Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sekolah Roboh, Orang Tua Jadi Tukang. Negara Datang Setelah Timeline Ramai.

by teguh
Agustus 1, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Ruang kelas di SD Negeri Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, sudah lama rusak. Nam karena sekolah roboh, bantuan baru benar-benar bergerak setelah foto sekolah itu memenuhi media sosial. Di negeri yang menjunjung gotong royong, ironi ini kembali muncul algoritma tampaknya lebih cepat bekerja dibanding birokrasi.

Tabooo.id – Kalau begitu, apakah jalan menuju perbaikan fasilitas publik seperti sekolah roboh kini harus melewati timeline terlebih dahulu, Belasan orang tua murid berdiri berjajar membentuk rantai manusia pada Senin, 27/07/2026.

Mereka saling mengoper genteng dari atas atap menuju halaman sekolah. Debu beterbangan. Mata mereka perih. Hidung mereka sesekali bersin karena serpihan material bangunan.

Tak seorang pun menghentikan pekerjaan Mereka bukan pekerja proyek Bukan pula kontraktor yang menerima upah.

Yang mengangkat genteng satu per satu adalah para ayah dan wali murid yang hanya ingin anak-anaknya kembali belajar di ruang kelas yang aman.

Pemandangan itu menghangatkan hati. Namun pada saat yang sama, ia menyisakan pertanyaan yang jauh lebih dingin.

Ini Belum Selesai

Pengungsi Gempa NTT Makan Nasi Campur Kopi, Negara ke Mana?

Listyo Sigit Mau Pensiun, Tapi Siap Demo jika Desk Buruh Mandek?

Mengapa warga harus lebih dulu memperbaiki sekolah sebelum negara benar-benar hadir?

Viral Lebih Cepat daripada Jalur Resmi

Sekolah roboh itu sebenarnya sudah lama dan mengalami kerusakan berat. Laporan sudah disampaikan berulang kali. Kondisi bangunan terus memburuk tanpa kepastian.

Namun, perhatian baru benar-benar datang setelah foto siswa yang menikmati Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan latar belakang ruang kelas roboh menyebar luas di media sosial.

Dalam hitungan jam, foto tersebut memicu perdebatan nasional. Publik tidak mempersoalkan program MBG.

Publik justru mempertanyakan ironi yang terpampang jelas di depan mata. Anak-anak memperoleh makanan bergizi. Tetapi mereka belajar di bangunan yang mengancam keselamatan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan bahwa kerusakan sekolah tidak berkaitan dengan Program MBG.

“Dulu enggak ada MBG, kan sekolah itu rusak bukan setelah ada MBG. Betul enggak? Kita objektif saja, sekolah itu memang rusak sebelum ada program MBG. Ini sekarang oleh Presiden diperbaiki,” kata Sudaryono saat konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, 28/07/2026.

Ia juga meminta masyarakat menggunakan jalur resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah apabila menemukan sekolah rusak.

“Kalau ada sekolah rusak yang kau temukan, itu cukup lapor, ada portalnya di Dikdasmen pasti diperbaiki,” ujar Sudaryono, 28/07/2026.

Secara prosedural, imbauan itu memang masuk akal. Namun publik justru mempertanyakan efektivitas prosedur tersebut.

Kalau portal pelaporan memang bekerja dengan baik, mengapa sekolah ini baru memperoleh perhatian setelah fotonya viral?

Gotong Royong Tidak Boleh Menggantikan Tugas Negara

Bangsa ini bangga dengan budaya gotong royong dan Semangat itu memang layak dirawat. Namun pemerintah tidak boleh menjadikannya alasan untuk mengurangi tanggung jawab konstitusional.

Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak. Hak itu tidak hanya berbicara soal guru atau kurikulum, tetapi juga ruang belajar yang aman.

Karena itu, masyarakat patut mengapresiasi para orang tua yang rela mengangkat genteng demi anak-anak mereka.

Pada saat yang sama, pemerintah juga perlu mengevaluasi mengapa warga harus mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban negara.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Sunyoto Usman, dalam berbagai kajiannya mengenai modal sosial, mengingatkan bahwa gotong royong memang memperkuat masyarakat. Namun negara tetap harus menjalankan fungsi pelayanan publik dan tidak boleh menyerahkan kewajiban tersebut kepada solidaritas warga.

Pandangan serupa juga pernah disampaikan Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Agus Pramusinto. Ia menilai tata kelola pemerintahan yang baik harus mampu merespons persoalan publik sebelum berkembang menjadi krisis kepercayaan. Dalam berbagai forum akademik, Agus menekankan pentingnya birokrasi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menunggu tekanan publik.

Ketika Algoritma Mengalahkan Administrasi

Kasus SD Negeri Tanggirejo bukan sekadar cerita tentang sekolah yang roboh. Kasus ini memperlihatkan pola yang semakin sering terjadi.

Warga melapor melalui jalur resmi tapi Birokrasi bergerak lambat. Media sosial kemudian mengambil alih panggung dan Foto viral menarik perhatian.

Barulah keputusan bergerak lebih cepat. Pelan-pelan masyarakat belajar bahwa kamera ponsel sering kali lebih ampuh daripada berkas laporan.

Ironisnya, bukan warga yang menciptakan pola itu tapi Pengalamanlah yang mengajarkan mereka. Ketika laporan tidak segera menghasilkan perubahan, dokumentasi menjadi senjata terakhir.

Media sosial akhirnya berfungsi sebagai alarm darurat. Algoritma bahkan mampu mengubah sebuah unggahan menjadi prioritas birokrasi.

Fenomena itu seharusnya membuat pemerintah gelisah. Pelayanan publik semestinya bergerak karena kebutuhan masyarakat, bukan karena jumlah tayangan di media sosial.

Ketika Negara Baru Mendengar Sekolah Roboh Setelah Timeline Bersuara

Yang paling mengkhawatirkan bukanlah bangunan sekolah yang roboh.

Yang lebih berbahaya adalah lahirnya keyakinan baru di tengah masyarakat bahwa solusi tercepat bukan lagi mengisi formulir pengaduan, melainkan membuat konten yang berpotensi viral.

Kalau pola ini terus berulang, birokrasi perlahan kehilangan fungsi utamanya. Negara tidak lagi tampak bergerak berdasarkan tingkat kebutuhan.

Sebaliknya, perhatian justru muncul setelah algoritma memberi panggung dan akhirnya Sekolah yang viral memperoleh bantuan.

Lalu bagaimana nasib sekolah lain yang sama rusaknya tetapi tidak pernah masuk beranda media sosial?

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah like dan komentar. Sebab negara seharusnya hadir lebih dulu daripada kamera.

Ketika Viral Menjadi SOP Pelayanan Publik

Kalau semua kerusakan harus lebih dulu viral agar diperbaiki, persoalannya bukan lagi soal sekolah yang roboh. Persoalannya adalah sistem yang baru bergerak setelah mendapat sorotan publik. Di titik itu, media sosial berubah dari ruang berbagi menjadi pintu masuk pelayanan negara. Pertanyaannya, bagaimana nasib sekolah lain yang rusak tetapi tidak pernah masuk beranda?. @teguh


Tags: Gotong RoyongGrobogankritik sosialMBGPelayanan PublikPendidikan IndonesiaSDN TanggirejoSekolah RobohSudaryonoViral Dulu Baru Gerak

Kamu Melewatkan Ini

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan buku. Selama sekitar 30 menit anak-anak Najaten melawan jarak,...

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

30 Menit Melawan Jarak: Ketika Akses Buku Belum Merata di Sekolah Pelosok

by teguh
Agustus 21, 2026

Pagi di SDN 2 Najaten, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, dimulai dengan aktivitas sederhana. Dibalik akses buku belum merata Sekitar 30...

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

Masuk Kampus Ada Jalurnya. Masuk KPK Juga Ternyata Ada Jalurnya

by teguh
Agustus 21, 2026

Masuk kampus punya jalur. Ada jalur prestasi, jalur tes, sampai jalur mandiri. Namun, Kamis, 20/08/2026, publik melihat jalur lain di...

Next Post
Menjadi Jurnalis Ala Mas Marco

Menjadi Jurnalis Ala Mas Marco Kartodikromo

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id