Pelajar Pulau Rao harus menyeberangi laut demi sekolah. Kisah perjuangan mereka menunjukkan tantangan akses pendidikan di wilayah kepulauan.
Tabooo.id – Pagi di Pulau Rao tidak selalu dimulai dari suara kendaraan atau langkah kaki menuju sekolah.
Bagi sebagian pelajar SMA Kristen Posi-Posi Rau, pagi berarti mendekati laut. Mereka menyiapkan perahu, lalu menyeberang menuju ruang kelas.
Sebagian siswa berangkat bersama orangtua. Sebagian lainnya mendayung sendiri.
Tujuannya sama sekolah.
Di banyak tempat, perjalanan menuju kelas mungkin hanya membutuhkan beberapa menit. Namun, bagi pelajar di Pulau Rao, laut menjadi bagian dari rutinitas pendidikan.
Mereka tidak menyeberang untuk mencari liburan. Mereka menyeberang untuk belajar.
Laut Menjadi Jalan Menuju Sekolah
SMA Kristen Posi-Posi Rau menampung pelajar dari Pulau Rao dan sejumlah pulau tetangga. Salah satunya Pulau Saminyamau.
Kondisi geografis membuat perjalanan menuju sekolah tidak sederhana. Para siswa harus menggunakan perahu sebelum bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Orangtua mengantar sebagian siswa. Pelajar lain mendayung sendiri untuk mencapai sekolah.
Perjalanan itu berlangsung sebagai bagian dari keseharian mereka.
Namun, kisah tersebut menyimpan persoalan yang lebih besar daripada sekadar perjuangan anak-anak mengejar pendidikan.
Akses menuju sekolah belum tentu berarti akses pendidikan sudah setara.
Di satu tempat, seorang anak cukup membuka pintu rumah dan berjalan menuju sekolah. Di tempat lain, seorang anak harus menyeberangi laut terlebih dahulu.
Perbedaannya bukan soal semangat belajar.
Perbedaannya muncul karena kondisi geografis.
Ketika Kemerdekaan Bertemu Laut
Kisah para pelajar Pulau Rao mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Maluku Utara saat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin, 17 Agustus 2026.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara Abubakar Abdullah datang langsung ke Pulau Rao. Ia bertindak sebagai inspektur upacara.
Pelajar SD, SMP, dan SMA mengikuti upacara bersama para guru. Jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara serta Cabang Dinas Pendidikan Pulau Morotai juga hadir.
Di halaman sekolah, Merah Putih berkibar.
Para pelajar berdiri dalam satu barisan. Mereka mengikuti upacara seperti anak-anak Indonesia lainnya.
Namun, ada satu perbedaan yang tidak terlihat dari barisan upacara itu.
Sebagian dari mereka setiap hari harus menyeberangi laut untuk sampai ke sekolah.
Abubakar mengatakan pemerintah ingin memastikan anak-anak di wilayah terpencil tidak merasa sendiri.
“Kami ingin anak-anak di pulau terpencil merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Negara hadir dan pemerintah hadir bersama mereka.”
Pesan itu penting.
Akan tetapi, kehadiran negara tidak cukup hanya dengan upacara.
Setelah bendera turun, persoalan akses pendidikan tetap menunggu.
Jangan Romantisasi Perjuangan Anak Pulau
Cerita tentang anak yang mendayung perahu demi sekolah memang mudah menyentuh hati.
Cerita tentang anak-anak yang menyeberangi laut demi sekolah memang mudah menyentuh hati. Namun, ketangguhan mereka seharusnya tidak membuat kita lupa pada persoalan akses pendidikan yang masih mereka hadapi.
Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Mengapa seorang anak harus menghadapi perjalanan seberat itu hanya untuk mendapatkan pendidikan?
Pertanyaan tersebut mengubah cara kita melihat kisah Pulau Rao.
Ketangguhan anak-anak memang patut dihargai. Namun, negara tidak boleh menjadikan ketangguhan itu sebagai alasan untuk membiarkan persoalan akses terus berlangsung.
Anak-anak tidak seharusnya terus membayar mahal keterbatasan geografis dengan tenaga, waktu, dan risiko perjalanan.
Di sinilah romantisasi perjuangan bisa menjadi jebakan.
Kita terlalu mudah berkata, “Mereka hebat.”
Kita justru perlu bertanya, “Apa yang harus negara perbaiki?”
Pendidikan yang merata bukan hanya soal membangun sekolah.
Pemerataan juga menyangkut perjalanan menuju sekolah.
Negara Datang Membawa Komputer
Kunjungan pemerintah ke Pulau Rao tidak berhenti pada peringatan kemerdekaan.
Rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara juga membawa bantuan komputer dari Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda untuk SMA Kristen Posi-Posi Rau.
Perangkat tersebut diharapkan mendukung kegiatan pembelajaran. Bantuan itu juga dapat membuka akses siswa terhadap teknologi dan informasi.
Abubakar mengatakan rombongan ingin melihat kondisi sekolah secara langsung. Mereka juga ingin mendengar kebutuhan siswa dan guru.
“Kami datang bukan hanya untuk upacara,” ujar Abubakar.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kunjungan tersebut membawa agenda yang lebih luas.
Pemerintah ingin melihat langsung persoalan pendidikan di wilayah terpencil. Mereka juga membawa dukungan yang dapat membantu proses belajar.
Langkah tersebut tentu penting.
Namun, satu bantuan komputer tidak akan menghapus persoalan geografis.
Teknologi dapat mendekatkan informasi. Laut tetap memisahkan jarak.
Karena itu, pemerataan pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar perangkat.
Sekolah Ada, Tetapi Jalan Menuju Sekolah Tetap Sulit
Kisah Pulau Rao menunjukkan satu paradoks pendidikan Indonesia.
Sekolah tersedia.
Guru hadir.
Anak-anak memiliki kemauan belajar.
Namun, perjalanan menuju ruang kelas tetap menghadirkan tantangan besar.
Persoalan seperti ini sering luput ketika pendidikan hanya kita ukur melalui jumlah sekolah atau angka partisipasi.
Angka dapat menunjukkan berapa banyak anak yang masuk sekolah.
Namun, angka tidak selalu menunjukkan bagaimana mereka mencapai sekolah.
Di Pulau Rao, perjalanan menjadi bagian dari pengalaman pendidikan itu sendiri.
Setiap kali menyeberang, para siswa menghadapi kondisi alam dan jarak. Sebagian bahkan harus mendayung sendiri.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pemerataan pendidikan membutuhkan perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Anak di kota dan anak di pulau terpencil sama-sama memiliki hak untuk belajar.
Namun, keduanya belum tentu memiliki jalan yang sama menuju hak tersebut.
Perjalanan Pemerintah Juga Menunjukkan Jarak Itu
Jarak menuju SMA Kristen Posi-Posi Rau juga terasa bagi rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara.
Dari Daruba, ibu kota Kabupaten Pulau Morotai, rombongan menempuh perjalanan darat menuju Wasbula, Kecamatan Morotai Selatan Barat.
Perjalanan darat itu berlangsung sekitar 1,5 jam.
Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan perahu menuju Posi-Posi Rau.
Perjalanan tersebut memberi gambaran sederhana tentang kondisi geografis wilayah kepulauan.
Bedanya, rombongan datang untuk menghadiri agenda pemerintah.
Para siswa menempuh rute serupa untuk belajar.
Mereka mengulang perjalanan itu bukan sekali. Mereka menghadapinya sebagai bagian dari kehidupan sekolah.
Kehadiran Abubakar di Pulau Rao juga mengikuti arahan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda. Pemerintah provinsi ingin menghadirkan jajaran pendidikan secara langsung bersama pelajar di wilayah terpencil.
Abubakar menilai anak-anak tidak boleh merasa terpisah dari perhatian negara hanya karena kondisi geografis.
“Laut boleh memisahkan pulau, tetapi tidak boleh memisahkan cita-cita anak-anak Indonesia,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun, Pulau Rao memberi makna yang sangat nyata pada kalimat tersebut.
Ini Bukan Sekadar Cerita Inspiratif
Kisah pelajar Pulau Rao bukan hanya cerita tentang anak-anak yang pantang menyerah.
Ini adalah cerita tentang ketimpangan akses.
Geografi menentukan seberapa mudah seseorang mencapai sekolah. Pada saat yang sama, akses tersebut ikut menentukan pengalaman anak dalam memperoleh pendidikan.
Anak-anak Pulau Rao tidak kekurangan cita-cita.
Mereka hanya menghadapi jalan yang berbeda untuk mengejarnya.
Karena itu, negara perlu melihat pendidikan bukan hanya dari dalam ruang kelas.
Negara juga perlu melihat perjalanan menuju ruang tersebut.
Karena itu, negara perlu melihat pendidikan bukan hanya dari dalam ruang kelas, tetapi juga dari perjalanan menuju ke sana. Seberapa aman akses siswa, seberapa berat biaya dan jaraknya, serta apakah fasilitas yang tersedia mampu menjawab keterbatasan geografis?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk memastikan pemerataan pendidikan benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak sekolah yang sudah berdiri.
Sebab sekolah yang tersedia belum tentu mudah dijangkau.
Dan pendidikan yang secara administratif terbuka belum tentu terasa setara dalam kehidupan sehari-hari.
Kemerdekaan yang Harus Terasa Sampai ke Pulau
Pada 17 Agustus, Merah Putih berkibar di halaman SMA Kristen Posi-Posi Rau.
Para siswa berdiri dalam satu barisan. Mereka mengikuti upacara dan memperingati kemerdekaan bersama guru serta pemerintah.
Setelah upacara selesai, kehidupan kembali berjalan.
Besok, sebagian siswa akan kembali menuju laut.
Perahu kembali menjadi kendaraan menuju sekolah. Dayung kembali menjadi alat untuk mengejar pelajaran.
Di situlah makna kemerdekaan menemukan ujian yang sebenarnya.
Kemerdekaan bukan hanya tentang bendera yang berkibar di setiap pulau.
Kemerdekaan juga harus terasa ketika seorang anak di pulau terpencil memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan mengejar masa depan.
Anak-anak Pulau Rao tidak meminta jalan hidup yang mudah.
Mereka hanya membutuhkan jalan pendidikan yang lebih layak.
Laut boleh memisahkan pulau.
Tetapi negara tidak boleh membiarkan jarak memisahkan kesempatan.
Sebab pada akhirnya, yang mereka kejar bukan sekadar sekolah.
Mereka sedang mengejar masa depan.
Dan masa depan anak Indonesia seharusnya tidak ditentukan oleh seberapa jauh rumahnya dari pusat kota. @dimas








