi proses pengenalan dan pengembangan kesenian tersebut.

Melalui pertunjukan, masyarakat dapat mengenal bahwa tradisi yang hadir di hadapan mereka memiliki perjalanan dan identitas tersendiri.

Mall Menjadi Ruang Pertemuan Budaya

Pementasan di Pakuwon Mall Solo Baru memperlihatkan perubahan cara masyarakat menikmati kesenian.

Komunitas seni tidak selalu harus menunggu penonton datang ke panggung tradisional. Mereka dapat membawa pertunjukan ke ruang yang sudah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.

Strategi itu membuka akses budaya bagi kelompok penonton yang lebih beragam.

Seorang pengunjung yang awalnya datang untuk berbelanja dapat berhenti dan menikmati pertunjukan. Anak-anak yang mengikuti orang tuanya juga dapat melihat langsung kesenian tradisional.

Pertemuan spontan seperti itu memiliki nilai penting.

Kesenian mendapatkan panggung. Masyarakat mendapatkan pengalaman. Komunitas memperoleh kesempatan memperkenalkan identitas budaya mereka.

Tradisi Membutuhkan Penonton Baru

Pelestarian budaya tidak cukup dengan menjaga bentuk kesenian.

Tradisi juga membutuhkan orang yang mau melihat, mempelajari, memainkan, dan meneruskannya.

Jaranan Sentherewe yang tampil di Pakuwon Mall Solo Baru menunjukkan proses tersebut.

Ritek Surakarta membawa kesenian dari Tulungagung ke Solo. Anak-anak muda ikut terlibat. Pengunjung kemudian menjadi bagian dari penonton yang mengenal kesenian tersebut.

Rangkaian itu terlihat sederhana. Namun, proses kecil semacam ini dapat menentukan apakah sebuah tradisi tetap memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.

Bukan Sekadar Pertunjukan

Sore itu, panggung Pakuwon Mall Solo Baru tidak hanya menghadirkan hiburan.

Di balik gerak penari, iringan musik, dan perhatian pengunjung, terdapat upaya komunitas untuk memperkenalkan identitas budaya.

Ritek Surakarta menggunakan pertunjukan sebagai cara untuk mempertemukan Jaranan Sentherewe dengan masyarakat Solo Raya.

Nugroho juga membawa harapan agar kesenian asal Tulungagung tersebut semakin dikenal luas.

Harapan itu bertumpu pada satu hal penting: regenerasi.

Ketika anak muda mulai tertarik dengan kesenian tradisional, mereka tidak sekadar mempelajari gerakan tari. Mereka juga ikut menjaga ingatan budaya agar tidak terputus.

Dari Nostalgia Menuju Regenerasi

Solo Tempoe Doeloe memang mengajak masyarakat melihat kembali suasana masa lalu.

Namun, kehadiran Ritek Surakarta memberikan pesan yang lebih jauh.

Budaya tidak cukup dikenang. Budaya harus terus dimainkan agar tetap hidup.

Jaranan Sentherewe menjadi contoh bahwa tradisi dapat menemukan ruang baru ketika komunitas berani membawanya kepada publik yang lebih luas.

Dari Tulungagung, kesenian itu hadir di Surakarta dan dari anak muda, tradisi menemukan peluang untuk melanjutkan perjalanan.

Ini bukan sekadar nostalgia. Ini tentang bagaimana sebuah tradisi mencari cara untuk tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.

Dan sore itu, ketika gamelan berhenti dan panggung kembali lengang, pesan tersebut masih tertinggal tradisi hanya akan benar-benar hidup ketika ada generasi yang bersedia meneruskannya. @dimas

Tags: Budaya TradisionalJaranan SenthereweRitek SurakartaSolo Tempoe DoeloeTulungagung

Kamu Melewatkan Ini

No Content Available
Next Post
UNS dan Warga Kebakan Bangun Insinerator Minim Asap

UNS dan Warga Kebakan Bangun Insinerator Minim Asap

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id