Tabooo.id: Regional – Dusun Sumbersari di Desa Supiturang, Pronijiwo, Lumajang, berubah drastis, pada Rabu, (19/11/2025) sore, ketika lahar hujan Semeru meluncur deras dan menghapus puluhan rumah hanya dalam hitungan menit. Permukiman yang sebelumnya hidup mendadak menjadi hamparan puing, seolah hilang dari peta.
Lebih dari 20 bangunan runtuh. Beberapa kehilangan atap, sebagian hanya menyisakan separuh tembok depan, dan banyak yang sudah rata dengan tanah. Batu, kayu, genteng, lemari yang rebah, kompor terbalik, piala sekolah hingga foto keluarga berserakan di antara material vulkanik. Semua menjadi bukti bahwa hidup bisa berubah dalam detik yang panas dan tak terduga.
Ketika Rumah Menghilang, Warga Bertahan dengan Harapan
Warga berulang kali masuk ke puing-puing sambil menggenggam harapan yang tersisa. Banyak yang menangis, banyak yang bercerita sambil menahan suara yang bergetar, mengingat momen ketika lahar hujan datang deras membawa batu dan pasir seperti gelombang besar yang tak mengenal belas kasihan.
Misno, salah satu warga, berdiri lama di depan rumahnya yang ambruk. Dapurnya masih berdiri, tetapi separuhnya ikut patah.
“Habis semua, rumah rusak,” ujarnya. Namun ia masih bersyukur karena keluarganya selamat. “Alhamdulillah semua selamat.”
Lahar Hujan yang Menelan Permukiman
Material yang menerjang Sumbersari bukan awan panas, tetapi banjir lahar hujan yang mengalir setelah aktivitas awan panas berhenti. Lahar itu membawa batu, pasir, dan material vulkanik bagai monster cair yang menyapu apa pun yang menghalangi.
Mengungsi: Bukan Pilihan, Tapi Keharusan
Muzamil, warga lainnya, hanya sempat mengambil beberapa helai pakaian.
“Mau dibawa mengungsi. Rumahnya sudah habis,” ujarnya.
Ratusan warga kini bertahan di pos pengungsian. Mereka menunggu kabar kapan bisa pulang, apakah masih ada barang yang bisa diselamatkan, dan bagaimana menjalani hidup setelah kehilangan segalanya.
BPBD Kabupaten Lumajang masih menghitung jumlah kerusakan, tetapi warga sudah lebih dulu menghitung luka mereka sendiri yang tak tercatat dalam laporan resmi.
Siapa yang Paling Terpukul?
Dalam bencana seperti ini jawabannya tidak pernah berubah. Warga kecil selalu menanggung kerugian paling besar. Rumah roboh, harta hilang, tetapi kewajiban mereka tetap berdiri entah cicilan, entah kebutuhan harian.
Sementara itu, tuntutan mitigasi bencana yang lebih serius sudah lama disuarakan masyarakat. Sayangnya, perhatian negara sering kalah cepat dibanding datangnya bencana.
Semeru Tak Berubah, Lalu Siapa yang Harus Berubah?
Semeru bukan gunung tanpa pola. Ia memberi tanda, ia punya sejarah, dan ia sering mengingatkan kita. Pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar belajar dari erupsi sebelumnya? Ataukah kita hanya pandai membuat laporan setelah semuanya hancur?
Peristiwa di Sumbersari bukan sekadar berita. Ini pengingat bahwa warga di kaki Semeru hidup dengan risiko besar setiap hari, sementara mitigasi sering tertinggal.
Pada akhirnya, masyarakat kembali menunjukkan ketangguhan: saling membantu, saling menggenggam tangan, dan saling menguatkan ketika rumah mereka secara harfiah ditelan bumi.
Semeru tetap gunung. Ia tidak berubah.
Yang seharusnya berubah adalah cara negara melindungi mereka yang tinggal di bawah bayang-bayangnya.
Karena ketika gunung ini kembali menguji, jangan sampai hanya warga yang dipaksa kuat sementara negara tetap berjalan seperti biasa.@dimas




