PGS tutup, tetapi pedagang Galabo tak terdampak langsung. Kini, mereka bergantung pada ramainya wisatawan untuk menggerakkan transaksi.
Tabooo.id: Surakarta – Penutupan Pasar Grosir Solo (PGS) tidak serta-merta membuat semua pedagang di sekitarnya kehilangan pembeli. Di pojokan Galabo, Riyanti masih membuka lapaknya seperti biasa. Namun, persoalan yang ia hadapi ternyata bukan sekadar soal PGS yang berhenti beroperasi.
“Kalau terdampak secara langsung tidak, tapi mungkin yang lebih terdampak kantin di dalam,” ujar Riyanti.
Di kawasan yang berdenyut dari lalu-lalang orang, penutupan sebuah pusat perdagangan memang bisa mengubah peta keramaian. Namun, bagi Riyanti, efeknya belum terasa langsung.
Ia melihat pekerja PGS memiliki kebiasaan sendiri. Mereka lebih sering makan, minum kopi, atau beristirahat di kantin yang berada di dalam area pasar.
Karena itu, ketika PGS tutup, pedagang di luar tidak otomatis kehilangan seluruh pembeli.
“Ya ada yang ke sini, beli rokok ada beberapa,” katanya.
Namun, cerita Riyanti tidak berhenti di sana.
Masalahnya Bukan Cuma PGS
Justru ada persoalan lain yang terasa lebih berat. Aktivitas jualan Riyanti kini sangat bergantung pada arus wisatawan yang datang ke Solo.
Ia menyebut bus pariwisata yang parkir di sekitar Benteng Vastenburg ikut menciptakan keramaian bagi pedagang kawasan Galabo.
“Ya saat ini jualan saya bergantung pada pengunjung wisata di Solo,” terangnya.
Kalimat itu sederhana. Namun, di baliknya terdapat persoalan ekonomi yang lebih besar.
Pedagang kecil seperti Riyanti tidak sepenuhnya mengendalikan jumlah pembeli. Mereka bergantung pada sesuatu yang jauh lebih besar: pergerakan manusia di dalam kota.
Ketika wisatawan datang, peluang transaksi ikut terbuka. Ketika kawasan wisata sepi, lapak kecil ikut merasakan dampaknya.
Rokok, makanan, minuman, atau barang kecil lainnya mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi pedagang, setiap transaksi punya arti untuk menyambung penghasilan hari itu.
Pedagang Menunggu Kota Bernapas
Galabo bukan sekadar ruang untuk makan atau berjualan. Kawasan ini juga menjadi titik pertemuan berbagai aktivitas kota.
Karena itu, pedagang di sana tidak hanya menunggu pembeli. Mereka menunggu kota kembali ramai.
Bus pariwisata datang. Orang turun. Mereka berjalan, mencari makan, membeli minuman, atau sekadar berhenti.
Dari aktivitas kecil itulah ekonomi pedagang bergerak.
Masalahnya, keramaian tidak selalu datang setiap hari.
Di sinilah posisi pedagang kecil menjadi rentan. Mereka tidak punya kendali atas agenda wisata kota. Mereka juga tidak bisa menentukan berapa banyak orang yang datang.
Pedagang hanya bisa membuka lapak dan berharap arus pengunjung membawa transaksi.
Riyanti pun berharap jumlah wisatawan yang datang ke Solo terus bertambah.
“Semoga pengunjung wisata di Solo makin banyak agar penjual, khususnya di Galabo, bisa kembali ramai,” harapnya.
Ini Bukan Sekadar Cerita PGS
Penutupan PGS memang menjadi peristiwa penting bagi kawasan perdagangan Solo. Namun, pengalaman Riyanti menunjukkan bahwa dampaknya tidak seragam.
Ada pedagang yang tidak merasakan pukulan langsung. Ada pula pedagang yang menghadapi persoalan berbeda karena menggantungkan pendapatan pada sektor wisata.
Artinya, persoalan ekonomi kawasan tidak bisa dibaca hanya dari satu titik.
Ketika sebuah pusat perdagangan tutup, dampaknya mungkin tidak langsung menyebar ke semua lapak. Sebaliknya, ketika wisatawan berkurang, pedagang yang berada di jalur ekonomi wisata justru bisa lebih dulu merasakan sepinya transaksi.
Ini bukan sekadar cerita tentang PGS yang tutup. Ini cerita tentang pedagang kecil yang hidup dari denyut sebuah kota.
Kota yang ramai memberi mereka kesempatan. Kota yang sepi membuat mereka menunggu.
Di Balik Ramainya Pariwisata Solo
Pemerintah daerah sering berbicara tentang pariwisata, destinasi, dan peningkatan kunjungan. Namun, ukuran keberhasilan wisata tidak berhenti pada jumlah orang yang datang.
Pertanyaannya lebih sederhana berapa banyak aktivitas ekonomi yang benar-benar bergerak setelah mereka datang?
Bagi pedagang Galabo, jawabannya terasa sangat konkret.
Satu bus wisata bisa berarti puluhan calon pembeli. Satu kerumunan pengunjung bisa menghidupkan transaksi. Sebaliknya, kawasan yang sepi membuat lapak tetap terbuka tanpa jaminan pembeli.
Di titik itu, pariwisata bukan lagi sekadar urusan promosi kota.
Pariwisata menjadi bagian dari napas ekonomi warga kecil.
Riyanti mungkin tidak terdampak langsung oleh tutupnya PGS. Namun, ia tetap menghadapi persoalan yang sama dengan banyak pedagang kecil: ketidakpastian.
Hari ini ramai. Besok belum tentu.
Hari ini wisatawan datang. Besok mereka bisa memilih tempat lain.
Dan di antara semua ketidakpastian itu, pedagang hanya meminta satu hal yang terdengar sederhana orang datang, berhenti, lalu membeli.
Sebab bagi mereka, kota yang ramai bukan sekadar pemandangan.
Keramaian adalah penghasilan. @eko








