Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Sekadar Tirakatan, Kemlayan Kembali Merawat Kebersamaan

by eko
Agustus 17, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Warga Kemlayan kembali menggelar tirakatan 17 Agustus setelah dua tahun vakum. Biola Arif Fathoni mengiringi paduan suara anak-anak.

Tabooo.id – Warga Kemlayan, Solo, kembali menghidupkan malam tirakatan setelah dua tahun vakum. Warga RT 01 dan RT 03 RW 01 Darpoyudan berkumpul di Gang Empu Baradah pada Minggu (16/8/2026) malam.

Mereka menggelar tirakatan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Namun, acara kali ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan.

Panitia ingin mengembalikan satu hal yang mulai jarang terjadi di tengah kesibukan warga: duduk bersama dan saling menyapa.

Ketua Panitia 17 Agustus Kampung Kemlayan, Malik Prayogi Sulmi, mengatakan warga membutuhkan ruang untuk kembali mempererat hubungan.

“Ini momennya untuk merekatkan silaturahmi antarwarga yang biasanya memiliki kesibukan masing-masing,” jelas Malik.

Ini Belum Selesai

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

Menurut Malik, warga menyambut baik acara tersebut. Momentum libur membuat lebih banyak warga punya waktu untuk berkumpul.

“Alhamdulillah, malam tirakatan ini menjadi ajang silaturahmi dan gotong royong warga. Yang biasanya jarang keluar rumah karena sibuk, malam ini juga datang dan berkumpul,” ungkapnya.

Dua Tahun Vakum, Warga Kembali Duduk Bersama

Selama dua tahun, warga tidak menggelar tirakatan dengan konsep seperti tahun ini. Panitia kemudian mengajak masyarakat kembali membangun tradisi tersebut.

Menariknya, panitia tidak mengejar kemeriahan lewat panggung besar. Mereka justru menempatkan warga sebagai pusat acara.

Konsep sederhana itu membuat suasana terasa lebih dekat. Anak-anak, orang tua, panitia, dan warga berkumpul dalam satu ruang.

Bagi Malik, pertemuan seperti ini punya arti penting. Kesibukan sehari-hari sering membuat warga hanya berpapasan tanpa sempat berbincang.

Malam tirakatan akhirnya menjadi alasan untuk berhenti sejenak dari rutinitas.

Biola Arif Fathoni Iringi Indonesia Raya

Panitia juga menghadirkan sesuatu yang berbeda tahun ini. Malik mengundang Arif Fathoni, violinis tunanetra asal Solo yang dikenal sebagai Indonesia Blind Violin.

Arif memainkan biola untuk mengiringi paduan suara anak-anak Kemlayan. Mereka kemudian menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama warga.

“Kami mengundang Arif Fathoni, atau lebih dikenal dengan Indonesia Blind Violin. Beliau pemain biola tunanetra dan kami kolaborasikan dengan anak-anak Kemlayan untuk mengiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya,” tutur Malik.

Kolaborasi itu memberi warna baru pada malam tirakatan. Anak-anak mendapat ruang untuk tampil. Arif menunjukkan kemampuannya melalui musik.

Sementara itu, warga menikmati momen kebangsaan dengan cara yang lebih dekat dan personal.

“Dari Kita, Untuk Kita”

Malik menjelaskan, warga ikut menopang kegiatan melalui bantuan dan swadaya. Panitia kemudian menggunakan dukungan tersebut untuk kepentingan bersama.

“Kegiatan ini dari warga. Ada yang memberi bantuan dan kita kembalikan bantuan tersebut kepada warga. Kita memakai slogan dari kita untuk kita,” terangnya.

Semangat itu menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu membutuhkan acara besar. Warga bisa menciptakan perayaan dari kekuatan lingkungan sendiri.

Mereka mengumpulkan dukungan, mereka berbagi peran dan mereka kemudian menikmati hasilnya bersama.

Ini bukan sekadar tirakatan 17 Agustus. Ini tentang warga yang kembali menemukan alasan untuk berkumpul.

Gotong Royong Jangan Berhenti di Tirakatan

Malik berharap kebersamaan tersebut terus berjalan setelah perayaan kemerdekaan selesai.

Ia ingin kerukunan dan gotong royong menjadi kebiasaan warga Kemlayan, bukan hanya muncul setiap Agustus.

Harapan itu terdengar sederhana. Namun, kehidupan kampung memang tumbuh dari hal-hal sederhana.

Dari sapaan tetangga, dari anak-anak yang bermain bersama dan dari warga yang mau membantu ketika tetangganya membutuhkan.

Kemerdekaan akhirnya tidak hanya hadir lewat bendera dan upacara. Di tingkat kampung, kemerdekaan juga tumbuh ketika warga masih mau duduk bersama.

Sebab, kampung bukan sekadar tempat tinggal. Kampung adalah ruang tempat orang belajar kembali menjadi tetangga.@eko

Tags: 17 AgustusKemerdekaanKemlayanmalam tirakatanTirakatan

Kamu Melewatkan Ini

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

Karnaval Kemerdekaan dan Upaya Menumbuhkan Nasionalisme Anak

by eko
Agustus 21, 2026

Karnaval kemerdekaan memberi ruang bagi anak untuk mengenal budaya, keberagaman, kreativitas, dan kebersamaan sejak dini. Tabooo.id – Setiap Agustus, bendera...

Ratusan Siswa Tarakanita Ramaikan Karnaval Merdeka

Ratusan Siswa Tarakanita Ramaikan Karnaval Merdeka

by eko
Agustus 21, 2026

Ratusan siswa SD dan SMP Tarakanita Solo Baru menggelar karnaval HUT RI ke-81 dengan pakaian adat dan semangat nasionalisme. Tabooo.id:...

Indonesia Mau Upacara Bendera, Tapi Benderanya Belum Ada

Indonesia Mau Upacara Bendera, Tapi Benderanya Belum Ada

by teguh
Agustus 18, 2026

Setiap tahun Indonesia mau upacara bendera dan Pasukan bersiap, Protokol bekerja. Pemerintah menata kebutuhan untuk 17 Agustus. Kemudian muncul satu...

Next Post
Kereta Garuda Prabayaksa Bawa Merah Putih dan Teks Proklamasi

Kereta Garuda Prabayaksa Bawa Merah Putih dan Teks Proklamasi

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id