Upah kupas bawang viral Rp700 ribu per kg. Buruh Pasar Legi Solo mengungkap tangan panas, perih, dan pecah-pecah saat bekerja.
Tabooo.id – Ada pekerjaan yang hasilnya terlihat bersih, tetapi prosesnya meninggalkan luka. Bawang yang sudah terkupas tampak putih, bersih, dan siap masuk dapur. Namun, di balik setiap kilogram bawang itu, ada tangan yang bekerja berulang kali, kulit yang terasa panas, rasa perih, hingga tangan yang pecah-pecah.
Itulah bagian dari pekerjaan pengupas bawang yang tidak ikut viral. Yang viral justru sebuah angka: Rp700.000 per kilogram.
Angka itu muncul dalam pidato Presiden Prabowo Subianto saat Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Dalam pidatonya, Prabowo memperkenalkan Susanah, buruh harian pengupas bawang asal Bogor, Jawa Barat.
Angka upah yang disebut Prabowo kemudian ramai di media sosial dan memicu perbincangan publik. Di tengah riuh angka tersebut, pengalaman buruh pengupas bawang di Pasar Legi Solo justru menghadirkan cerita yang berbeda.
“Kalau Segitu, Saya Sudah Kaya”
Sumiarti, buruh pengupas bawang asal Kalioso, Karanganyar, mengaku terkejut ketika mendengar angka tersebut. “Kalau upah segitu dari dulu mesti saya sudah kaya. Para buruh pengupas bawang di sini sudah sukses dan kaya,” tutur Sumiarti saat ditemui Tabooo.id, Minggu (16/8/2026). Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan jarak antara angka yang ramai di media sosial dan pengalaman pekerja di lapangan.
Sumiarti menyebut upah yang ia terima berkisar Rp2.000 hingga Rp10.000. Tarif itu bergantung pada jenis bawang dan tahap pekerjaan. Untuk bawang putih, buruh mendapat Rp10.000 per sak pada tahap awal. Satu sak berisi sekitar 20 kilogram. Pada tahap tersebut, buruh memisahkan kulit atau memecah bonggol bawang. Setelah itu, mereka masuk ke tahap pengupasan akhir. Buruh membersihkan bawang sampai kulitnya benar-benar terlepas. Untuk pekerjaan itu, Sumiarti menyebut upah sekitar Rp2.000 per kilogram. Pendapatan harian pun tidak tetap karena jumlah bawang yang berhasil ia kupas menentukan penghasilannya.
Yang Pecah Bukan Cuma Kulit Bawang
Di sinilah cerita pengupas bawang menjadi lebih manusiawi. Pekerjaan itu tidak hanya menghabiskan waktu dan tenaga. Tangan pekerja juga ikut menanggung prosesnya. Sumiarti mengatakan beberapa jenis bawang membuat tangannya terasa panas dan perih. Kulit tangannya bahkan bisa pecah-pecah.
Risiko itu semakin terasa ketika ia mengupas bawang jenis sinco. “Kalau mengelupas bawang sinco pasti tangan panas, pecah-pecah,” ujarnya. Tarif bawang sinco memang sedikit lebih tinggi. Sumiarti menyebut upahnya sekitar Rp3.000 per kilogram, sedangkan bawang biasa sekitar Rp2.000 per kilogram. Selisihnya hanya Rp1.000. Namun, tambahan itu tidak menghilangkan rasa panas dan perih yang muncul di tangan. Seribu rupiah tambahan tidak otomatis membuat pekerjaan terasa lebih ringan.
Pekerjaan yang Terlihat Sederhana
Dari jauh, mengupas bawang memang terlihat seperti pekerjaan sederhana. Duduk, mengambil bawang, mengupas, membersihkan, lalu mengulanginya lagi. Namun, pekerja menjalani gerakan yang sama berkali-kali untuk mengejar jumlah bawang. Tangan terus bergerak. Kulit terus bersentuhan dengan bawang. Ketika tangan mulai panas dan perih, kebutuhan hidup tetap berjalan.
Di sinilah angka upah per kilogram tidak menceritakan seluruh pekerjaan. Angka itu tidak menunjukkan berapa lama buruh bekerja. Angka itu juga tidak menunjukkan kondisi tangan setelah pekerjaan selesai. Bagi pekerja harian, jumlah bawang menentukan penghasilan. Semakin banyak bawang yang mereka kupas, semakin besar pendapatan yang mereka bawa pulang. Namun, semakin lama tangan bekerja, semakin lama pula tubuh menghadapi proses tersebut.
Kita Melihat Bawangnya, Bukan Tangannya
Angka Rp700.000 membuat profesi pengupas bawang terlihat menggiurkan. Publik bisa dengan mudah menghitung berapa banyak uang yang mungkin terkumpul dari beberapa kilogram bawang. Namun, perhitungan itu sering berhenti pada nominal. Kita melihat angka, tetapi tidak melihat tangan yang menghasilkan angka tersebut.
Padahal, setiap angka upah punya cerita manusia. Ada waktu di baliknya, ada tenaga dan ada pekerjaan yang berulang. Dalam pengalaman Sumiarti, ada pula tangan yang panas, perih, dan pecah-pecah. Ini bukan sekadar cerita tentang upah pengupas bawang. Ini cerita tentang bagaimana sebuah pekerjaan terlihat sederhana ketika kita hanya melihat hasil akhirnya.
Bawang terlihat bersih setelah proses pengupasan selesai. Pekerjaan terlihat tuntas ketika bawang masuk ke wadah. Tetapi bagi pekerja, hari belum benar-benar selesai. Tangan masih merasakan panas. Kulit masih terasa perih. Besok mereka harus kembali bekerja untuk mendapatkan penghasilan berikutnya.
Rp2.000 Tidak Pernah Sekadar Rp2.000
Bagi orang yang melihatnya dari layar, Rp2.000 mungkin hanya angka kecil. Namun, bagi Sumiarti, angka itu membawa proses panjang. Ia harus duduk dan bekerja, ia juga harus mengupas bawang satu demi satu. Ia harus mengejar jumlah. Ia juga harus menghadapi rasa panas dan kulit tangan yang pecah-pecah.
Karena itu, membicarakan upah buruh tidak cukup dengan menyebut nominal. Kita juga perlu melihat harga yang harus tubuh bayar. Sebab, semakin lama kita hanya melihat angka, semakin mudah kita lupa pada manusia yang menghasilkan angka tersebut.
Viralnya angka Rp700.000 akhirnya membuka pertanyaan yang lebih besar. Bukan hanya soal berapa upah pengupas bawang, tetapi juga bagaimana kita menghargai pekerjaan yang selama ini hanya kita lihat dari hasil akhirnya.
Di Balik Bawang yang Bersih
Bawang yang bersih tidak muncul begitu saja. Ada tangan yang mengupasnya, ada pekerjaan yang berulang, ada waktu yang pekerja habiskan dan ada tenaga yang mereka keluarkan. Dalam pengalaman Sumiarti, ada pula kulit tangan yang panas dan pecah-pecah.
Itulah bagian cerita yang sering tidak terlihat ketika sebuah pekerjaan hanya kita ukur dari nominal. Angka bisa viral dalam hitungan menit. Namun, tangan pekerja tetap menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Bawang datang. Tangan bekerja. Kulit menanggung akibatnya. Lalu semuanya berulang.
Pada akhirnya, cerita ini bukan cuma tentang Rp700.000 atau Rp2.000 per kilogram. Cerita ini tentang manusia yang berdiri di belakang setiap angka. Bawangnya bisa bersih ketika sampai di pasar. Namun, tangan yang membersihkannya mungkin pulang dengan kulit yang panas, perih, dan pecah-pecah.@eko








