Harga bahan patri dan emas terus naik. Anwar, tukang patri emas di Jalan Radjiman, Surakarta, bertahan selama 29 tahun meski pelanggan berkurang akibat ekonomi lesu.
Tabooo.id – Kilau emas memang selalu menarik perhatian. Namun, hanya sedikit orang yang melihat perjuangan di balik perhiasan yang kembali utuh. Anwar, tukang patri emas di Jalan Radjiman, Kecamatan Gajahan, Surakarta, terus mempertahankan usahanya selama 29 tahun meski harga bahan naik dan kondisi ekonomi belum pulih.
Belajar dari Toko Emas, Lalu Membuka Usaha Sendiri
Anwar memulai karier sebagai pematri di salah satu toko emas di Surakarta. Pengalaman itu memberinya keterampilan sekaligus keberanian untuk membuka usaha sendiri di kawasan Pasar Klewer.
Selama hampir tiga dekade, ia melayani pelanggan yang ingin memperbaiki cincin, gelang, kalung, hingga liontin yang rusak. Ketelitian menjadi modal utama karena setiap sambungan harus kuat sekaligus tetap rapi.
Harga Bahan Terus Melonjak
Saat ini, Anwar menghadapi tantangan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya. Harga bahan pendukung terus meningkat sehingga biaya produksi ikut membengkak.
Ia mencontohkan harga potasium yang menjadi salah satu bahan penting dalam proses patri.
“Potasium dulu 600 perak, sekarang sudah 1.200 rupiah. Ini juga kerasa,” kata Anwar.
Kenaikan harga itu langsung memengaruhi biaya operasional. Sementara itu, jumlah pelanggan justru menurun sehingga keuntungan ikut menipis.
Harga Emas Makin Sulit Dijangkau
Lonjakan harga emas juga menambah beban pelaku usaha kecil. Anwar menjelaskan proses patri membutuhkan emas murni agar hasil sambungan tetap kuat dan warnanya menyatu dengan perhiasan pelanggan.
Namun, harga emas saat ini membuat modal usaha semakin berat.
“Sekarang satu gram tiga juta. Kalau beli segitu ndak mampu. Untuk mengakalinya ya beli yang 100 miligram,” ujarnya.
Menurut Anwar, cara itu menjadi pilihan agar usahanya tetap berjalan tanpa mengeluarkan modal terlalu besar.
Ekonomi Lesu Membuat Pelanggan Berkurang
Anwar menilai kondisi ekonomi yang belum stabil ikut memukul usaha kecil seperti miliknya. Banyak pelanggan memilih menunda perbaikan perhiasan karena harus lebih dulu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia merasakan perubahan itu hampir setiap hari.
“Bagi orang kecil seperti kami kondisi sekarang memang sulit. Ekonomi tidak menentu. Semua usaha terdampak dan sepi,” ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap membuka kios setiap hari. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga kepercayaan pelanggan yang sudah datang selama puluhan tahun.
Menjaga Harapan di Tengah Ketidakpastian
Anwar berharap kondisi ekonomi segera membaik. Ia ingin pelaku usaha kecil kembali bekerja dengan tenang dan masyarakat memiliki daya beli yang lebih baik.
“Harapannya semua bisa kembali normal dan orang kecil kembali bisa berusaha,” tuturnya.
Di balik meja kerja sederhana di Jalan Radjiman, Anwar terus menyambung perhiasan yang patah. Di saat yang sama, ia juga berusaha menyambung harapan agar usahanya tetap bertahan di tengah harga emas yang terus melambung dan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. @eko








