Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pertalite Mau Dibatasi untuk Desil 9–10, Tapi Siapa yang Benar-Benar Kaya?

by teguh
Agustus 13, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter
Kalau suatu hari SPBU menolak transaksi Pertalite untukmu, apa yang terjadi? Pertalite mau Dabatasi dan itu bukan karena harga. Bisa jadi sistem menganggap keluargamu sudah terlalu mampu menerima subsidi.

Tabooo.id: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap rencana pembatasan Pertalite mau dibatasi khususnya bagi masyarakat desil 9 dan 10. Purbaya membahas rencana itu bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Selasa, 11/08/2026.

Pemerintah akan menjalankan pembatasan secara bertahap.

“Jadi tadi kita membahas kemungkinan implementasi pembatasan subsidi Pertalite untuk yang tingkat atas, mungkin yang desil 9-10,” ujar Purbaya pada 11/08/2026.

Bahlil mengakui persoalan utama terletak pada ketepatan sasaran subsidi. Menurut Bahlil, masyarakat desil 9 dan 10 masih menikmati subsidi Pertalite.

“Desil 9, desil 10 masih kena, masih dapat subsidi,” ujar Bahlil pada 11/08/2026.

Ini Belum Selesai

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Ia menegaskan pemerintah ingin mengarahkan subsidi ratusan triliun rupiah kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dan salah satunya dengan pertalite mau dibatasi.

Desil Bukan Tabel Gaji

Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Desil tidak bekerja seperti tabel sederhana. Artinya, orang dengan gaji tertentu tidak otomatis masuk desil tertentu.

BPS menjelaskan bahwa sistem kesejahteraan menggunakan banyak variabel. Variabel itu mencakup pendidikan, pekerjaan, kondisi rumah, kesehatan, aset, hingga kepemilikan usaha.

DTSEN kemudian mengurutkan keluarga berdasarkan berbagai indikator tersebut. Karena itu, posisi desil menggambarkan kondisi sebuah keluarga dibandingkan keluarga lain. Bukan sekadar jumlah uang yang masuk setiap bulan.

Orang Kaya atau Cuma Terlihat Kaya?

Persoalan berikutnya muncul ketika pemerintah memakai desil sebagai pintu pembatas subsidi.

Satu keluarga bisa memiliki rumah dengan kondisi relatif baik. Namun, keluarga itu belum tentu memiliki arus kas yang besar.

Sebaliknya, seseorang bisa memiliki pendapatan tinggi tanpa menyimpan banyak aset. Kondisi keluarga juga memengaruhi posisi desil.

Jumlah anggota keluarga, tanggungan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan aset ikut membentuk ranking.

Jadi, pertanyaan publik sebenarnya sederhana, Apakah masuk desil 9 otomatis berarti seseorang mampu kehilangan subsidi? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Subsidi Memang Sering Salah Sasaran

Pemerintah punya alasan kuat untuk membenahi persoalan ini.

Ketua Banggar DPR Said Abdullah menyebut kelompok desil 6–10 menikmati sekitar 79 persen subsidi Pertalite pada April 2026.

Sementara kelompok desil 1–5 hanya menikmati sekitar 21 persen. Data tersebut memperlihatkan masalah distribusi subsidi.

Akademisi sekaligus Dewan Penasihat MTI Djoko Setijowarno juga menyoroti persoalan tersebut.

“Subsidi BBM kerap kali meleset dari target keadilan sosial,” kata Djoko pada 14/06/2026.

Djoko mendorong pemerintah mengalihkan sebagian anggaran subsidi untuk memperkuat transportasi publik.

Sosiolog UMM Prof. Vina Salviana Darvina Soedarwo melihat persoalan dari sisi berbeda.

Ia mengingatkan pemerintah agar kebijakan energi tidak menciptakan ketimpangan baru pada 02/04/2026. Masalahnya bukan hanya siapa yang menerima subsidi.

Masalahnya juga siapa yang akhirnya menanggung konsekuensi ketika pemerintah mencabut subsidi.

Data Menentukan Nasib di SPBU

Pemerintah kini menghadapi pekerjaan yang tidak ringan. Mereka harus memastikan data benar sebelum menerapkan pembatasan.

Mereka juga harus menyediakan mekanisme koreksi bagi keluarga yang merasa masuk kelompok yang keliru.

Sebab, kesalahan data bisa menghasilkan konsekuensi nyata. Seseorang tidak sekadar kehilangan angka di database.

Ia bisa kehilangan akses terhadap BBM bersubsidi. Ini bukan sekadar urusan Pertalite. Ini soal bagaimana negara mendefinisikan kata “mampu”.

Negara membutuhkan data untuk membagikan subsidi secara tepat. Namun, negara juga harus memastikan data itu tidak berubah menjadi vonis ekonomi.

Kalau Data Salah, Siapa yang Bayar?

Pemerintah ingin menghentikan subsidi bagi kelompok yang dianggap mampu. Tujuannya jelas: mengurangi kebocoran dan memperbaiki ketepatan sasaran.

Tetapi kebijakan yang tepat membutuhkan alat ukur yang tepat pula. Jika sistem berhasil menemukan kelompok kaya, subsidi menjadi lebih adil.

Jika sistem salah membaca kondisi keluarga, kebijakan justru menciptakan masalah baru.

Pertalite akhirnya bukan cuma soal bensin. Ia menjadi ujian tentang seberapa akurat negara membaca kehidupan rakyatnya.

Lalu pertanyaannya tinggal satu, Kalau negara salah membaca data, siapa yang harus membayar kesalahannya?

Negara boleh punya data. Tapi rakyat tetap punya kehidupan yang tidak selalu muat dalam spreadsheet.

Tags: BBMDesil 10Desil 9DTSENEkonomi Indonesiakebijakan pemerintahPertaliteSubsidi BBMSubsidi Tepat Sasaran

Kamu Melewatkan Ini

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

by teguh
Agustus 16, 2026

Prestasi akademik IP 4.0 tak menjamin kuliah aman. Biaya kuliah tetap menjadi tembok bagi mahasiswa dari keluarga rentan. Ada mahasiswa...

Dian Punya IP 4.0, Tapi Sistem Bilang Keluarganya Tak Cukup Miskin

Dian Punya IP 4.0, Tapi Sistem Bilang Keluarganya Tak Cukup Miskin

by teguh
Agustus 16, 2026

Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dian 19 tahun itu meraih IP 4.0, pada semester pertama. Semester berikutnya, ia kembali mencatat...

Pertalite Mulai Dibatasi: Desil 9-10 Terancam Kehilangan Subsidi

Pertalite Akan Dibatasi: Desil 9-10 Terancam Kehilangan Subsidi

by dimas
Agustus 13, 2026

Pemerintah mengkaji pembatasan Pertalite bagi desil 9-10. Simak alasan, kriteria kendaraan, dan dampaknya bagi penerima subsidi. Tabooo.id - Ada satu...

Next Post
PGS Tutup, Pedagang Galabo Bergantung pada Wisatawan

PGS Tutup, Pedagang Galabo Bergantung pada Wisatawan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id