Sumur warga Tambelangan, Kabupaten Sampang tercemar dan diduga terkait limbah SPPG. Kasus ini menjadi alarm bagi tata kelola dan pengawasan program MBG.
Tabooo.id: Sampang – Air sumur biasanya menjadi bagian paling biasa dalam kehidupan warga. Namun, di Desa Tambelangan, air justru berubah menjadi sumber kekhawatiran.
Warga Desa Tambelangan, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, mengeluhkan air sumur yang keruh, berbau, dan berbusa. Mereka menduga pencemaran itu berasal dari limbah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rahmatan Lil Alamin.
“Kami sudah berkoordinasi dengan DLH dan akan turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan ke sana,” kata Sudarmanto, Kamis (13/8/2026).
Air Bersih Terganggu, Warga Mulai Bertanya
Keluhan warga tidak muncul tanpa sebab. Mereka melihat perubahan pada kondisi air sumur setelah aktivitas dapur MBG berlangsung di sekitar permukiman.
Air yang sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kini tampak keruh. Selain itu, warga juga mencium bau dan melihat busa pada permukaan air.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa limbah dapur SPPG masuk ke lingkungan sekitar. Namun, dugaan itu tetap membutuhkan pemeriksaan dan pengujian untuk memastikan sumber pencemaran.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mendengar keluhan warga. Pemeriksaan lapangan menjadi penting untuk menemukan jalur pencemaran secara jelas.
Muspika setempat juga sudah mendatangi lokasi. Mereka mengecek kondisi sumur dan ikut bermusyawarah bersama warga yang terdampak.
Langkah tersebut setidaknya menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi berhenti sebagai keluhan warga. Pemerintah mulai turun ketika persoalan air bersih menyentuh kehidupan sehari-hari.
Kompensasi Sudah Ada, Masalah Belum Selesai
Pihak SPPG juga sudah memberikan kompensasi kepada warga.
Kepala SPPG Rahmatan Lil Alamin, Nur Jamila, mengatakan pihak mitra memberikan uang tunai sebesar Rp260.000.
“Sudah semua dan sudah diberikan kompensasi,” kata Nur Jamila.
Selain itu, warga juga sudah melakukan pengurasan sumur. Satgas MBG Sampang menyebut langkah tersebut dilakukan agar warga tetap memperoleh akses air bersih.
Namun, kompensasi tidak otomatis menyelesaikan persoalan.
Uang dapat membantu warga membeli air bersih untuk sementara. Sebaliknya, uang tidak dapat menjawab penyebab pencemaran.
Pertanyaan yang lebih besar tetap berada di belakangnya.
Dari mana limbah itu berasal? Ke mana seluruh limbah dapur mengalir? Apakah sistem pengolahan limbah sudah berjalan dengan baik?
Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengembalikan kondisi sumur untuk sementara.
Ketika Dapur MBG Bertemu Lingkungan Warga
Program MBG membawa tujuan besar. Pemerintah ingin memastikan masyarakat mendapatkan makanan bergizi secara lebih luas.
Namun, setiap dapur juga menghasilkan limbah.
Ada air bekas mencuci bahan makanan dan ada sisa makanan, ada minyak dan berbagai bahan organik lainnya.
Karena itu, dapur MBG tidak hanya membutuhkan kemampuan memasak dalam jumlah besar. Dapur juga membutuhkan sistem pengelolaan limbah yang aman.
Masalahnya, warga Tambelangan kini berhadapan dengan dugaan pencemaran di sekitar sumber air mereka.
Ironinya terasa jelas.
Program yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup tidak boleh mengganggu kebutuhan dasar lain.
Air bersih juga bagian dari kualitas hidup.
Bahkan, bagi keluarga yang mengandalkan sumur, air bukan sekadar fasilitas. Air adalah kebutuhan harian yang menentukan kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan hidup.
Jalur Limbah Menjadi Titik Penting
Persoalan semakin serius karena muncul informasi mengenai jalur pembuangan limbah dapur.
Menurut informasi yang diterima dalam kasus ini, limbah dari dapur SPPG tidak seluruhnya masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL.
Sebagian limbah juga dialirkan melalui pipa menuju sawah milik pemilik dapur. Saluran tersebut digunakan untuk mengairi lahan semangka.
Kondisi itu menimbulkan pertanyaan penting mengenai sistem pengelolaan limbah.
Jika sebuah dapur menghasilkan limbah dalam jumlah besar, setiap jalur pembuangan harus memiliki pengawasan yang jelas. Selain itu, pengelola harus memastikan limbah tidak mencemari tanah maupun sumber air warga.
Karena itu, pemeriksaan Dinas Lingkungan Hidup menjadi sangat penting.
Pemeriksaan tersebut perlu menjawab kondisi IPAL, jalur pembuangan, serta kualitas air sumur warga. Dengan begitu, publik tidak hanya mendapatkan pernyataan dari masing-masing pihak.
Publik membutuhkan hasil pemeriksaan yang bisa diuji.
MBG Harus Menghitung Apa yang Terjadi di Belakang Dapur
Selama ini, pembicaraan tentang MBG sering berhenti pada makanan.
Berapa porsi yang dibagikan? Siapa penerimanya? Seberapa bergizi menunya?
Pertanyaan tersebut memang penting. Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting.
Setelah makanan selesai dimasak, ke mana limbahnya pergi?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika dapur MBG berada dekat dengan rumah warga.
Sebab, ekspansi program publik selalu membawa konsekuensi baru. Ketika jumlah dapur bertambah, volume limbah juga berpotensi meningkat.
Karena itu, pengawasan lingkungan harus tumbuh bersama program.
Tidak cukup hanya memastikan dapur mampu memasak. Pemerintah juga perlu memastikan dapur mampu mengelola seluruh sisa produksinya.
Jika tidak, program publik hanya memindahkan persoalan dari satu ruang ke ruang lain.
Ini Bukan Sekadar Sumur yang Keruh
Kasus Tambelangan seharusnya tidak berhenti pada persoalan kompensasi.
Kompensasi memang membantu warga dalam kondisi darurat. Namun, penyelesaian yang sebenarnya membutuhkan kepastian mengenai sumber pencemaran.
Di sinilah peran pemerintah menjadi penting.
Satgas MBG, DLH, pemerintah kecamatan, dan pengelola SPPG perlu memastikan persoalan ini selesai berdasarkan pemeriksaan. Selain itu, mereka perlu memastikan kejadian serupa tidak berulang.
Sebab, warga tidak hanya membutuhkan air bersih hari ini.
Mereka membutuhkan jaminan bahwa sumur mereka tetap aman besok.
Ini bukan sekadar cerita tentang air yang berubah keruh. Ini cerita tentang bagaimana sebuah program besar berhadapan dengan lingkungan kecil yang dihuni warga.
Di situlah kualitas tata kelola diuji.
Program MBG tidak cukup hanya menghadirkan makanan bergizi di atas meja. Program itu juga harus memastikan proses di belakangnya tidak menciptakan masalah baru.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program publik bukan hanya apa yang diterima warga.
Ukuran lainnya adalah apa yang tidak harus mereka tanggung setelahnya.
Jika warga harus mencari air bersih karena limbah dari dapur MBG, maka ada pertanyaan yang tidak boleh dihindari:
Siapa yang memastikan niat baik sebuah program tidak berubah menjadi masalah baru bagi warga? @dimas








