Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Revisi Garis Kemiskinan, Membaca Ulang Realitas

by dimas
Agustus 6, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Pemerintah mengkaji revisi garis kemiskinan agar lebih sesuai realitas. Langkah ini berpotensi mengubah potret kemiskinan Indonesia.

Tabooo.id – Seorang buruh membawa pulang Rp800 ribu setiap bulan. Ia membayar kontrakan, membeli beras, menyekolahkan anak, sekaligus menyiapkan biaya jika ada anggota keluarga yang sakit. Hidupnya jauh dari kata sejahtera. Namun selama ini negara belum tentu menggolongkannya sebagai penduduk miskin.

Paradoks itulah yang kini mendorong pemerintah mengubah cara menghitung kemiskinan.

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengusulkan revisi metodologi garis kemiskinan agar Indonesia memakai ukuran yang lebih mendekati standar internasional. Presiden pun sudah memberikan persetujuan agar proses reformasi itu berjalan.

Usulan tersebut memang berpotensi membuat angka kemiskinan melonjak. Namun lonjakan itu bukan berarti masyarakat tiba-tiba jatuh miskin. Pemerintah hanya akan melihat kenyataan dengan ukuran yang lebih jujur.

Kemiskinan Tidak Berubah, Cara Menghitungnya yang Akan Berubah

Selama bertahun-tahun, Badan Pusat Statistik (BPS) memakai garis kemiskinan sebesar Rp669.235 per kapita per bulan atau sekitar Rp3,09 juta per rumah tangga setiap bulan.

Ini Belum Selesai

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

BPS menghitung angka itu berdasarkan kebutuhan makanan setara 2.100 kalori per hari dan kebutuhan dasar lain, seperti perumahan, pendidikan, kesehatan, serta sandang.

Metode tersebut selama ini menjadi acuan nasional. Namun banyak ekonom menilai ukuran itu sudah tidak lagi mencerminkan kondisi riil masyarakat.

Anggota DEN Arief Ansory mengatakan Indonesia seharusnya memakai standar yang sesuai dengan status negara berpendapatan menengah. Menurutnya, garis kemiskinan ideal berada pada kisaran Rp750 ribu hingga Rp1 juta per kapita per bulan.

Jika pemerintah memakai standar itu, jumlah penduduk miskin kemungkinan meningkat lebih dari dua kali lipat.

Arief menilai metode yang sekarang justru menyesatkan karena gagal menangkap kelompok masyarakat yang sebenarnya hidup sangat rentan.

Angka Turun, Kesulitan Belum Hilang

BPS memang mencatat angka kemiskinan turun menjadi 22,93 juta jiwa atau 8,07 persen pada Maret 2026.

Sekilas, data itu menunjukkan kondisi masyarakat membaik.

Namun data lain justru memperlihatkan cerita berbeda.

Rasio Gini naik menjadi 0,368. Angka itu menunjukkan ketimpangan ekonomi semakin melebar.

Di wilayah perdesaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan mencapai 1,744, sedangkan wilayah perkotaan hanya 0,951.

Data tersebut memperlihatkan satu kenyataan. Sebagian masyarakat berhasil keluar dari garis kemiskinan, tetapi kelompok yang paling miskin justru semakin tertinggal.

Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menilai pertumbuhan ekonomi belum mengalir secara merata.

Menurutnya, kelompok berpendapatan tinggi masih menikmati sebagian besar manfaat pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, masyarakat bawah justru menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat.

Ketika Statistik Menjadi Ilusi

Selama ini pemerintah sering memakai angka kemiskinan sebagai ukuran keberhasilan pembangunan.

Semakin rendah angkanya, semakin besar pula klaim keberhasilan yang muncul.

Masalahnya, ukuran yang terlalu rendah justru membuat jutaan keluarga rentan menghilang dari radar kebijakan.

Mereka memang tidak masuk kategori miskin. Namun mereka juga belum benar-benar mampu memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Satu musibah, kehilangan pekerjaan, atau kenaikan harga pangan dapat dengan cepat mendorong mereka jatuh ke jurang kemiskinan.

Karena itu, perubahan metodologi bukan sekadar urusan statistik.

Perubahan itu menentukan siapa yang berhak menerima perlindungan sosial dan siapa yang selama ini luput dari perhatian negara.

BPS Memilih Berjalan Hati-Hati

BPS belum langsung mengubah metodologi tersebut.

Lembaga itu masih menyusun berbagai kajian bersama DEN, Bappenas, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, akademisi, Forum Masyarakat Statistik, dan mitra internasional.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud menegaskan bahwa setiap perubahan harus memiliki dasar ilmiah yang kuat. BPS juga ingin menjaga kesinambungan data agar masyarakat tetap bisa membandingkan kondisi kemiskinan dari waktu ke waktu.

Selama kajian belum selesai, BPS tetap memakai metode yang berlaku saat ini.

Ini Bukan Sekadar Revisi Angka

Perdebatan mengenai garis kemiskinan sebenarnya bukan sekadar soal statistik.

Perdebatan itu menyangkut cara negara memandang warganya.

Jika garis kemiskinan terlalu rendah, negara memang bisa menunjukkan angka kemiskinan yang lebih kecil. Namun jutaan keluarga yang hidup di batas bawah tetap menghadapi kesulitan yang sama.

Kemiskinan tidak hanya berbicara tentang cukup makan.

Kemiskinan juga menyangkut akses pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan yang layak, rumah yang aman, dan kesempatan memperbaiki kehidupan.

Negara Sedang Menguji Keberanian Mengakui Kenyataan

Revisi garis kemiskinan akan membuat Indonesia tampak lebih miskin di atas kertas.

Namun kondisi masyarakat sebenarnya tidak berubah hanya karena angka statistik berubah.

Yang berubah adalah keberanian negara mengakui kenyataan.

Sebab persoalan terbesar bukan ketika angka kemiskinan naik.

Persoalan terbesar muncul ketika jutaan orang tetap hidup dalam kemiskinan, tetapi negara gagal melihat mereka. @dimas

Tags: Badan Pusat StatistikGaris KemiskinanKebijakan PublikKemiskinanKetimpangan EkonomiRevisi Garis Kemiskinan

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

Karhutla Kalimantan Berulang: Kenapa Selalu Datang Setelah Api Membesar?

by teguh
Agustus 21, 2026

Musim kering belum selesai, tetapi asap kembali menjadi cerita Karhutla Kalimantan. Per 19/08/2026, data BNPB yang disampaikan Wakil Ketua Komisi...

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

Dian 19 Tahun: Prestasi Akademik IP 4.0 Tak Menjamin Kuliah Aman

by teguh
Agustus 16, 2026

Prestasi akademik IP 4.0 tak menjamin kuliah aman. Biaya kuliah tetap menjadi tembok bagi mahasiswa dari keluarga rentan. Ada mahasiswa...

Dian Punya IP 4.0, Tapi Sistem Bilang Keluarganya Tak Cukup Miskin

Dian Punya IP 4.0, Tapi Sistem Bilang Keluarganya Tak Cukup Miskin

by teguh
Agustus 16, 2026

Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dian 19 tahun itu meraih IP 4.0, pada semester pertama. Semester berikutnya, ia kembali mencatat...

Next Post
Harga Beras Naik Lagi. Dompet Disuruh Adaptasi, Perut Disuruh Sabar

Harga Beras Naik Lagi. Dompet Disuruh Adaptasi, Perut Disuruh Sabar

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id